Potensi Kolaps Akibat Lonjakan Kasus COVID-19 Bisa Terjadi Lebih Cepat

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 23 Jun 2021, 16:03 WIB
Diperbarui 23 Jun 2021, 16:03 WIB
FOTO: Cegah Penyebaran COVID-19, Jalan Pasar Baru Ditutup Selama Malam Tahun Baru
Perbesar
Polisi berjaga saat penyekatan jalan di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Kamis (31/12/2020). Polda Metro Jaya menutup sejumlah ruas jalan selama Car Free Night dan Crowd Free Night pada malam Tahun Baru 2021 untuk mencegah penyebaran COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 di Indonesia selama dua minggu terakhir terus menggeliat. Ahli pun memerkirakan bahwa puncak lonjakan kasus virus Corona di tanah air terjadi pada Juli 2021.

Berbicara soal lonjakan kasus COVID-19, Epidemiolog dari Griffth University Australia, Dicky Budiman menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi.

Dicky, menjelaskan, potensi lonjakan kasus COVID-19 memang ada, kecuali ada respons yang radikal seperti pembatasan yang sangat ketat.

Selain pengetatan, tes (testing) dan pelacakan (tracing) hingga 500ribu orang serta karantina dan vaksinasi yang efektif dapat mengurangi risiko lonjakan kasus COVID-19 yang dapat kembali terjadi.

“Kalau tidak ya virus ini akan dengan leluasa mengikuti pola eksponensial sesuai hukum biologi. Kita mau percaya atau tidak ya akan berlaku seperti itu. Potensi masa kritis kita bisa sampai Juli itu dan dalam konteks ini banyak sekali korban, bukan hanya korban kesakitan tapi juga kematian,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui fitur pesan suara pada Rabu (23/6/2021).

 

 

** #IngatPesanIbu 

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

#sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua

Adakah Potensi Kolaps?

Dicky, menambahkan, jika penanganan radikal tidak dijalankan, potensi kolaps itu ada.

“Tentu ada potensi kolaps. Jangankan Juli, mungkin di akhir Juni ini juga ada potensi kolaps karena bicara varian alpha apalagi delta ini kan cepat menular dan membuat proporsi orang yang sakit di setiap kelompok usia banyak," katanya.

Jika dilihat dari persentasenya, Dicky menyatakan kemungkinan tetap. Misal, pada anak persentasi 1 atau 3 persen yang terinfeksi, tapi kalau tadinya 1 hingga 3 persen itu sama dengan 100 persen, sekarang bisa sama dengan 10 ribu orang.

“Gambarannya seperti itu, dan artinya di orang dewasa bisa lebih banyak lagi," katanya

Antisipasinya?

Melihat potensi-potensi tersebut, Dicky menambahkan bahwa antisipasinya tidak beda jauh dengan antisipasi yang dijalankan sebelumnya.

“Antisipasinya ya tetap kita harus perkuat 3T dengan isolasi, karantina, penemuan kasus secara cepat terutama di rumah-rumah dan pemukiman.”

Selain itu, penerapan regulasi terkait penanganan COVID-19 juga bisa dilakukan. Mengingat, sebetulnya regulasi sudah ada misalnya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau kebijakan kerja dari rumah.

“Misalnya kebijakan bekerja di rumah 75 persen ya pastikan dilakukan oleh perkantoran pusat sampai daerah itu dilakukan dan bagaimana monitoringnya. Jangan hanya di atas kertas dan apa sanksinya untuk yang tidak melakukan dan ada enggak monitoring pada setiap pimpinan kantor?”

Jadi, konsistensi dalam pelaksanaan strategi implementasi di lapangan menjadi sangat penting, tutupnya.

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala COVID-19 Varian Alpha, Beta dan Delta

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓