COVID-19 Indonesia Melonjak, Dokter Paru: Jangan sampai Jadi India Kedua

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 18 Jun 2021, 13:26 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 13:26 WIB
Kampanye Gerakan 3M Lewat Mural
Perbesar
Kendaraan melintas di depan mural anjuran kebiasan hidup baru dengan 3 M di Stasiun Cawang, Jakarta, Sabtu (26/12/2020). Pemerintah terus berupaya melakukan imbauan kepada warga untuk melaksanakan kebiasaan baru 3M guna memutus penyebaran virus corona (COVID-19). (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - COVID-19 di Indonesia tengah melonjak, dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (paru) Erlina Burhan mewanti-wanti, jangan sampai Indonesia menjadi 'India kedua.' Hal ini mengingat gelombang COVID-19 di India terjadi.

Ketika kasus COVID-19 naik, akan berdampak terutama pada sistem kesehatan. Grafik harian COVID-19 nasional menunjukkan, sejak 15 Mei 2021, angka kasus terus naik hingga Juni 2021. Data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, kasus baru COVID-19 akhir-akhir ini mencapai 8.000-9.000.

"Bahkan data kemarin (17 Juni 2021), sungguh luar biasa. Angkanya sedang menggila bertambah 12.000-an kasus baru COVID-19. Kita tidak tahu, apakah besok, hari ini, akan lebih baik lagi," kata Erlina saat konferensi pers 5 Organisasi Profesi tentang Situasi Terkini Pandemi COVID-19 di Indonesia, Jumat (18/6/2021).

"Kita khawatir, jangan sampai Indonesia menjadi 'India yang kedua.' Karena melihat kasus COVID-19 kita sungguh mengkhawatirkan."

Perkembangan kematian juga sangat meningkat. Jumlah orang yang meninggal akibat COVID-19 per 17 Juni 2021 bertambah 277, total 53.753 kematian.

"Saya mendengar kabar bahwa kematian di luar rumah sakit, upacara pemakaman meningkat. Kita tidak tahu, apakah itu karena COVID-19 atau bukan. Bisa jadi COVID-19, tapi tidak sempat terkonfirmasi," lanjut Erlina.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sistem Kesehatan Jangan sampai Kolaps

FOTO: GOR Cipayung Jadi Tempat Singgah Sementara Warga yang Baru Kembali ke Jakarta
Perbesar
Petugas menyiapkan tempat singgah sementara bagi warga yang baru kembali ke Jakarta di GOR Cipayung, Jakarta, Selasa (18/5/2021). GOR ini jadi tempat singgah bagi mereka yang tidak memiliki tempat layak untuk isolasi mandiri sambil menunggu hasil tes swab antigen/PCR. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kematian COVID-19 yang meningkat, menurut Erlina Burhan, kemungkinan individu tersebut tidak sempat datang ke rumah sakit. Selain itu, ada kekhawatiran terhadap varian Delta (penyebutan terkini B.1617.2) dari India yang mulai banyak ditemukan di sejumlah daerah, seperti Jakarta, Kudus, dan Bangkalan.

"Ini sungguh memberikan kita suatu asumsi, Jangan-jangan COVID-19 yang sekarang jauh lebih lebih berat penyakitnya dibandingkan yang sebelumnya. Tentu saja kita semua tahu, ada hubungannya dengan varian baru yang ditemukan, terutama varian-varian dari India," ujarnya.

"Selain varian Delta lebih mudah menular, ada efek juga memengaruhi vaksin (meski vaksin sekarang masih bisa melawan virus)."

Keterisian tempat tidur COVID-19, baik isolasi dan ICU naik. Di Jakarta, tempat tidur isolasi COVID-19 sudah terisi 84 persen dan tempat tidur ICU terisi 74 persen. Data tersebut terhitung sampai 17 Juni 2021.

"Secara psikologi, angka keterisian tempat tidur 74 persen itu tinggi. Kita tahu kapasitas tempat tidur ICU di daerah lain mungkin sedikit dibanding Jakarta. Keterisian tempat tidur COVID-19 di Jawa tengah itu sekarang 95 persen ke atas, bahkan sudah 100 persen," terang Erlina, yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

"Ini juga mengkhawatirkan, karena kalau ICU kita berbicara tentang mortalitas. Kita tidak ingin, jangan sampai sistem kesehatan kita menjadi kolaps."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Banyak Pasien COVID-19 Masuk ICU

Berjibaku di Ruang ICU Rumah Sakit Paraguay saat Pandemi Corona
Perbesar
Seorang pasien COVID-19 berbaring telungkup saat perawat menyiapkan suntikan di ICU Rumah Sakit Nasional di Itagua, Paraguay, Senin (7/9/2020). (AP Photo/Jorge Saenz)

Ketua Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Syafri Kamsul Arif berharap ada upaya pencegahan agar pasien COVID-19 sedapat mungkin tidak masuk ruang ICU. Ini melihat data keterisian ICU ikut meningkat.

"Kami sangat berharap, janganlah pasien masuk ke dalam ICU. ICU yang terisi jumlahnya agak memprihatikan. Pasien banyak yang tidak bisa ditampung di ICU. Kami harap membahu early over treatment," harapnya.

"Kami sangat mengharapkan agar pemerintah pusat memeprlakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro secara menyeluruh, serentak, terutama di Pulau Jawa. Kita lihat data COVID-19 naik signifikan, di antaranya Jakarta dan Jawa Tengah."

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto mengatakan, yang terpenting saat ini bagaimana mencegah supaya transmisi virus Corona bisa berkurang, minimal pasien yang dirawat di rumah sakit berkurang. Bahkan bisa tidak ada yang dirawat.

"Tentunya, ini butuh peran serta Pemerintah dan juga peran masyarakat. Dalam hal ini, Pemerintah harus tegas penerapan PPKM. Kita tidak ingin apa yang terjadi di India, terjadi di Indonesia," katanya.

"Oleh karena itu, upaya maksimal yang harus dilakukan Pemerintah harus kita dorong bersama supaya menerapkan PPKM mikro dalam skala yang besar dan ketat, sehingga transmisi bisa dikurangi."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 29 Daerah di Indonesia Masuk Zona Merah Covid-19

Infografis 29 Daerah di Indonesia Masuk Zona Merah Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 29 Daerah di Indonesia Masuk Zona Merah Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓