Pemikiran Keliru yang Turun Temurun Jadi Tantangan Terwujudnya Kesetaraan Gender

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 29 Apr 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 29 Apr 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi perempuan dan kesetaraan gender
Perbesar
Ilustrasi perempuan dan kesetaraan gender. Foto (Ade Nasihudin/Liputan6.com.

Liputan6.com, Jakarta Pemikiran turun temurun terkait perempuan lebih rendah posisinya ketimbang laki-laki menjadi tantangan dalam terwujudnya kesetaraan gender.

Seperti disampaikan Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Pribudiarta Nur Sitepu. Menurutnya, akar masalah ketimpangan gender yang terjadi di Indonesia maupun di dunia tak lepas dari pemikiran keliru yang sudah ada sejak dulu.

“Pemikiran turun temurun bahwa perempuan lebih rendah posisinya dibandingkan dengan laki-laki menjadi akar masalah dari ketimpangan gender yang masih terjadi, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia,” ujar Pribudiarta mengutip rilis KemenPPPA, Rabu (28/4/2021).

Ia menambahkan, untuk mengikis pemikiran masyarakat yang telah kuat mengakar, dibutuhkan upaya menyeluruh dari berbagai sisi, termasuk agama. Apalagi, agama merupakan pondasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan bermasyarakat.

Pribudiarta percaya bahwa semua agama, tanpa terkecuali, memandang seluruh ciptaan-Nya sebagai mahkluk yang sama baiknya di mata Sang Pencipta, yang tidak patut diperlakukan secara diskriminatif.

Semua agama sejatinya mengajarkan kebaikan dan makhluk hidup adalah setara di mata Sang Pencipta, lanjut Pribudiarta. Sama halnya dengan laki-laki, Agama Islam memandang kaum perempuan setara bahkan memuliakannya.

“Hal tersebut terbukti tidak hanya tercantum di dalam ayat suci Al-Quran, tapi juga melalui perlakuan Rasulullah SAW terhadap kaum perempuan dan hak-hak kaum perempuan yang diberikan setelah datangnya Islam di muka bumi.”

2 dari 4 halaman

Kemuliaan Seseorang Tidak Dilihat dari Jenis Kelamin

Senada dengan Pribudiarta, Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar mengatakan bahwa agama Islam menjunjung tinggi kaum perempuan dan kesetaraan.

“Dalam Al-Quran menyebutkan orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa. Jadi, hal ini tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin, kewarganegaraan, warna kulit, dan lainnya. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kaum perempuan dan kesetaraan,” tegas Nasaruddin dalam keterangan yang sama.

Al-Quran telah memberikan isyarat bahwa kaum perempuan bisa menjadi sukses dan menjadi pemimpin melalui 3 surat yang mengisahkan Ratu Balqis. Bahkan, Rasulullah SAW menjadi yang pertama mengizinkan perempuan untuk ikut ke medan perang. Rasululllah SAW sendiri lah yang memproklamirkan kemerdekaan perempuan, tambahnya.

 “Persoalan terkait ketidaksetaraan gender bukan persoalan agama, melainkan budaya dan penafsiran agama yang kurang tepat, sehingga perempuan menjadi korban. Berhentilah melakukan penzaliman atas nama agama,” tutup Nasaruddin.

3 dari 4 halaman

Infografis Ketok Palu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Masuk Prolegnas 2021

Infografis Ketok Palu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Masuk Prolegnas 2021. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ketok Palu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Masuk Prolegnas 2021. (Liputan6.com/Trieyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by