7 Tips Agar Tak Salah Beli Produk Skin Care Abal-Abal dan Berisiko

Oleh Aditya Eka Prawira pada 01 Jun 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 01 Jun 2021, 15:00 WIB
produk skin care
Perbesar
ilustrasi produk skin care (sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Rasa-rasanya produk perawatan kulit atau skin care sudah menjadi kebutuhan saat ini. Tidak cuma wanita, pria juga mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan kulit wajah.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab menciptakan produk skin care abal-abal. Alih-alih wajah terlihat segar, malah menjadi rusak atau bermasalah karena salah beli.

Produsen tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Munculnya produk perawatan kulit dengan kandungan bahan-bahan bahaya karena permintaan yang tinggi.

Pakar kecantikan dan anti aging (penuaan) dari Cyn Clinic, dr Cynthia Jayanto M Biomed (AAM) pun memberikan tips agar tidak salah beli produk skin care, sehingga bisa terhindar dari risiko wajah bermasalah.

Langkah 1:

Sebelum membeli suatu produk skin care, sebaiknya perlu mengenali jenis kulit Anda terlebih dahulu. Sebab, kata Cynthia, setiap orang memiliki jenis kulitnya masing-masing, apakah itu jenis kulit normal, cenderung berminyak, cenderung kering, atau sensitif.

Dan, setiap jenis kulit punya penanganannya sendiri dan tidak bisa suatu produk mengakomodasi semua kebutuhan jenis kulit tersebut.

Langkah 2:

Untuk bisa menemukan produk yang tepat, Anda bisa mengidentifikasi dengan keluhan kulit yang biasa dialami. Sejauh ini apa keluhan kulit yang Anda rasakan? Apakah berjerawat, kusam, kering gatal, atau pigmen warna tidak merata.

Nah, jika sudah tahu apa masalah kulit yang biasa Anda alami, tahap selanjutnya mencari produk skin care yang memiliki 'formula' sesuai jenis kulit Anda. 

 

Langkah-Langkah Memilih Produk Skin Care

Langkah 3:

Carilah produk skin care yang sesuai dengan pH kulit Anda. Cara mengeceknya adalah dari rangkaian produk skin care harus bisa menghasilkan pH yang seimbang di kulit wajah. Bukan rangkaian produknya semua membuat kulit jadi kering, atau bahan baku dari rangkaian produknya malah membuat kulit tambah berminyak.

"Jadi, dalam sebuah skin care ada istilahnya 'pedang' dan 'tameng'. Pedang itu sifat bahan baku yang tajam memiliki pH terlalu basa, tameng sebagai pelindung memiliki pH yang normal. Nah, di dalam produk skin care perlu ada keduanya, supaya terjadi kondisi kulit yang sehat dan pH-nya normal," kata dia.

Langkah 4: 

Sesuaikan dengan suhu kulit. Menurut Cynthia, suhu dan cuaca memengaruhi kondisi kulit. Jadi, kita perlu menyesuaikannya dengan suhu. Misal, saat musim hujan atau dingin, kulit lebih kering dan perlu hidrasi. Pilihlah skin care yang bisa membuat kulit Anda lebih lembab.

Sebaliknya, saat musim panas kulit lebih berkeringat dan berminyak, ini biasanya dapat memicu jerawat. Untuk itu, Anda bisa memilih skin care dengan kandungan yang dapat mengurangi produksi minyak berlebih di wajah, sehingga minyak di wajah Anda dapat terkontrol dan mencegah timbulnya jerawat.

 

Langkah Berikutnya

Langkah 5:

Cek izin edarnya. Ini untuk bisa melihat apakah produk skin care aman. Anda bisa mengecek apakah produk tersebut sudah dapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) atau belum.

Sejatinya konsumen dilindungi Undang-Undang agar pelaku usaha tidak sewenang-wenang, yaitu UU Nomor 8 tahun 1999.

“Dan juga karena tak sedikit produk skin care yang non-BPOM tapi sudah diperjualbelikan. Untuk mengeceknya, Anda bisa melihat dari QR barcode izin edar dari BPOM. Selain itu, Anda juga perlu mengecek izin produk, karena ada juga produk yang izin edarnya tidak sesuai dengan produk yang ditawarkan,” katanya.

Langkah 6: 

Cek bahan bakunya, ada bahan berbahayakah? Ini hal yang tak kalah penting. Anda harus bisa menjawab pertanyaan apakah bahan baku utama yang dipakai mengandung bahan baku yang berbahaya, dan sudahkah produknya sesuai dengan karakter kulit?

Seperti yang Anda sudah ketahui, bahan berbahaya yang bisa merusak wajah secara jangka pendek maupun jangka panjang, antara lain merkuri, hidrokinon, resorsinol, bahan pewarna, dan steroid. Yang mana sebenarnya merupakan obat dan harus dengan resep dokter tapi sering dimasukkan sebagai campuran pemutih karena berefek membuat kulit jadi putih.

Dengan demikian, penting bagi Anda untuk bisa mengecek terlebih dahulu bahan baku dalam produk skin care sebelum membeli.

"Apabila ada bahasa latin bisa di-browsing, lalu dicari istilah lain atau awamnya dan cek kegunaannya apakah sesuai jenis kulit kita atau tidak. Selain itu cek juga label kedaluwarsanya, apakah sudah melewati masanya atau belum," katanya.

Langkah 7:

Cari ulasan (review) atau testimoni dari orang yang sudah pernah memakainya.Anda bisa mengeceknya di Youtube atau mencari lewat tanda pagar (hastag) tertentu di Instagram untuk melihat review produk skin care.

Lalu, Anda analisa dari semua ulasan produk tersebut, apakah lebih banyak yang cocok atau lebih banyak yang bermasalah. Jika Anda menemukan banyak pengulas mengaku tidak puas atau mengalami masalah setelah memakainya, sebaiknya mengalihkan perhatian ke produk skin care yang lain.

Untuk membuat produk kosmetik atau skin care yang aman, kata Cynthia bukan merupakan usaha yang mudah.

Bahkan, Albert M.Kligman dalam International Congress of Safety and Efficacy Topical Drugs and Cosmetics di Philadelphia pada 1981 menyatakan bahwa kriteria keamanan kosmetik merupakan hal bias yang akan terus berubah setiap waktu.

Jadi, mengharapkan skin care yang tanpa risiko itu sangat sulit. Apalagi yang membuat dan menjual bukan berlatar belakang dengan pengetahuan produk yang tepat. Namun, untuk meminimalisir risiko memilih skin care yang salah, kita tetap perlu tahu langkah-langkah diatas.

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓