Soal Izin Edar Ivermectin, BPOM: Sebagai Obat Cacing, Bukan Obat COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 22 Jun 2021, 17:42 WIB
Diperbarui 22 Jun 2021, 21:06 WIB
Kepala BPOM Penny K Lukito
Perbesar
Kepala BPOM Penny K Lukito saat konferensi pers pengembangan Vaksin Merah Putih di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 16 April 2021. (Dok BPOM RI)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Penny Kusumastuti Lukito, menegaskan bahwa pihaknya belum mengeluarkan izin edar Ivermectin untuk terapi COVID-19.

Izin edar yang dikeluarkan untuk Ivermectin selama ini, kata Penny, berkaitan dengan indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis).

"Yang kita berikan izin edar Ivermectin sebagai obat cacing," katanya dalam konferensi pers pada Selasa, 22 Juni 2021.

Penny, mengatakan, di sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia menemukan indikasi Ivermectin bisa menyembuhkan pasien COVID-19. Namun, penggunaan Ivermectin untuk terapi COVID-19 membutuhkan uji klinik.

"(Ivermectin) belum bisa dikategorikan sebagai obat COVID-19, tentunya. Kalau kita mengatakan suatu produk dalam obat COVID-19 harus melalui uji klinik dulu," Penny menjelaskan. 

Meski belum masuk kategori obat COVID-19, Penny, menyebut, Ivermectin bisa digunakan. Namun, penggunaannya untuk pasien COVID-19 harus dengan resep dan pengawasan dokter.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengawasan Penggunaan Ivermectin Sebagai Obat COVID-19

Pengawasan penggunaan Ivermectin untuk terapi Covid-19 sebelum ada uji klinik berada di tangan Kementerian Kesehatan.

"Tentunya bukan di tangan BPOM untuk hal itu. Itu di pemerintah mungkin akan berproses dan setiap protokol untuk COVID-19 tentunya harus dikeluarkan asosiasi profesi terkait dan juga Kementerian Kesehatan," kata Penny.

Penny kembali mengingatkan bahwa Ivermectin merupakan obat keras sehingga pembeliannya harus dengan resep dan pengawasan dokter.

Ivermectin yang digunakan tanpa indikasi medis dan tanpa resep dokter dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan efek samping, antara lain nyeri otot atau sendi, ruam kulit, demam, pusing, sembelit, diare, mengantuk, dan Sindrom Stevens-Johnson.

"Ini obat berbahan kimia, bukan obat natural juga. Bahan kimia ada efek samping, sehingga termasuk obat keras dan harus ada resep dokter," Penny menekankan.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Erick Thohir Sebut Ivermectin Dapat Izin Edar BPOM

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan Ivermectin sudah mendapat izin edar dari BPOM. PT Indofarma selaku BUMN farmasi yang akan memproduksi Ivermectin.

"Pada hari ini juga kami ingin menyampaikan mengenai obat Ivermectin, yaitu obat anti parasit yang Alhamdulillah, hari ini sudah dibuat izin edarnya dari BPOM," kata Erick dalam konferensi pers virtual, Senin (21/6).

Erick mengatakan, obat terapi pasien COVID-19 ini dibanderol dengan harga yang sangat murah, mulai dari Rp5.000 hingga Rp7.000 per tablet.

Ivermectin ini saat ini sedang berada dalam fase uji stabilitas. Menurut Erick, obat ini sudah teruji efektivitasnya berdasarkan beberapa jurnal kesehatan.

"Nantinya dengan kapasitas produksi 4 juta tablet per bulan, obat ini diharapkan menjadi solusi dari virus Covid-19," katanya.

Penulis: Titin Supriatin/Merdeka.com

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala Covid-19 Varian Alpha, Beta dan Delta. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓