Vaksin AstraZeneca Terbukti Turunkan Risiko Penularan COVID-19, Meski Baru 1 Dosis

Oleh Aditya Eka Prawira pada 25 Jun 2021, 07:06 WIB
Diperbarui 25 Jun 2021, 07:53 WIB
Melihat Petugas Medis di Korea Selatan Latihan Suntik Vaksin COVID-19
Perbesar
Botol kosong vaksin COVID-19 AstraZeneca terlihat selama sesi pelatihan cara memberikan suntikan vaksin COVID-19 di Asosiasi Perawat Korea di Seoul, Korea Selatan (17/2/2021). Korsel berencana memulai inokulasi virus COVID-19 dengan vaksin AstraZeneca pada 26 Februari. (AP Photo/Ahn Young-joon)

Liputan6.com, London - Hasil riset terbaru di Inggris menyebut bahwa seseorang yang kena COVID-19, tapi sudah menerima vaksin AstraZeneca, lebih rendah 40 hingga 50 persen risikonya untuk menularkan virus Corona ke seisi rumah.

Sekali pun orang tersebut baru menerima satu dosis vaksin AstraZeneca, penurunan risiko untuk menularkan COVID-19 tetap terjadi. Dengan catatan, vaksinasi dilakukan minimal 21 hari sebelum orang tersebut terkonfirmasi COVID-19.

Dikutip dari The New England Journal of Medicine pada Jumat, 25 Juni 2021, tujuan dari penelitian untuk menyelidiki apakah vaksinasi akan mengurangi penularan virus Corona di lingkungan rumah tangga.

Hasilnya, vaksin AstraZeneca tak hanya efektif menurunkan risiko COVID-19 bergejala dan berat, tapi juga dapat menurunkan risiko penularan COVID-19.

Ross J Harris PhD dari Public Health England, London, Inggris, mengatakan penelitian dilakukan dengan mengalisis data Household Transmission Evaluation Dataset (HOSTED), yang memiliki informasi tentang semua kasus COVID-19 yang dikonfirmasi laboratorium di Inggris, termasuk data berisikan alamat rumah orang tersebut.

Lalu menautkannya ke data yang berisikan informasi pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Inggris.

Peneliti lalu membandingkan risiko infeksi sekunder di antara kontak rumah tangga yang tidak divaksinasi dari orang dengan infeksi SARS-CoV-2 yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin ChAdOx1 nCoV-19 (Oxford–AstraZeneca) atau BNT162b2 (Pfizer–BioNTech) selama 21 hari atau lebih sebelum tes COVID-19 dilakukan, dengan risiko di antara kontak rumah tangga yang tidak divaksinasi dari orang yang tidak divaksinasi dengan infeksi COVID-19.

"Kami memasang model regresi logstik dengan penyesuaian untuk usia dan jenis kelamin orang dengan kasus indeks COVID-19 (pasien indeks) dan kontak rumah tangga, wilayah geografis, kasus mingguan, deprivasi (skor gabungan dari dan faktor lainnya), serta jenis dan ukuran rumah tangga," tulis Ross.

"Kami juga memertimbangkan waktu efek di antara pasien indeks yang telah divaksinasi setiap saat hingga tanggal tes positif," Ross melanjutkan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Data Rumah Tangga yang Divaksinasi dan Tidak

Lebih lanjut Ross, menjelaskan, antara 4 Januari dan 28 Februari 2021, ada 960.765 kontak rumah tangga pasien indeks yang tidak divaksinasi, dan ada 96.898 kasus sekunder COVID-19 atau sebesar 10,1 persen.

Secara keseluruhan, kemungkinan penularan di rumah tangga sekitar 40 hingga 50 persen lebih rendah di rumah tangga pasien indeks yang telah divaksinasi 21 hari sebelum dites positif COVID-19, daripada di rumah tangga pasien indeks yang tidak divaksinasi.

Temuan serupa, kata Ross, untuk kedua vaksin (vaksin AstraZeneca dan Pfizer).

"Sebagian besar pasien indeks yang divaksinasi dalam kumpulan data kami atau 93 persen hanya menerima dosis pertama vaksin. Penilaian risiko infeksi di antara serumah menurut waktu vaksinasi pasien indeks menunjukkan efek perlindungan ketika vaksin telah diberikan setidaknya 14 hari sebelum tes positif," tulis Ross.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Catatan yang Perlu Diperhatikan

Namun, Ross menekankan bahwa HOSTED tidak menyertakan data tentang gejala atau nilai ambang siklus dan hanya memiliki informasi tentang kasus yang didiagnosa.

Di antara pasien indeks, mereka yang telah divaksinasi cenderung tidak menunjukkan gejala yang parah, dan mungkin kurang menular dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi.

Studi yang melibatkan tindak lanjut aktif dari kontak dan yang menggunakan tes serologi telah menunjukkan tingkat penularan rumah tangga yang lebih tinggi daripada yang diamati dalam penelitian ini.

Bias dapat terjadi jika penentuan kasus berbeda antara kontak rumah tangga orang yang divaksinasi dan orang tidak divaksinasi.

"Temuan kami sehubungan dengan waktu vaksinasi pasien indeks konsisten dengan data sebelumnya mengenai waktu perlindungan individu setelah vaksinasi, dan dengan demikian menudukung temuan keseluruhan," tulis peneliti.

"Mungkin ada kesalahan klasifikasi indeks dan kasus sekunder yang ditentukan berdasarkan tanggal penujian, tapi kesalahan klasifikasi seperti itu akan cenderung melemahkan perkiraan efek perlindungan dari vaksinasi," lanjut tulisannya.

Peneliti mengatakan bahwa data lebih lanjut diperlukan untuk menginformasikan pengurangan penularan virus Corona setelah menerima dua dosis vaksin.

"Penting untuk memertimbangkan temuan ini bersama dengan lain yang muncul untuk menginformasikan manfaat vaksinasi," tulisnya lagi

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓