Heboh karena Cristiano Ronaldo dan Gambaran Kandungan Gula di Coca Cola

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 17 Jun 2021, 16:07 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 16:08 WIB
Cristiano Ronaldo
Perbesar
Cristiano Ronaldo singkirkan botol minuman soda sponsor Euro 2020. (dok. tangkapan layar video Twitter @TheSun)

Liputan6.com, Jakarta - Minuman bersoda kembali menjadi perbincangan setelah bintang sepak bola Cristiano Ronaldo menyingkirkan dua botol Coca Cola di hadapannya, dan lebih memilih air mineral dalam sebuah konferensi pers.

Berbagai pertanyaan pun muncul, terlebih tentang bahaya minuman bersoda seperti Coca Cola. Baru-baru ini juga beredar sebuah gambar mengenai perbandingan kandungan gula yang ada di dalamnya.

Di dalam gambar tersebut diberitahu bahwa satu botol Coca Cola berukuran sedang mengandung sembilan bongkah gula pasir. Satu bongkah sama dengan 4,5 gram gula pasir.

Namun, gambar lainnya menunjukkan bahwa satu kaleng Coca Cola mengandung satu plastik penuh gula pasir tanpa keterangan yang jelas terkait beratnya.

Menanggapi hal ini, pakar di bidang gizi olahraga dan kebugaran, Mochammad Rizal mengatakan bahwa gambar terkait Coca Cola dan takaran gula di dalamnya yang beredar sangat banyak variasinya, dan belum bisa dipastikan kebenarannya.

“Jadi, tidak bisa menentukan benar tidaknya. Ada yang secara visual memang sepertinya segitu, ada yang terlihat terlalu melebihkan (secara visual). Yang perlu dilihat adalah keterangan jumlah gram yang tercantum agar lebih akurat,” ujar Rizal kepada Health Liputan6.com melalui pesan teks, Kamis, 17 Juni 2021.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hindari Konsumsi Berlebih

Rizal, menambahkan, minuman manis tidak berbahaya asal dikonsumsi dalam jumlah dan waktu yang tepat. Jumlah maksimal konsumsi gula untuk orang dewasa normal adalah 50 gram atau sekitar 4 sdm.

“Tentu berbeda kebutuhan untuk atlet,” katanya.

Sedangkan terkait waktu, lanjut Rizal, sebaiknya dikonsumsi di sekitar waktu latihan, baik sebelum, selama, dan sesudah latihan atau olahraga yang membutuhkan performa, masih boleh. Sebab, tubuh membutuhkan asupan tenaga secara cepat pada saat tersebut.

Di sisi lain, jika konsumsi minuman manis tidak terkontrol maka ada dampak jangka pendek dan jangka panjang yang bisa terjadi.

“Jangka pendek jika terlalu banyak konsumsi makanan minuman manis adalah kadar gula darah yang naik secara cepat, tetapi diikuti penurunan yang drastis, sehingga tubuh akan terasa lemas," kata Rizal.

Sedang, dampak jangka panjangnya bisa menyebabkan penyakit degeneratif misalkan diabetes, jika dikonsumsi secara berlebihan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tips Mengurangi Konsumsi Minuman Manis

Rizal juga menyampaikan tips mengurangi minuman manis termasuk minuman bersoda.

“Banyak tipsnya, di antaranya yang pertama kurangi konsumsi makanan minuman manis secara bertahap agar bisa bertahan jangka panjang permanen, jangan langsung mengurangi secara drastis.”

“Misalkan jika sudah terbiasa konsumsi 3 porsi minuman manis per hari, maka minggu ini coba kurangi jadi 2 porsi saja. Lalu jika berhasil, minggu depan kurangi lagi jadi 1 porsi saja dan seterusnya,” katanya.

Selain itu, bisa mencoba menggunakan alternatif pemanis 0 kalori. Namun, perlu diingat juga bahwa ini hanya untuk sementara. Fokusnya tetap pada mengurangi konsumsi makanan minuman rasa manis secara bertahap, tutupnya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Poin-Poin Penting Usulan RUU Larangan Minuman Beralkohol

Infografis Poin-Poin Penting Usulan RUU Larangan Minuman Beralkohol. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Poin-Poin Penting Usulan RUU Larangan Minuman Beralkohol. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓