Imunitas Ibu Hamil Turun Drastis, Dokter Imbau Jangan Ragu Vaksinasi COVID-19

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 24 Jul 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 11:00 WIB
Kehamilan dan COVID-19
Perbesar
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Caterina

Liputan6.com, Jakarta Prof. Dr. dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K), MPH dari Departemen/KSM Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengimbau para ibu hamil agar tidak ragu vaksinasi COVID-19.

“Jangan takut vaksinasi, kita sangat memerhatikan mana ibu hamil yang boleh mana yang tidak. Kita sudah mendapat data dunia bahwa sangat kecil risiko atau tidak ada risiko bagi ibu hamil maupun janin,” kata Dwiana dalam seminar daring Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kamis (22/7/2021).

Ia menambahkan, ibu hamil memiliki kerentanan yang tinggi terhadap penularan COVID-19 karena daya tahan tubuhnya turun drastis ketimbang orang pada umumnya.

Masa inkubasi virus penyebab COVID-19 rata-rata 5-6 hari dan virus dapat berpindah dari satu orang ke orang lain hanya dalam hitungan detik.

“Pada saat muncul gejala, dalam 5 hari ke belakang orang tersebut sudah menulari. Karena itu, kita tidak bisa mempercayai siapa pun yang memang tidak serumah dengan kita.”

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Risiko Tinggi Gejala Berat

Dwiana juga menjelaskan, ibu hamil memiliki kemungkinan risiko yang lebih tinggi untuk memiliki COVID-19 dengan gejala berat dibandingkan dengan ibu yang tidak hamil.

“Pernah suatu pagi ada dua ibu hamil 7 dan 8 bulan datang ke rumah sakit dan tak sampai 2-3 jam bayinya tidak dapat diselamatkan kemudian ibunya pun meninggal karena kondisinya sudah sangat buruk.”

Risiko gejala parah lebih tinggi lagi jika ibu hamil memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Penyakit penyerta tak melulu terkait jantung, diabetes, dan darah tinggi tapi juga berupa obesitas, terlalu kurus, dan anemia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Efek Samping pada Janin

Efek samping yang cepat terlihat dari infeksi COVID-19 pada ibu hamil dan janin adalah persalinan prematur atau persalinan sebelum waktunya.

“Ini saja sudah meningkatkan risiko bayi lahir stunting, apalagi jika ibu sakit dan bayi mengalami kekurangan oksigen di dalam kandungan.”

Sejauh ini, belum ada bukti bahwa infeksi COVID-19 dari ibu dapat menular ke bayi melalui plasenta. Belum ada bukti pula terkait infeksi vertikal dari ibu ke bayi melalui asi jika proses menyusuinya dilakukan dengan baik, tutup Dwiana.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi
Perbesar
Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi. (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya