Lebih Rentan Kena COVID-19, Orang dengan HIV Sulit dapat Vaksin dan Perawatan di RS

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 24 Jul 2021, 09:49 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 09:49 WIB
Ilustrasi HIV/Aids (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Perbesar
Ilustrasi HIV/Aids (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Orang dengan HIV lebih rentan terkena COVID-19 ketimbang orang tanpa penyakit tersebut. Namun, ketimpangan yang semakin luas mencegah mereka untuk mengakses layanan HIV dan vaksinasi COVID-19.

Hal ini tertuang dalam laporan Global AIDS Update 2021 UNAIDS yang diterbitkan minggu lalu. Selain itu, laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa orang dengan HIV lebih rentan terhadap penyakit COVID-19 yang parah dan kematian akibat COVID-19.

Data surveilans di 37 negara menemukan bahwa hampir seperempat dari orang dengan HIV yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, meninggal dunia.

Meski lebih rentan, kurang dari 3 persen orang dengan HIV di Afrika Sub-Sahara telah menerima setidaknya satu dosis dari vaksin COVID-19 pada Juli 2021. Afrika Sub-Sahara merupakan daerah yang memiliki jumlah orang dengan HIV tertinggi di dunia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Di Indonesia

Hasil survei cepat yang dilakukan oleh Jaringan Indonesia Positif (JIP) terkait vaksin COVID-19 bagi orang dengan HIV menemukan setidaknya 19 persen orang dengan HIV telah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis pertama.

Survei yang dilakukan pada Juni 2021 kepada 1.137 responden juga menemukan 30.3 persen telah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis kedua. Sementara, 50.7 lainnya belum dan tidak mendapatkan jadwal vaksin COVID-19.

Sebanyak 47.4 persen responden yang belum menerima vaksin COVID-19 khawatir karena memiliki riwayat penyakit penyerta. Sedang, 9.7 persen responden tidak menerima informasi jelas terkait pemberian vaksin COVID-19 dan 9.7 responden takut akan efek samping vaksin.

“Perlindungan dengan vaksin COVID-19 bagi orang dengan HIV sangat penting di masa yang sulit ini. Sayangnya, adanya keraguan, ketakutan serta misinformasi dari berbagai sumber, membuat banyak orang dengan HIV enggan melakukan vaksin,” kata Koordinator Nasional Jaringan Indonesia Positif, Meirinda Sebayang mengutip keterangan pers, Sabtu (24/7/2021).

Ia menambahkan, harus ada upaya lebih besar untuk memastikan orang dengan HIV, petugas kesehatan, dan semua masyarakat terlibat dalam program vaksin.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sulit dapat Perawatan

Selain memiliki tantangan dalam mendapat vaksin COVID-19, orang dengan HIV juga memiliki kesulitan dalam mendapat perawatan di rumah sakit.

Pada Juli 2021, JIP melakukan pengumpulan data melalui survei cepat terkait hal ini. Perolehan hasil sementara dari 155 orang dengan HIV yang pernah positif COVID 19 menyatakan 5 persen mendapatkan penolakan perawatan COVID-19 akibat status HIV.

Beberapa alasan penolakan termasuk:

-Perlunya menyertakan rujukan/ rekomendasi dari dokter perawatan HIV.

-Tidak tersedianya perawatan COVID-19 bagi orang dengan HIV.

-Tidak tersedianya kamar.

-Tidak adanya KTP.

Hasil survei JIP juga menunjukkan bahwa dari 155 responden, 30.3 persennya memilih melakukan isolasi mandiri di rumah tanpa pantauan tenaga medis dan 42 persen responden melakukan isolasi mandiri di rumah dengan pantauan tenaga medis. 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Meroketnya Harga Obat dan Asupan COVID-19

Infografis Meroketnya Harga Obat dan Asupan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Meroketnya Harga Obat dan Asupan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya