Melihat Peluang dan Tantangan Operasi Kanker Hati di Indonesia

Oleh Gilar Ramdhani pada 23 Jul 2021, 15:07 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 15:11 WIB
Melihat Peluang dan Tantangan Operasi Kanker Hati di Indonesia
Perbesar
Ilustrasi organ hati manusia. (©Shutterstock)

Liputan6.com, Jakarta Kanker hati menjadi salah satu penyakit yang menakutkan bagi pasien dan keluarga. Terganggunya fungsi hati bisa berakibat fatal karena dapat menyebabkan kematian. Namun, bukan berarti penyakit kanker hati tidak bisa disembuhkan, karena tingkat kesembuhan sangat bergantung pada kondisi pasien, fungsi hati dan stadium kanker itu sendiri. Tak ketinggalan adalah metode pengobatan dan tindakan operasi yang dilakukan oleh dokter.

Dalam sebuah tulisan di hellosehat, dokter spesialis bedah, dr. Tjhang Supardjo, M. Surg, FCCS, Sp.B, FCSI, FInaCS, FICS menceritakan pernah menangani pasien kanker hati dengan kondisi tumor yang cukup besar. Ukuran hati di lobus kiri sangat kecil, sedangkan lobus kanan yang besar tengah ditumbuhi oleh kanker.

Menurut keluarga pasien, beberapa rumah sakit mengatakan sudah tidak ada harapan sembuh bagi pasien. Pasien disarankan untuk menjalani terapi paliatif karena kondisinya dinilai sudah tidak memungkinkan menjalani operasi.

"Setelah analisa secara detail, kami menilai bahwa operasi tetap bisa dilakukan hingga mengangkat bersih tumor di harinya," 

Tantangan operasi tersebut kata dokter adalah ada pada penentuan batas tumor dan jalur potongan yang harus ditentukan dengan sangat presisi agar lebih banyak jaringan hati yang sehat dapat dipertahankan.

Operasi kanker hati yang berlangsung selama beberapa jam tersebut akhirnya sukses dan pasien lansia menjalani 6 hari masa pemulihan tanpa mengalami komplikasi. Bagi para pejuang kanker hati atau keluarga, cerita di atas dapat membawa harapan bahwa pulih dari kanker hati bukan hal mustahil.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tindakan Operasi pada Kanker Hati

Tindakan Operasi pada Kanker Hati
Perbesar
Ilustrasi organ hati manusia. (©Shutterstock)

dr. Tjhang Supardjo mengatakan Pengobatan kanker hati bisa dilakukan dalam dua cara yakni yang bersifat kuratif dan paliatif. 

Perawatan paliatif dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, baik sebagai pendamping penanganan kuratif atau sepenuhnya paliatif ketika pasien dinyatakan sudah tidak bisa disembuhkan.

"Dalam penanganan kuratif, operasi atau reseksi tumor menjadi pilihan utama untuk dilakukan selama kondisi umum pasien dan kondisi tumornya memungkinakan untuk menjalani operasi," jelas dr. Tjhang Supardjo seperti dikutip dari hello sehat.

Sedangkan transplantasi, menurut dr. Tjhang Supardjo bisa menjadi pilihan selanjutnya ketika operasi ataupun cara lain dinilai tidak efektif untuk menyembuhkan kondisi si pasien. 

"Biasanya transplantasi atau cangkok hati dilakukan jika kondisi fungsi hati pasien tidak baik ataupun disertai sirosis hati kriteria sedang-berat. Cangkok hati juga baru bisa dilakukan jika pasien memenuhi kriteria transplantasi hati berdasarkan pedoman Milan criteria, UCSF criteria, ataupun Hangzhou criteria," ujarmya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pertimbangan Operasi Kanker Hati atau Reseksi Hati

Laparoskopi (Dokumen dr. Tjhang Supardjo)
Perbesar
Laparoskopi (Dokumen dr. Tjhang Supardjo).

Dalam dunia medis, kanker hati adalah tumor atau benjolan pada organ hati yang bersifat ganas. Sedangkan reseksi hati adalah operasi pengangkatan tumor tersebut dari organ hati.

dr. Tjhang Supardjo yang berpraktek di OMNI Hospitals Alam Sutera ini menyebutkan reseksi hati menjadi pilihan utama pengobatan yang bersifat kuratif bagi pasien kanker hati.

"Pada pasien kanker hati stadium awal, operasi pengangkatan tumor memberi peluang terbaik bagi pasien untuk sembuh. Setelah tumor diangkat, hati secara alami memiliki kemampuan regenerasi (tumbuh kembali) dari bagian hati sehat yang tersisa,"

Secara teori, untuk bisa menjalani operasi, pasien masih memiliki bagian hati sehat yang dianggap cukup untuk hidup. Minimal adalah 30% sisa hati yang normal. Khusus pada pasien kanker hati yang fatty liver atau sirosis, maka minimal hati normal tersisa 40% atau lebih.

Bila sisa hati yang sehat dinilai tidak cukup dan juga kanker telah menyebar ke organ lain, maka pasien kanker hati bisa jadi tidak memenuhi syarat untuk melakukan operasi. Bagi pasien-pasien yang tidak memenuhi kriteria untuk reseksi hari akan dievaluasi oleh tim dokter dari berbagai multidisiplin untuk menentukan terapi lain yang sesuai.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pentingnya Strategi Tim Dokter

Laparoskopi (Dokumen dr. Tjhang Supardjo)
Perbesar
Laparoskopi (Dokumen dr. Tjhang Supardjo).

Namun seiring berkembangnya teknologi dan pengetahuan, dr. Tjhang Supardjo menjelaskan bahwa kriteria pasien yang memenuhi syarat operasi bisa diperluas tergantung dari strategi tim dokter yang menanganinya.

dr. Tjhang Supardjo mencontohkan pada pasien yang memiliki tumor hati berukuran besar, perhitungan volume hati menjadi tantangan tersendiri. 

"Analisa yang detail dari tim dokter, akurasi, serta persiapan pasien dan alat penunjang sangat menentukan keberhasilan operasi," kata dr. Tjhang Supardjo.

Dokter harus menghitung besar tumor, batas sayatan, dan volume hati yang bisa tersisa dengan lebih presisi. Perhitungan volume sisa hati yang sehat dan ukuran tumor dilihat secara radiologis melalui CT Scan atau MRI dengan angiografi. 

"Kami juga membutuhkan USG intraoperatif untuk menentukan batas reseksi dan jalur potongan dengan pasti. Dengan keakuratan dalam menentukan batas dan jalur potongan, jaringan liver sehat yang dapat dipertahankan bisa lebih banyak," jelasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tantangan Penanganan Kanker Hati di Indonesia

Ilustrasi organ hati manusia
Perbesar
Ilustrasi organ hati manusia. (©Shutterstock)

dr. Tjhang Supardjo menyebutkan Indonesia sudah memiliki kemampuan dan teknologi modern untuk penanganan operasi kanker hati atau reseksi hati. Terdapat alat-alat berteknologi tinggi seperti CUSA (cavitron ultrasonic surgical aspirator) untuk memotong jaringan hati tanpa merusak pembuluh darah dan jaringan sehat disekitarnya.

Dengan alat tersebut, kata dr. Tjhang Supardjo, operasi pemotongan tumor kata  bisa berjalan dengan sedikit pendarahan (minimal bleeding) karena tidak merusak pembuluh darah. Pada beberapa kasus, operasi juga bisa dikerjakan dengan teknik laparoskopi atau bedah dengan teknik minimal invasif.

Baik dalam hal operasi maupun terapi paliatif, Indonesia menurut dr. Tjhang Supardjo juga sudah sebanding dengan negara maju. Bahkan tidak jarang juga ada kasus-kasus pasien yang kembali ke Indonesia setelah tidak berhasil ditangani di negara lain, malah berhasil kita tangani dengan baik.

Tantangan penanganan kanker hati di Indonesia, menurut dr. Tjhang Supardjo adalah banyak pasien datang ke dokter atau rumah sakit dengan kondisi kanker stadium lanjut sehingga sulit disembuhkan. Padahal idealnya penyakit kanker ditemukan atau didiagnosa sejak dini sehingga bisa ditangani secara cepat dan terapi tepat.

"Pada kasus yang sering saya dapati, pasien kurang sadar terhadap kondisi kesehatannya. Tidak sedikit yang menganggap remeh keluhan-keluhan ringan seperti kembung atau sakit perut ringan yang sering hilang timbul," ujar dr. Tjhang Supardjo.

Secara statistik, 30% pasien kanker hati yang datang masih memenuhi kriteria untuk dilakukan operasi. Sisanya adalah pasien stadium lanjut dan sudah tidak dapat menjalani operasi sehingga sepenuhnya mendapat pengobatan paliatif. Ini adalah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah kesehatan yang mengancam jiwa, melalui pencegahan dan tindakan untuk mengurangi nyeri, masalah fisik, sosial, dan spiritual yang dihadapi pasien selama pengobatan.

Dr Tjhang Supardjo
Perbesar
Dr Tjhang Supardjo, M. Surg, FCCS, Sp.B, FCSI, FInaCS, FICS dari RS Omni Alam Sutera/Istimewa.

Tantangan lain dalam  penanganan kanker hati di Indonesia, menurut dr. Tjhang Supardjo adalah masih terbatasnya tenaga ahli di bidang bedah dan reseksi hati.

Untuk konsultasi seputar penyakit hati dan penanganan kanker hati, serta organ lain seperti empedu, limpa dan pankreas, Anda dapat mengunjungi Dr. Tjhang Supardjo, M. Surg, FCCS, Sp.B, FCSI, FInaCS, FICS yang berpraktek di OMNI Hospitals Alam Sutera setiap Senin, Rabu & Jumat:  09.00 - 12.00 WIB dan hari Selasa & Rabu dengan perjanjian.

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lengkap, hubungi call center 2977 9999 | 1 500 108.

 

(*)

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya