Sanksi Nekat Mudik, Satgas COVID-19: Siapapun Melanggar Harus Siap Konsekuensinya

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 08 Mei 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 08 Mei 2021, 14:00 WIB
Wiku Adisasmito
Perbesar
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers perkembangan COVID-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 1 April 2021. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Lukas)

Liputan6.com, Jakarta Terkait sanksi bagi yang nekat mudik, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menegaskan, siapapun yang melanggar harus siap dengan konsekuensinya. Implementasi larangan mudik Lebaran 2021 pada 6-17 Mei 2021, jajaran kepolisian berjaga di seluruh wilayah perbatasan.

Bagi masyarakat yang nekat mudik Lebaran, pihak kepolisian akan memberikan sanksi, seperti kendaraan, penahanan kendaraan, dan denda. Bahkan larangan kendaraan beroperasi, misal angkutan mudik.

"Terdapat beberapa sanksi yang akan dijatuhkan bagi masyarakat yang masih nekat melakukan perjalanan tanpa surat hasil negatif COVID-19 maupun surat izin pelaku perjalanan, di antaranya penahanan kendaraan selama masa larangan mudik oleh Polri," jelas Wiku di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/5/2021).

"Bagi kendaraan travel gelap atau berplat hitam, penyitaan kendaraan oleh Polri dan pemberian sanksi denda terhadap penggunaan mobil angkutan barang untuk mudik. Yakni dikeluarkan dari jadwal dan dilarang beroperasi selama periode Idulfitri."

Larangan beroperasi yang melanggar mudik juga ditujukan bagi perusahaan angkutan umum dan badan usaha ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) yang melanggar peraturan arus transportasi sebagaimana mengacu kepada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 13 Tahun 2021.

Para penumpang yang nekat mudik juga diberi sanksi berupa dikembalikan ke wilayah asal perjalanan. "Bagi siapapun yang berani melanggar kebijakan ini, maka harus siap dengan konsekuensinya," pungkas Wiku.

2 dari 4 halaman

Temuan Kerumunan Masyarakat yang Nekat Mudik

FOTO: Polisi Gagalkan Upaya Mudik Menuju Jawa Tengah
Perbesar
Sejumlah calon pemudik terjaring razia penyekatan di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia tersebut dibawa ke Terminal Pulogebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Wiku Adisasmito menambahkan, Satgas COVID-19 menerima laporan terkait adanya kerumunan masyarakat yang nekat mudik Lebaran. Rata-rata mereka naik transportasi umum untuk mudik, misal bus.

"Sampai saat ini, Satgas sudah menerima banyak laporan temuan di lapangan, yakni adanya penumpukan masyarakat yang memanfaatkan transportasi umum yang terlantar di pintu penyekatan akibat tidak memenuhi syarat berjalan," tambahnya.

"Terlihat penumpukan ini menimbulkan kerumunan, yang mana beberapa orang terlihat tidak memakai masker."

Melihat situasi di atas, Wiku meminta para perusahaan angkutan umum mengembalikan penumpang ke tempat asal keberangkatan. Para petugas juga diminta tetap tegas menegakkan sanksi bagi para pelanggar mudik.

"Mohon kerjasamanya bagi perusahaan angkutan umum untuk mengembalikan lagi para penumpang ke tempat asal berjalan. Bagi petugas di lapangan, mohon untuk tidak segan-segan menindaklanjuti pelanggaran (mudik) yang dilakukan sesuai hukum yang berlaku," lanjut Wiku.

3 dari 4 halaman

Infografis Geger Kerumunan Pasar Tanah Abang

Infografis Geger Kerumunan Pasar Tanah Abang. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Geger Kerumunan Pasar Tanah Abang. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓