24 Jam Krusial Pria 21 Tahun yang Meninggal Usai Terima Vaksin AstraZeneca

Oleh Liputan6.com pada 11 Mei 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 13:00 WIB
FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker "Vaksin COVID-19" dan jarum suntik dengan logo perusahaan farmasi AstraZeneca, London, Inggris, 17 November 2020. Vaksin buatan AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford ini disebut 70 persen ampuh melawan COVID-19. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Sambil menahan tangis, ibunda pria 21 tahun yang meninggal dunia usai menerima vaksin AstraZeneca alias TFV, Zakiah, bercerita 24 jam krusial putranya. 

Sebagai pegawai outsourcing di suatu BUMN, TFV berkesempatan memeroleh vaksin COVID-19 pada Rabu, 5 Mei 2021. TFV yang pergi kerja dalam keadaan sehat, membuat kaget Zakiah karena tidak biasa pulang cepat. Dia mengeluh badan linu hingga sakit kepala.

"Pulang ke rumah sekitar setengah 4 atau jam 4. Saya tanya 'Kenapa bang, kok sudah pulang baru gini hari?', saya divaksin, Ma, badan saya linu semua rasanya, kepala saya sakit banget," kata Zakiah menirukan percakapan bersama putranya saat berbincang dengan Merdeka.com di kediamannya, kawasan Buaran, Jakarta Timur, Selasa, 11 Mei 2021.

Sang ibunda menyarankan TFV membatalkan puasanya dengan air putih. Pria tersebut pun terlelap hingga waktu berbuka. Setelah meneguk teh manis, dia kembali terlelap.

Namun, tengah malam TFV terjaga. Sakit kepala semakin tidak tertahankan. Zakiah menceritakan rintihan kesakitan yang dialami putranya.

"Mah, saya enggak kuat, tolong, Mah, kepala saya sakit banget, Mah. Tulang saya linu, sakit semua," kata TFV ditirukan Zakiah.

"Sampai dia nyebut, Ya Allah, Mah, saya engga pernah sakit, kenapa sekali divaksin? Saya sakit, Ya Allah," Zakiah melanjutkan.

Zakiah menyarankan anaknya meminum obat sakit kepala. Namun, TFV menolak lantaran takut. Sempat diukur suhunya, dan panas. Namun, tak lama langsung turun. TFV kembali terlelap hingga pagi.

Keesokan paginya, TFV diantar teman ke dokter. Namun, dokter yang dia datangi baru buka praktik sekitar pukul 20.00 WIB. Dia pun Kembali ke rumah, dengan kondisi masih merintih sakit kepala.

Tidur menahan sakit, TFV masih bercanda dengan sang adik. Meminta adiknya untuk memijitnya, dengan janji akan dibelikan paket internet.

"Tolong, dek, pijitin Aa' dong kakinya. Pijitin kakinya, tar abang beliin paketan," cerita Zakiah.

 

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Tak lama, TFV duduk bersandar. Dirinya terlihat lemas. Badannya tidak kaku. Dia pun tak berbicara. Panik melihat kondisi putranya, Zakiah meminta bantuan dan mengantar ke rumah sakit terdekat.

Rumah sakit paling dekat adalah Asta Nugraha yang merupakan rumah sakit bersalin. TFV dan ibunya ditolak karena tidak bisa membantu pasien akibat vaksinasi.

Kemudian disarankan pindah ke rumah sakit yang lebih besar. Ketika menunggu kendaraan untuk ke rumah sakit lain, RS Asta Nugraha memanggil kembali untuk diperiksa di dokter umum.

Dokter menyatakan TFV sudah meninggal dunia. Saat dipastikan menggunakan alat, dinyatakan telah meninggal pada Kamis, 6 Mei 2021, pukul 12.30.

"Untuk memastikan harus tes jantung, dibawa ke dalam dipastikan di situ jam 12.30 dokter menyatakan sudah tidak ada," kata Zakiah sambil menahan air matanya.

Penulis : Ahda Bayhaqi/ Redaksi Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓