Alasan Warganet Indonesia Agresif di Media Sosial Menurut Psikolog

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 27 Mei 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 27 Mei 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi belanja online
Perbesar
Ilustrasi belanja online. Foto oleh Negative Space dari Pexels.

Liputan6.com, Jakarta - Pengguna internet di Indonesia yang sering pula disebut warganet terkenal dengan keberaniannya dalam memberikan komentar pedas.

Menurut psikolog Oktina Burlianti, dari sisi psikologi hal ini tak serta merta menunjukkan bahwa orang yang berani berkomentar pedas di media sosial berarti dirinya berani pula di dunia nyata.

“Ada penelitian yang menarik kenapa orang bisa menjadi sangat agresif di media sosial. Salah satunya, orang-orang seperti ini memang memiliki karakter sadistik, antisosial, atau orang yang kesulitan dalam membangun relasi,” ujar Oktina dalam program Netizen +62 "Gaya Belanja Warga WKWK Land" Liputan6.com, ditulis Rabu (26/5/2021).

Ia menambahkan, hampir semua orang yang menebar kebencian melalui kalimat-kalimat atau komentar pedas itu memiliki masalah dalam membangun dan/atau mempertahankan relasi, atau kedua-duanya.

“Dari beberapa faktor, faktor yang paling utama mendorong orang menjadi seperti itu adalah karena tidak adanya kontak mata.”

Dalam menggunakan media sosial, orang-orang berhadapan dengan gawai, mereka merasa tidak berhadapan dengan manusia. Ketika orang berkomunikasi dengan kontak mata, maka ada kesadaran terhadap moral, kode etik, dan pemahaman benar-salah. Sebaliknya, dalam memberi komentar di sosial media, warganet mengenyampingkan kesadaran-kesadaran tersebut.

Akibat Kurangnya Literasi

Psikolog yang akrab disapa Ullie ini juga mengomentari kejadian yang tengah ramai diperbincangkan terkait kurir yang disalahkan pembeli akibat barang yang dibeli dengan sistem Cash on Delivery (COD) tidak sesuai dengan harapan.

Beberapa video pembeli yang memaki kurir pun tersebar di dunia maya dan para pelaku menjadi bulan-bulanan warganet di media sosial.

Menurut Ullie, kejadian seperti ini diakibatkan oleh kurangnya literasi. Pembeli yang mengajukan komplain kebanyakan tidak mengetahui arti dari sistem COD.

“Kalau aku lihat lebih ke masalah literasi sama critical thinking sih. Mereka barangkali mikir bahwa COD itu sama seperti jual beli di pasar atau layanan pesan antar. Jadi ketika barangnya tidak sesuai harapan mereka berpikir seperti di pasar, boleh-boleh aja dikembaliin.”

Melihat masalah ini, Ullie berpendapat bahwa perbaikan harus dilakukan oleh kedua belah pihak yakni e-commerce dan pembeli. Pihak e-commerce harus mengerti karakteristik masyarakat Indonesia dan pembeli harus memperkaya literasinya.

 

 

 

Infografis Protes Pengeras Suara Azan Berujung Bui

Infografis Protes Pengeras Suara Azan Berujung Bui
Perbesar
Infografis Protes Pengeras Suara Azan Berujung Bui. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓