Kasus KIPI Fatal Vaksin AstraZeneca, BPOM Lakukan Investigasi dan Pengujian

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 16 Mei 2021, 14:27 WIB
Diperbarui 16 Mei 2021, 14:27 WIB
Ilustrasi penelitian vaksin Covid-19.  Prasesh Shiwakoti/Unsplash
Perbesar
Ilustrasi penelitian vaksin Covid-19. Prasesh Shiwakoti/Unsplash

Liputan6.com, Jakarta Menindaklanjuti kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) fatal vaksin AstraZeneca, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan investigasi dan pengujian. Hal ini menyusul laporan adanya kematian diduga akibat vaksin AstraZeneca, yang dialami pemuda di Jakarta, Trio Fauqi Virdaus (21).

Investigasi dan pengujian vaksin AstraZeneca ditegaskan BPOM melalui surat perihal Tindak Lanjut KIPI Serius Fatal Vaksin COVID-19 AstraZeneca. Surat ini ditandatangani Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM RI Lucia Rizka Andalucia.

Tindak lanjut dari BPOM juga menanggapi surat laporan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tentang rekomendasi teknis penggunaan vaksin AstraZeneca dan surat Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas KIPI).

Adapun vaksin AstraZeneca yang dimaksud di sini adalah batch CTMAV547.

Sebagaimana rekomendasi surat dari Komnas KIPI, saat ini Pusat Pengembangan Obat dan Pengujian Makanan (PPOPM) Badan POM sedang melakukan uji toksisitas abnormal dan pengujian sterilitas terhadap vaksin COVID-19 AstraZeneca batch tersebut, demikian bunyi surat BPOM tertanggal 11 Mei 2021.

Surat BPOM tersebut ditujukan kepada Kementerian Kesehatan, yaitu Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Pelaksana Tugas Dirjen Kefarmasian Alat Kesehatan.

"Iya, suratnya (BPOM) valid," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi melalui pesan singkat yang diterima Health Liputan6.com pada Minggu (16/5/2021).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pemantauan Ketat Terhadap Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547

FOTO: Pemkot Jakut Targetkan 1500 Lansia Dapat Vaksinasi COVID-19 per Hari
Perbesar
Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 terhadap warga lanjut usia (lansia) saat kegiatan vaksinasi COVID-19 di SDN 02 Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (22/3/2021). Pemkot Jakarta Utara menargetkan 1.500 lansia menerima vaksinasi COVID-19 per hari. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

BPOM juga menegaskan, perlu pemantauan ketat terhadap vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 terkait laporan kasus fatal KIPI. Ini dilakukan selama BPOM menginvestigasi dan menguji vaksin AstraZeneca.

Selama proses investigasi dan pengujian belum selesai, sebagai bentuk kehati-hatian, maka perlu penghentian sementara dan distribusi vaksin COVID-19 AstraZeneca dengan batch CTMAV547 di seluruh Indonesia serta dilakukan pemantauan ketat agar batch tersebut tidak digunakan, bunyi surat BPOM.

Surat tindak lanjut vaksin AstraZeneca dari BPOM juga tembusan kepada:

1. Kepala BPOM (sebagai laporan)

2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara

3. Kepala UPT BPOM di Provinsi terkait

4. Pimpinan dan Penangggungjawab Industri Farmasi PT Bio Farma (Persero)

5. Pimpinan dan Penangggungjawab Industri Farmasi PT AstraZeneca Indonesia

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19

Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 3 Paket Ampuh Lawan Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya