Pandemi COVID-19 Masih Terjadi, Jangan Ulangi Kesalahan Negara Lain

Oleh Liputan6.com pada 27 Apr 2021, 07:00 WIB
Diperbarui 27 Apr 2021, 07:00 WIB
Reisa Broto Asmoro
Perbesar
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Reisa Broto Asmoro mengingatkan agar tidak mengulang kesalahan negara lain soal laju kenaikan kasus. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Kris)

Liputan6.com, Jakarta Juru Bicara Penanganan COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 masih terjadi. Ia juga menyampaikan agar jangan sampai mengulangi kesalahan negara lain yang malah mencatat kenaikan drastis kasus positif karena kelonggaran peraturan.

“Jangan lengah, jangan karena berpikir sudah divaksin, kasus sudah turun, peraturan kantor dan pariwisata sudah mulai dilonggarkan kita malah jadi takabur,” tegas Reisa dalam konferensi pers virtual pada Senin (26/4/2021). 

Untuk mencegah penularan dan kematian tinggi akibat pandemi COVID-19, pemerintah pun kembali mengeluarkan kebijakan larangan mudik. Pasalnya, peningkatan kasus positif selalu terjadi saat liburan panjang dan ketika mobilitas masyarakat tinggi. 

“Selalu terjadi kenaikan kasus setelah empat kali libur panjang di tahun lalu dan awal tahun ini,” kata Reisa.

“Sudah empat kali kita diberi pelajaran pahit, kita berduka terhadap sanak saudara, kolega, tetangga kita yang dirawat dan bahkan ada yang sampai meninggalkan kita karena COVID-19. Tentunya tidak perlu terjadi pelajaran yang kelima, bukan?” tambahnya.

Simak Juga Video Berikut

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Masker Bukan Formalitas

Infeksi Virus Corona di Filipina Tembus 1 Juta Kasus
Perbesar
Seorang pria mengendarai becaknya dengan slogan untuk mengingatkan orang agar memakai masker untuk mencegah penyebaran virus corona di Manila, Filipina, Senin (26/4/2021). Infeksi COVID-19 di Filipina melonjak melewati 1 juta pada hari Senin dalam tonggak suram terbaru. (AP Photo/Aaron Favila)

Reisa juga mengungkapkan agar masyarakat dapat tetap menerapkan protokol kesehatan. Ia menyinggung penggunaan masker bukan sekadar formalitas.

“Masker merupakan alat pelindung diri bukan formalitas agar tidak disanksi oleh petugas. Sudah banyak kisah berkerumun berubah menjadi klaster, sudah banyak cerita orang-orang yang  sudah lama mempraktikkan 3M lalu lengah saat berkerumun dan akhirnya terjangkit virus SARS CoV-2,” ujarnya.

Untuk melawan pandemi COVID-19, Reisa mengimbau agar masyarakat  memakai masker dengan benar, yakni menutupi hidung dan mulut, mencuci tangan sebelum dan sesudah memakainya. Lalu, jangan menggantung masker di dagu dan sediakan wadah khusus ketika melepas masker untuk sementara. Masker perlu diganti setelah pemakaian maksimal empat jam.

 

Penulis: Abel Pramudya Nugrahadi

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis 3M Turunkan Risiko Covid-19 Berapa Persen?

Infografis 3M Turunkan Risiko Covid-19 Berapa Persen?
Perbesar
Infografis 3M Turunkan Risiko Covid-19 Berapa Persen? (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya