Dr Reisa: Testing dan Tracing Bisa Melindungi Anak Indonesia dari COVID-19

Oleh Fitri Syarifah pada 23 Jul 2021, 21:30 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 21:30 WIB
Reisa Broto Asmoro
Perbesar
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro menyatakan, data 18 Oktober dari 2,5 juta orang yang diperiksa, 86 persen negatif COVID-19 saat konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta, Senin (19/10/2020). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris)

Liputan6.com, Jakarta Pada Hari Anak Nasional 2021, anak-anak Indonesia dihadapkan pada situasi yang sulit akibat pandemi COVID-19 yang telah berjalan setahun lebih. Situasi lebih dari 80 juta anak Indonesia, tidak sedang baik-baik saja. Sekitar 60 juta anak-anak indonesia kehilangan masa indah di sekolah, sebagian bahkan tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh karena fasilitas tidak tersedia.

Banyak yang kehilangan kesempatan bermain dan mengenal alam terbuka. Di dunia maya pun, ancaman masih ada, masih banyak anak yang mengalami perundungan atau tindakan bully, diskriminasi, dan kekerasan verbal di media sosial.

“Tekanan dan beban mental saat menjalani pandemi pasti tidak mudah bagi anak-anak Indonesia, dan yang paling membuat sedih, beberapa dari anak Indonesia, kehilangan orangtua mereka yang tidak dapat diselamatkan, pada saat menderita COVID-19,” ujar dr. Reisa Broto Asmoro.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Duka cita

“Kami turut berduka cita atas kehilangan mereka, dan mendoakan yang terbaik, bagi mendiang ayah bunda yang mendahului kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesabaran bagi anak yang ditinggalkan. Justru pada masa pandemi, anak Indonesia harus makin kita lindungi,agar masa depan mereka, yaitu masa depan kita juga, jauh lebih baik,” harap dr. Reisa.

Penambahan kasus harian diharapkan bisa diturunkan. Kapasitas rumah sakit juga diupayakan maksimal untuk merawat pasien dengan gejala berat meskipun jumlahnya bertambah, dan angka kematian karena COVID-19 harus ditekan sampai serendah mungkin. Sejak pandemi dimulai pemerintah juga terus menguatkan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pentingnya tes

Reisa menjelaskan kembali pentingnya testing atau menguji seseorang positif atau negatif terhadap COVID-19 supaya pasien cepat dirawat dan disembuhkan, dan jangan sampai menulari orang lain. “Tidak semua orang memiliki kesehatan prima, misalnya orang lanjut usia yang sudah punyapenyakit menahun, apabila tanpa sengaja tertular oleh orang yang membawa virus, bisaberakibat fatal,” ujar dr. Reisa.

dr. Reisa menambahkan, “Tracing atau kegiatan melacak siapa saja yang dekat dengan pasien yang baru saja diketahui positif COVID-19, supaya kita tahu siapa saja yang tertular dan yang tidak."

“Treatment atau perawatan, bagi yang terkonfirmasi positif setelah melakukan testing dan tracing bisa segera kita periksa, untuk memutuskan apakahdisarankan isolasi mandiri, dirujuk ke isolasi terpusat punya pemerintah, atau bagi yang puny apenyakit peserta yang berbahaya, dirujuk segera di rumah sakit rujukan, agar dapat perawatanintensif,” katanya.

Saat ini sudah ada hampir 1000 rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia, dantempat tidur untuk pasien COVID-19 di Indonesia saat ini sudah hampir 125 ribu ruangan.“Upaya pemerintah ini semoga membuat pasien sembuh makin banyak, kemarin kasus sembuhkita 36.370, naik dari hari sebelumnya yang berjumlah 32.887,” tutup dr. Reisa

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Vaksinasi Nasional Berpacu dengan Serbuan Covid-19

Infografis Vaksinasi Nasional Berpacu dengan Serbuan Covid-19
Perbesar
Infografis Vaksinasi Nasional Berpacu dengan Serbuan Covid-19 (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya