Ingin Konsultasi ke Psikolog tapi Ragu, Ini Saran dari Pakar

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 04 Agu 2021, 20:00 WIB
Diperbarui 04 Agu 2021, 20:00 WIB
Ilustrasi depresi
Perbesar
Ilustrasi depresi. (Ade Nasihudin/Liputan6.com).

Liputan6.com, Jakarta Jumlah psikolog klinis yang masih sedikit menjadi salah satu alasan bagi orang dengan gangguan kesehatan mental untuk konsultasi.

Menurut Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), jumlah psikolog klinis yang ada saat ini adalah 3.232.

Jumlah ini bisa dibilang sedikit apabila dibandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki 106.500 psikolog. Apalagi jumlah tersebut terpusat di Pulau Jawa.

Di sisi lain, bagi beberapa orang, pergi ke psikolog adalah keputusan yang besar. Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa aku terlalu berlebihan, ya?” dan “Bagaimana kalau psikolog-nya tidak membantuku?”

Menurut psikolog dari aplikasi konseling daring Riliv, Della Nova Nusantara, ketika seseorang mulai ragu dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, maka yang perlu dilakukan adalah mencoba.

“Yakinlah bahwa mencoba untuk pergi ke psikologitu lebih baik daripada tidak sama sekali,” kata Della dalam keterangan pers dikutip Selasa (3/8/2021).

Simak Video Berikut Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perihal Biaya

Kendala lain yang dapat membuat seseorang ragu untuk konsultasi dengan psikolog adalah terkait masalah biaya.

Pada umumnya, biaya konsultasi dengan psikolog sebesar Rp150.000. Tidak semua orang dapat mengeluarkan uang sebesar itu.

Namun, Della menerangkan bahwa Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan bisa memberikan akses psikolog di rumah sakit terdekat.

“Jika kamu memiliki asuransi atau BPJS kesehatan, kamu bisa mencoba mencari tahu apakah rumah sakit terdekat kamu bisa menawarkan layanan psikolog yang ditanggung asuransi.”

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Stigma Sosial

Dua alasan di atas diikuti pula oleh stigma sosial dalam masyarakat yang menambah keraguan seseorang untuk pergi ke psikolog.

Sejak lama, masyarakat Indonesia menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang tabu. Kebanyakan dari mereka tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain sebagai seseorang dengan perilaku yang menyimpang dari norma sosial, kata Della.

“Gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu, bukan pula aib, sama seperti saat fisik kita kalau sedang terluka, capek, kadang butuh istirahat, butuh penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya saat itu mungkin istirahat mungkin olahraga,” tambahnya.

Seperti fisik, mental juga butuh penanganan yang tepat untuk mengobatinya dan menjaganya tetap sehat.

Meski mulai berkurang di kalangan milenial dan Gen Z, stigma sosial masih dapat ditemukan. Pasalnya, melepaskan pemikiran kolektif yang telah tertanam sejak lama itu bukan merupakan hal yang mudah.

Menemukan psikolog yang cocok memang butuh waktu, lanjut Della. Namun, setidaknya orang yang melakukan konsultasi dapat mengetahui gangguan kesehatan mental yang ada pada dirinya sehingga dapat segera ditangani, tutupnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi COVID-19

Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 4 Tips Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya