Varian Corona B117 Lebih Cepat Menular, Pakar Ingatkan Jangan Sampai Si Virus Temukan Inang

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 05 Mei 2021, 17:00 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 17:00 WIB
Banner Infografis Varian Baru Virus Corona Hantui Inggris. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Banner Infografis Varian Baru Virus Corona Hantui Inggris. (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Varian Corona B117 asal Inggris lebih cepat menular, Ahli Biomolekuler Ahmad R Utomo mewanti-wanti, jangan sampai varian virus Corona ini menemukan inangnya (manusia). Ketika menemukan inang atau orang yang terinfeksi varian B117, potensi varian tersebut untuk bermutasi dapat terjadi.

Tingkat penularan dari varian virus Corona B117 diketahui lebih tinggi sekitar 36 sampai 75 persen dibandingkan dengan jenis varian virus yang beredar sebelumnya. Varian B117 pun menjadi salah satu Variant of Concern (VoC) yang terus dipantau oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Di Inggris, kenapa varian B117 menjadi VoC? Karena dia cepat sekali penularannya. Naiknya itu bisa 30, 50, 70 persen, bahkan sekarang 90 persen dalam hitungan bulan," ungkap Ahmad saat berbincang dengan Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Selasa, 4 Mei 2021.

"Nah, di Indonesia tidak mencapai (kecepatan persentase penularan) itu. Jadi, dia kemungkinan belum sampai menular ke orang lain atau belum sempat ditularkan. Hanya saja, hati-hatinya begini, kalau sampai varian itu menemukan inangnya, bisa bahaya."

Ahmad memberikan gambaran, misalnya, tidak semua orang mempunyai imunitas yang stabil dan seimbang. Tatkala varian B117 ini menginfeksi orang yang bersangkutan bisa berujung munculnya mutasi baru dari varian B117.

"Kalau sampai varian ini menemui teman-teman kita yang seperti itu. Yang terjadi ya bahaya sekali, karena nanti muncul mutasi virus Corona baru," jelasnya.

2 dari 5 halaman

Jaga Jarak, Jurus Hindari Varian Virus Corona B117

FOTO: Dituduh Pro Rusia, Presiden Ceko Didemo Ribuan Warganya
Perbesar
Warga berusaha jaga jarak saat berdemonstrasi di Praha, Republik Ceko, Kamis (29/4/2021). Ribuan warga berunjuk rasa menentang Presiden Milos Zeman dan menuduhnya melakukan pengkhianatan atas sikap pro Rusia pada dugaan partisipasi mata-mata Rusia dalam ledakan di Ceko. (AP Photo/Petr David Josek)

Melihat kecepatan penularan varian virus Corona B117, Ahmad R Handoyo menekankan, pentingnya setiap individu menjaga jarak. Ini juga karena virus Sars-CoV-2 membutuhkan inang untuk bisa menularkan kepada orang lain.

"Maka, harus dijaga jaga jarak. Itulah kenapa kita harus jaga protokol kesehatan. Virus ini untuk bisa menular ke orang lain perlu inang," lanjutnya.

"Ada ilmuwan India mengatakan, COVID-19 disebabkan oleh virus, tapi ditularkan manusia. Kalau manusianya tetap jaga jarak, mau varian apapun, dia (virus) enggak akan berkutik. Karena dia tidak bisa ke mana-mana (menularkan). Dalam hal ini, orang-orang sudah jaga jarak."

Pertama kali varian virus Corona B117 asal Inggris ditemukan di Karawang, Jawa Barat. Yang perlu kita hadapi memang tidak mudah menyetop masuknya varian. Terlebih lagi ada mobilitas global.

"B117 ini juga menarik, karena sebagai faktor pendorong terjadi peningkatan kasus di Inggris. Padahal, waktu itu Inggris masih lockdown. Justru pada saat lockdown, kasus COVID-19 dari varian ini melonjak," Ahmad menambahkan.

"Sebetulnya kalau kita baca lagi jurnal dan artikel, ternyata pada November 2020 (merebaknya B117), Inggris masih ada tatap muka sekolah. Jadi, tidak sepenuhnya lockdown sebenarnya di sana. Memang aktivitas lain, tapi sekolah masih ada yang buka."

3 dari 5 halaman

Varian Virus Corona B117 di Indonesia Belum Dominan

FOTO: Calon Penumpang Bandara Soetta Mengular Antre Rapid Test
Perbesar
Polisi mengingatkan jaga jarak saat calon penumpang mengntre untuk rapid test antigen di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (22/12/2020). Layanan rapid test antigen dibanderol dengan harga Rp 200 ribu. (merdeka.com/Arie Basuki)

Menilik kejadian di Inggris, yang mana varian B117 menyebar saat situasi lockdown, Ahmad R Handoyo menambahkan, apabila kita membuka sekolah tatap muka, harus dipertimbangkan matang.

"Kalau kita mau pelajari saat pembukaan sekolah, banyak faktor yang harus diawasi, karena kan memang varian B117 menular lebih cepat daripada 'nenek moyangnya' (asli dari Tiongkok)," tambahnya.

"Kenyataannya di Indonesia belum menjadi varian yang dominan. Varian ini kan ditemukan sekitar dua bulan yang lalu. Kalau B117 sangat menular, harusnya sampling yang diambil beberapa mingu lalu mayoritas B117, tapi kalau enggak salah angkanya (kasus) belum sampai tinggi juga."

Kondisi tersebut, menurut Ahmad, ada dua kemungkinan. Pertama, varian B117 'terisolir', yang mana berhenti pada mereka yang pertama kali terinfeksi. Artinya, mereka belum sempat menularkan atau belum sampai bertemu banyak orang.

"Sehingga dia (virus) bergenti (menularkan). Kalau itu betul, ya alhamdulillah. Virus ini secanggih apapun varian yang ada karena variasi dari berbagai mutasi. Kemudian masyarakat harus pahami," imbuhnya.

"Varian virus bukan satu mutasi saja, melainkan kumpulan beberapa mutasi dan kombinasi bisa menciptakan mutasi lain. Kalau kita lihat, apakah variasi B117 'canggih?' Kalau kita lihat bisa lumayan canggih, apalagi di sana (Inggris) masih buka sekolah tatap muka waktu."

Mengenai insiden kasus varian virus B117, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menyebut, ada 13 virus dengan varian B117 atau varian yang asalnya dari Inggris ditemukan di Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara. (Selengkapnya: Rincian Kasus Varian Virus Corona B117, B1617 dan B1351 yang Masuk Indonesia)

4 dari 5 halaman

Infografis 3 Kelompok Harus Dilindungi Saat Jaga Jarak Cegah Covid-19

Infografis 3 Kelompok Harus Dilindungi Saat Jaga Jarak Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 3 Kelompok Harus Dilindungi Saat Jaga Jarak Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓