Berkaca dari Kasus Alat Tes Antigen Bekas, Kemenkes dan Satgas COVID-19 Harus Yakinkan Warga Berani Bertanya

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 30 Apr 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 30 Apr 2021, 15:00 WIB
Seribuan Penumpang Kereta Rapid Test di Stasiun Gambir
Perbesar
Calon penumpang mengikuti rapid test antigen di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (23/12/2020). Rapid test tersebut dilakukan untuk melengkapi syarat perjalanan untuk menggunakan layanan kereta api. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Berkaca dari kasus alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Kementerian Kesehatan dan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 harus meyakinkan warga untuk berani bertanya. Hal ini disampaikan oleh Inisiator Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia Erry Riyana Hardjapamekas.

Apalagi selepas kejadian daur ulang alat tes antigen dari layanan Rapid Test COVID-19 PT Kimia Farma, masyarakat pun ada yang meragukan untuk melakukan tes antigen. Padahal, testing merupakan salah satu upaya penanganan pandemi COVID-19.

"Kemenkes dan Satgas COVID-19 harus meningkatan kampanye dan meyakinkan masyarakat untuk berani bertanya, 'Ini (alat tes antigen) baru atau bukan, sudah dibuka atau belum.' Boleh dicek begitu oleh masyarakat yang akan diswab," terang Erry dalam acara Uji Swab Antigen di Jawa Barat, Kamis, 29 April 2021.

"Biasanya juga kalau kita ke dokter, ada dokter yang menyampaikan kepada pasien, 'Pak/Bu, ini obatnya ya, ini alatnya, saya belum buka atau ini kedaluwarsa obat tanggal sekian.' Baru kemudian dokter memberikan obat atau tindakan kepada pasien."

Menurut Erry, apa yang dilakukan dokter dapat diterapkan tatkala masyarakat melakukan tes antigen atau vaksinasi.

"Misalnya, petugas kesehatan bilang, 'Ini alat kit baru saya buka ya Pak/Bu.' Jadi, masyarakat harus berani bertanya mengenai kebaruan alat yang akan dimasukkan ke dalam tubuh," jelas Erry, yang pernah menjabat sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Edukasi dan Kampanye agar Warga Berani Bertanya Alat Tes Antigen

Tes Swab Gratis Peserta UTBK SBMPTN 2021
Perbesar
Peserta UTBK SBMPTN 2021 menunggu tes swab antigen di Kompleks UNJ, Senin (12/4/2021). Pelaksanaan swab antigen gratis hanya diberikan pada 5.000 peserta dengan ketentuan gelombang I kuota untuk 2.500 peserta dan gelombang II untuk 2.500 peserta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Senada dengan Erry Riyana Hardjapamekas, Alif Iman Nurlambang dari Inisiator Gerakan Solidaritas Sejuta Tes Antigen untuk Indonesia juga menekankan, pentingnya berani bertanya sebelum masyarakat dilakukan tes antigen.

Hal tersebut untuk memastikan keamanan dan kenyamanan, baik petugas kesehatan maupun masyarakat yang akan diswab.

"Saya pikir, vaksinasi atau swab sesuai standar prosedur tertentu juga harus disampaikan tenaga kesehatan (kepada masyarakat). Semua itu memastikan keamanan dan kenyamanan kedua belah pihak," Alif menambahkan.

"Jadi, tidak perlu atau jangan sungkan untuk bertanya. Dan perlu ada edukasi dan kampanye dari Pemerintah atau Satgas COVID-19 supaya masyarakat jangan ragu untuk bertanya soal kebaruan alat tes antigen yang digunakan."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen

Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen (Liputan6.com / Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓