Kemenkes Siapkan 72 Ribu Tempat Tidur COVID-19, Sudah Terisi 31 Ribu

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 08 Jun 2021, 08:36 WIB
Diperbarui 08 Jun 2021, 08:39 WIB
Pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet Melonjak
Perbesar
Tenaga kesehatan mengantarkan pasien Covid-19 ke RSD Wisma Atlet, Jakarta (30/5/2021). Berdasarkan data Penerangan Kogabwilhan mencatat hingga hari ini jumlah pasien rawat inap di Tower 4, 5, 6, dan 7 mencapai 2.013 orang atau 33 persen dari kapasitas tempat tidur. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan, adanya peningkatan keterisian tempat tidur di rumah sakit akibat lonjakan kasus COVID-19 pasca liburan beberapa waktu lalu.

"Kita sudah menyadari dan sudah memersiapkan adanya peningkatan kasus pasca liburan," kata Menkes Budi dalam konferensi persnya pada Senin, 7 Juni 2021.

Budi melanjutkan bahwa Kementerian Kesehatan telah memersiapkan 72 ribu tempat tidur isolasi COVID-19 untuk kondisi terburuk, apabila semua pasien harus dirawat di rumah sakit.

"Pada saat tanggal 18 Mei baru terisi 22 ribu. Sekarang memang ada kenaikan sampai ke 31 ribu," katanya.

"Kita masih memiliki cadangan tempat tidur isolasi yang cukup," Budi Gunadi melanjutkan

Kenaikan Masih Terjadi Beberapa Pekan ke Depan

FOTO: Melihat Alat Pendukung Perawatan Pasien di RS Darurat COVID-19
Perbesar
Alat pendukung perawatan pasien virus corona COVID-19 terlihat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/3/2020). RS Darurat Penanganan COVID-19 dilengkapi dengan ruang isolasi, laboratorium, radiologi, dan ICU. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Menurut Budi, berdasarkan pengalaman, puncak lonjakan kasus COVID-19 akan terjadi selama lima hingga tujuh pekan setelah masa liburan.

"Jadi perkiraan kita masih akan melihat adanya kenaikan kasus ini sampai akhir bulan ini atau awal bulan depan, dengan persiapan yang kita lakukan," kata Menkes Budi.

Dia menambahkan, memang ada beberapa daerah yang lonjakan kasus virus coronanya cukup tinggi seperti Kudus dan Bangkalan.

"Khususnya Kudus, yang sebelumnya rumah sakitnya hanya terisi 40-an, kemudian dalam satu setengah minggu terakhir naik cukup tinggi sampai sekitar 350-an," kata Budi.

"Demikian juga di Bangkalan, yang tadinya tempat tidur isolasinya terisi pasien terisi 10-an, sekarang juga dalam satu setengah minggu naik ke angka 70 sampai 80-an," ujarnya.

Penyebab Lonjakan Kasus di Kudus dan Bangkalan

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam Puncak Hari Gizi Nasional ke-61 tahun 2021 (Tangkapan Layar Youtube Kementerian Kesehatan)
Perbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam Puncak Hari Gizi Nasional ke-61 tahun 2021 pada Senin (25/1/2021) (Tangkapan Layar Youtube Kementerian Kesehatan)

Menurut Menkes, kenaikan kasus di Kudus disebabkan karena daerah tersebut merupakan lokasi ziarah, sementara lonjakan di Bangkalan diakibatkan kepulangan pekerja migran dari negara lain.

Budi pun mengatakan strategi pertama yang dilakukan untuk mengatasi situasi tersebut adalah dengan mengurai tekanan yang ada di rumah sakit, dengan cara merujuk pasien-pasien sedang dan berat ke kota terdekat.

"Untuk Kudus ke Semarang, untuk Bangkalan ke Surabaya. Alhamdulillah, kapasitas rumah sakit di Semarang dan juga kapasitas rumah sakit di Surabaya itu cukup untuk menerima rujukan dari daerah Kudus dan Bangkalan," kata Budi Gunadi.

Selain itu, Menkes juga mengatakan bahwa pemerintah telah bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk mengirimkan tenaga kesehatannya ke dua daerah tersebut.

Pengiriman dokter dan perawat ini dilakukan untuk mengisi kekosongan dan mengurangi tekanan tekanan kesehatan setempat, yang cukup banyak terpapar COVID-19.

Infografis Lonjakan Kasus Covid-19 di Kudus hingga Bangkalan

Infografis Lonjakan Kasus Covid-19 di Kudus hingga Bangkalan. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Lonjakan Kasus Covid-19 di Kudus hingga Bangkalan. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓