Fakta-Fakta Varian Virus Corona B1617 India yang Sudah Masuk Indonesia

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 04 Mei 2021, 11:00 WIB
Diperbarui 04 Mei 2021, 11:00 WIB
Varian Baru Virus COVID-19
Perbesar
Varian Baru Virus COVID-19 (Liputan6.com/Trieyasni)

Liputan6.com, Jakarta Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan baru saja mengumumkan bahwa di Indonesia sudah ditemukan varian baru Virus Corona B1351.

Varian ini awalnya berasal dari Afrika Selatan kemudian ditemukan pula di India dan kini di Indonesia. Ditemukan juga varian Virus Corona B1617 yang awalnya dilaporkan di India dan peningkatan jumlahnya kurang lebih sejalan dengan peningkatan kasus di India yang sekarang juga sudah ditemukan di Indonesia.

Khusus tentang B1617 yang memang bermula dari India ini maka informasi lebih lanjut adalah sebagai berikut:

- Sejak akhir April 2021 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menggolongkan galur varian B.1.617  'naik kelas' sebagai Variant of Interest (VOI), bersama dengan B.1.525, B.1.427/ B.1.429, B.1.1.28.2, alias P.2, B.1.1.28.3 alias P.3, B.1.526 dengan E484K atau S477N dan B.1.616.

- Sering juga disebut double mutant (mutasi ganda).

- Dari analisa lebih lanjut maka ternyata varian ini ada berbagai bentuknya pula, seperti B.1.617.1, B.1.617.2, dan B.1.617.3.

“B.1.617.1 dan B.1.617.2 pertama kali diidentifikasi di India pada Desember 2020 dan jumlahnya juga meningkat sejalan dengan peningkatan kasus yang ada sekarang ini,” ujar Tjandra melalui pesan teks kepada Health Liputan6.com, Selasa (4/5/2021).

Tiga karakteristik varian ini adalah L452R, P681R, dan E484Q (pada B.1.617.1 dan B.1.617.3), Tjandra menambahkan.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Tjandra menambahkan, sebagian mutasi dalam varian B.1.617 ternyata sudah pernah dilaporkan pada VOC dan VOI lain terdahulu. L452R misalnya juga terdapat pada VOI lain yaitu B.1.427/ B.1.429 yang berhubungan dengan peningkatan penularan dan juga sebagian pengurangan netralisasi.

P681R juga diduga dapat meningkatkan penularan. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa E484Q nampaknya dapat menurunkan netralisasi, jadi memiliki potensi berpengaruh pada efikasi vaksin.

Studi awal modelling oleh WHO berdasar sekuens yang dimasukkan ke Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) menduga bahwa varian B.1.617 punya kemungkinan berkembang (“growth rate”) lebih tinggi dari varian lain yang ada di India.

“Sementara B.1.351 memang sudah dikenal sebagai Variant of Concern (VOC) WHO bersama B.1.1.7, kedua jenis varian ini kini sudah ada di Indonesia,” tutupnya.

3 dari 4 halaman

Infografis Jangan Sampai Ada Gelombang Kedua COVID-19

Infografis Jangan Sampai Ada Gelombang Kedua Covid-19
Perbesar
Infografis Jangan Sampai Ada Gelombang Kedua Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓