Pakar: Kasus COVID-19 di India Turun 8 Kali Lipat

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 25 Jun 2021, 10:28 WIB
Diperbarui 25 Jun 2021, 10:28 WIB
Pekerja di India Jalani Vaksinasi Corona Dalam Bus Penumpang
Perbesar
Petugas kesehatan menyuntik seorang pekerja dengan vaksin Covid-19 Covishield di dalam bus penumpang yang diubah menjadi pusat vaksinasi keliling di Kolkata, Kamis (3/6/2021). India telah menderita pandemi yang menghancurkan sejak April, dan baru-baru ini mulai mereda. (Dibyangshu SARKAR/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Mantan Direktur WHO Asia Tenggara 2018-2020 Prof Tjandra Yoga Aditama melaporkan bahwa kasus COVID-19 di India turun 8 kali lipat.

Lonjakan kasus di India memicu berbagai pembahasan di kalangan ahli. Namun, menurut Tjandra, orang juga perlu tahu bahwa India juga berhasil dengan amat cepat menurunkan kasusnya.

Kasus COVID-19 baru harian di India naik 40 kali dari 9.121 orang pada 15 Februari 2021 menjadi tertinggi 414.188 kasus sehari pada 6 Mei 2021. India lalu melakukan berbagai upaya maksimal sehingga angka kasus baru terus turun dengan tajam, data 22 Juni 2021 menunjukkan 50.848 kasus baru dalam sehari.

“Jadi turun delapan kali lipat dalam waktu sebulan saja. Mungkin baik kita lihat apa yang India lakukan, yang pada dasarnya merupakan kaidah umum mengendalikan peningkatan kasus yang tinggi,” kata Tjandra dalam tulisan yang dikirim kepada Health Liputan6.com, Jumat (25/6/20210.

Simak Video Berikut Ini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Yang Dilakukan India

Menurut Tjandra, hal yang dilakukan India pada dasarnya merupakan kaidah umum mengendalikan peningkatan kasus yang tinggi.

Hal pertama adalah, ketika kasus meningkat tajam di India maka beberapa daerah atau negara bagian di negara itu melakukan berbagai tingkat pembatasan sosial.

“Ada yang memperketat 3 M (yang di India disebut dengan 3 W, wear a mask, wash your hand, watch the distance), ada yang membatasi kegiatan dengan pemberlakuan jam malam, dan ada juga yang lockdown sebagian/parsial dan ada juga yang total penuh sampai beberapa waktu.”

Lalu, dianalisa dengan menghubungkan pola pergerakan penduduk pada saat pembatasan kegiatan hingga lockdown dengan penurunan jumlah kasus dari hari ke hari, dalam bentuk Movement Restriction and Mobility Change.

Pembatasan kegiatan sosial tidak dilakukan secara berkepanjangan. New Delhi misalnya, mulai menerapkan lockdown total pada 17 April 2021 dan ketika kasus mulai terkendali maka pada 31 Mei 2021 mulai dilakukan pelonggaran dalam bentuk unlocking process secara bertahap. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hal Kedua

Hal kedua yang dilakukan di India menurut Tjandra adalah meningkatkan jumlah tes secara bermakna.

Pada Februari 2021 sebelum ada peningkatan kasus maka jumlah tes yang dilakukan per hari pernah berkisar antara 700 dan 800 ribu. Begitu ada peningkatan kasus maka jumlah tes dinaikkan secara besar-besaran dan mencapai lebih dari 2 juta tes seharinya pada Mei 2021.

“Kita tahu bahwa tes punya tiga manfaat amat penting. Pertama, mereka yang positif dapat ditangani dari aspek kesehatannya, kedua mereka dapat diisolasi atau dikarantina mandiri atau dirawat sesuai kebutuhan, dan ketiga dapat diputus rantai penularan dari yang positif ke masyarakat sekitarnya.”

Tentu saja sesudah tes maka harus diikuti dengan kegiatan telusur (tracing) yang massif pula, kata Tjandra.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis COVID-19 Varian Delta India Hantui Indonesia

Infografis Covid-19 Varian Delta India Hantui Indonesia
Perbesar
Infografis Covid-19 Varian Delta India Hantui Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya