Perdarahan Otak seperti Tukul Arwana Kebanyakan Dialami Pasien Hipertensi

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 24 Sep 2021, 13:14 WIB
Diperbarui 24 Sep 2021, 13:14 WIB
Ilustrasi hipertensi
Perbesar
Ilustrasi hipertensi risiko perdarahan otak atau stroke perdarahan. (Gambar oleh Ewa Urban dari Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono, Jakarta, Dr Mursyid Bustami SpS (K) KIC menjelaskan bahwa 20 persen dari dari kasus stroke adalah stroke perdarahan atau perdarahan otak. Sedang, stroke lainnya merupakan penyumbatan pembuluh darah.

Mursyid, menambahkan, siapa pun bisa mengalami stroke perdarahan atau perdarahan otak seperti yang tengah dialami presenter kondang, Tukul Arwana, dengan faktor risiko tersendiri.

“Terutama kalau stroke perdarahan adalah penderita hipertensi (tekanan darah tinggi),” katanya dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 24 September 2021.

Kondisi perdarahan otak atau stroke perdarahan dapat terjadi ketika titik lemah pembuluh darah tidak kuat menahan tekanan darah yang tinggi sehingga terjadi kebocoran.

Keluarnya darah dari pembuluh darah, kata Mursyid, yang kemudian menimbulkan masalah pada otak.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sebagian Perlu Tindakan Operasi

Mursyid, menambahkan, sebagian pasien yang mengalami perdarahan otak membutuhkan tindakan operasi.

“Operasi dilakukan untuk mengambil atau mengevakuasi bekuan darah yang ada di otak untuk mengurangi tekanan terhadap bagian otak yang ada di sekitar perdarahan," ujarnya.

Setelah itu, ada pengobatan lain untuk mengembalikan fungsi otak.

Dia juga menyampaikan bahwa 70 persen pasien dengan perdarahan otak mengeluh gejala sakit kepala secara tiba-tiba. Gejala lain yang timbul dapat berupa gangguan saraf, kelemahan tubuh, dan gejala lain seperti stroke biasa.

“Apa antisipasinya? Tentunya kita harus menghindari faktor risiko. Jadi stroke itu tidak sekonyong-konyong datang tanpa faktor yang mendasari," katanya.

Faktor risiko stroke perdarahan ada yang bisa dicegah dan tak bisa dicegah. Yang tak bisa dicegah contohnya bertambahnya usia. Sedang, yang bisa dicegah adalah penyakit hipertensi, diabetes, gangguan pembekuan darah, gangguan irama jantung, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, dan gaya hidup tak sehat.

“Jadi untuk mengurangi kemungkinan terkena stroke ya kendalikan lah faktor risiko. Berobat dengan teratur, batasi makanan kurang sehat, hindari merokok," ujarya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tak Ada Kaitannya dengan Efek Vaksin COVID-19

Baru-baru ini, presenter Tukul Arwana mengalami perdarahan otak. Kejadian ini sontak menggiring pemikiran sebagian orang pada vaksinasi COVID-19 yang dianggap menjadi penyebab perdarahan otak tersebut.

Menanggapi hal ini, Mursyid mengklarifikasi bahwa tidak ada kaitan antara perdarahan otak dengan efek vaksin COVID-19.

“Tidak ada hubungan antara stroke perdarahan dengan vaksin COVID-19 apapun merek vaksinnya. Jadi belum ada yang mengatakan bahwa ada risiko terjadinya stroke perdarahan akibat vaksin,” kata Mursyid.

 “Secara ilmiah pun kami sudah melihat tidak ada hubungan antara stroke perdarahan dengan vaksin COVID-19,” pungkasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Patuh 3M Saat Donor Darah

Infografis Patuh 3M Saat Donor Darah. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Patuh 3M Saat Donor Darah. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya