Varian B1351 Termasuk Variant of Concern WHO, Vaksin COVID-19 yang Cocok?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 12 Mei 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 12 Mei 2021, 16:00 WIB
Banner Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Banner Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta Varian virus Corona B1351 asal Afrika Selatan termasuk salah satu Variant of Concern (VoC) WHO. Artinya, varian ini menjadi ancaman kesehatan global, yang juga dikenal sebagai 'varian raja.' Varian B1351 disebut-sebut bisa menghindari antibodi vaksinasi COVID-19.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melaporkan temuan varian virus B1315 dari satu kasus Warga Negara Indonesia di Bali, yang diambil sampel pada 25 Januari 2021. WNI tersebut berasal dari Bandung, Jawa Barat dan sudah meninggal dunia akibat terinfeksi B1351.

Ahli Biomolekuler Ahmad R Utomo menjelaskan secara rinci, alasan di balik varian virus Corona B1351 Afrika Selatan menjadi Variant of Concern WHO. Varian B1351 mempunyai mutasi bernama N501Y, yang disebut Nelly.

Nelly ini ditemukan juga pada varian virus Corona Inggris dan Afrika Selatan. Bedanya, di Afrika Selatan terdapat mutasi lain lagi yang bernama E484K, sedangkan di Inggris tidak ada.

"Mengapa jadi VoC WHO? Karena ketika melihat timeline yang sakit COVID-19, diperkirakan B1351 Afrika Selatan itu munculnya kalau enggak salah setelah bulan Juli 2020. Jadi, sebelum bulan Juli itu enggak ada. Lalu mereka (peneliti di Afrika Selatan) mengumpulkan serum dari orang-orang yang sakit COVID-19, sebelum varian B1351 muncul," jelas Ahmad kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, ditulis Rabu (12/5/2021).

"Nah, sesudah varian B1351 muncul, orang yang sakit COVID-19 kan macam-macam, ada yang gejala ringan dan berat. Mereka melakukan uji begitu varian B1351 muncul, sebelumnya pasien ini ada yang kena varian D614G, artinya mereka penyintas terhadap varian virus Corona baru."

2 dari 5 halaman

Ketika Penyintas COVID-19 Terinfeksi Varian B1351

FOTO: [CERITA] Pemusalaran Korban COVID-19 di Soweto
Perbesar
Para pengurus memindahkan jenazah pasien virus corona COVID-19 di rumah duka AVBOB, Soweto, Afrika Selatan, 21 Juli 2020. (MARCO LONGARI/AFP)

Ketika melakukan uji kepada penyintas pasien COVID-19 yang terinfeksi varian virus Corona B1351, peneliti Afrika Selatan menemukan, butuh titer antibodi yang lebih banyak untuk memblok infeksi B1351.

"Pas dicek di lab, ternyata mereka butuh jumlah (titer antibodi) yang lebih banyak untuk memblok infeksi ini dibandingkan virus Corona yang masih asli dari Tiongkok. Misalnya, begini, virus asli Tiongkok ada mutasi D614G, katakan mungkin dia nge-blok perlu satu per 1.000 antibodi," papar Ahmad R Utomo.

"Tetapi sekarang, tanpa (infeksi B1351) enggak bisa nge-blok segitu. Kalau dari pasien penyintas gejala berat kan jumlanya banyak, masih bisa nge-blok tapi butuh lebih banyak titer antibodi. Sekarang butuh satu per 500 antibodi. Artinya, konsentrasi titer antibodi yang dibutuhkan dua kali lipat lebih banyak daripada sebelumnya."

Dalam hal ini, apabila seseorang sudah pernah kena COVID-19 dengan varian virus Corona yang lama (asli Tiongkok), gejala ringan, kemungkinan masih bisa terinfeksi lagi kalau terpapar varian baru B1351.

"Itu yang membuat red alarm. Kalau varian lain, bukan B1351, masih bisa dengan kadar titer antibodi sama (satu per 1.000 antibodi)," lanjut Ahmad, yang juga Ketua Lembaga Penelitian Universitas YARSI.

3 dari 5 halaman

Lawan Varian B1351 dengan Vaksin Pfizer dan Moderna

Vaksinasi Tenaga Pendidik dan Lansia di Mall
Perbesar
Tenaga medis melakukan vaksin Covid-19 di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Senin (12/04/2021). Vaksinasi tenaga pendidik sebagai bentuk dukungan Lippo Group untuk membantu percepatan vaksin guru dengan tujuan agar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bisa berjalan dengan aman. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Terkait jenis vaksin COVID-19 yang dianggap mampu melawan varian B1351, menurut Ahmad R Utomo, bila menggunakan AstraZeneca hanya mampu sedikit efektif. Di Afrika Selatan, peneliti mengambil darah dari orang yang divaksin, dan nampaknya varian B1351 bisa mengurangi efektivitas vaksin COVID-19.

"Mau tidak mau, memang ada vaksin COVID-19 yang kurang bagus, seperti AstraZeneca untuk menghadapi varian Afrika Selatan. Tapi kalau varian virus Corona lain, seperti B117 asal Inggris, vaksin AstraZeneca masih bisa handle," ujarnya,

"Kemungkinan di Indonesia yang dominan B117, karena relatif lebih sering ditemukan dibandingkan yang varian B1351 Afrika Selatan."

Data Kementerian Kesehatan, varian B117 sudah ditemukan di Indonesia sejak Januari 2021. Hingga saat ini, ada 13 kasus varian B117.

Melihat penyebaran varian baru virus Corona yang masuk ke Indonesia, kata Ahmad, surveilans deteksi virus Sars-CoV-2 penyebab COVID-19 menjadi penting. Kalau varian B1351 mendominasi, Indonesia tidak bisa lagi menggunakan vaksin AstraZeneca.

"Opsinya apa? Kalau lihat dari data ya pakainya vaksin Pfizer, Moderna atau mungkin yang Novavax dengan titer antibodi 60 persen," tutup Ahmad.

"Berita bagusnya, kalau misalnya B117 lebih dominan nanti, masih bisa dikendalikan dengan vaksin AstraZeneca. Tapi kalau B1351 ya AstraZenecea sepertinya agak lemah dia mengendalikan virus."

4 dari 5 halaman

Infografis 3 Varian Virus Corona Paling Menular Lolos ke Indonesia

Infografis 3 Varian Virus Corona Paling Menular Lolos ke Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 3 Varian Virus Corona Paling Menular Lolos ke Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓