Varian COVID-19 Kian Banyak, Suntikan Booster Vaksin Mungkin Diperlukan dalam 9 Bulan

Oleh Fitri Syarifah pada 20 Apr 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 27 Apr 2021, 14:19 WIB
FOTO: Virus Corona COVID-19 Infeksi 73 Juta Orang di Seluruh Dunia
Perbesar
Denzel Kennedy seorang resepsionis lini depan menerima suntikan vaksin virus corona COVID-19 Pfizer BioNtech di Hurley Clinic, London, Inggris, Senin (14/12/2020). Kasus COVID-19 di Inggris mencapai 1.869.666 kasus, dan 64.402 orang meninggal dunia. (Aaron Chown/Pool Photo via AP)

Liputan6.com, Jakarta Orang yang divaksinasi COVID-19 mungkin memerlukan suntikan penguat atau booster dalam waktu 9-12 bulan sejak vaksinasi awal mereka, saran pejabat AS.

Hal itu karena vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Pfizer dan Moderna diperkirakan menawarkan perlindungan yang kuat hanya selama 6 bulan.

Perlindungan ini nantinya ternyata bertahan lebih lama, namun kini diketahui beberapa varian virus menular lebih mudah. Itu artinya, orang mungkin memerlukan booster rutin untuk meningkatkan kekebalan terhadap virus, jelas seorang kepala petugas sains untuk gugus tugas tanggapan COVID-19 Presiden AS Joe Biden, Dr. David Kessler, saat pertemuan komite kongres pada Kamis (15 April).

"Idenya, saat ini, mereka yang lebih rentan harus mendapatkannya lebih dulu," kata Kessler, dikutip dari Live Science.

Para ahli memperkirakan sejak awal pandemi bahwa para pejabat mungkin perlu meluncurkan beberapa generasi vaksin COVID-19 serta perlunya suntikan booster secara teratur, karena para ahli tidak dapat mengetahui berapa lama kekebalan yang dihasilkan oleh vaksin akan bertahan.

Selain itu, kalau berurusan dengan virus berarti selalu ada potensi varian virus baru untuk muncul dan menggagalkan vaksin saat ini, dan meningkatkan risiko infeksi di antara orang yang telah divaksinasi.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Tidak ada Vaksin COVID-19 dengan Perlindungan 100 Persen

Mengingat tidak ada vaksin COVID-19 yang 100 persen melindungi terhadap virus Corona, CDC telah memantau infeksi tersebut sejak peluncuran vaksin dimulai, kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Dr. Rochelle Walensky.

Berdasarkan jumlah orang yang divaksinasi yang terjangkit COVID-19 dalam uji klinis, serta berdasarkan perhitungan tingkat serangan (tingkat serangan/attack rate adalah kemungkinan tertular virus setelah terpapar) virus, para ilmuwan memperkirakan sekitar satu dari setiap 2.000 orang yang menerima suntikan Pfizer atau Moderna masih akan tertular virus.

"Vaksin Johnson & Johnson menunjukkan tingkat perlindungan yang lebih rendah dalam uji coba, tingkat infeksi yang diprediksi bahkan akan mendekati satu dari 300 orang yang akan terinfeksi lagi," tulis para ilmuwan.

Sementara untuk mengatasi infeksi baru, vaksin harus sering menumpulkan serangan virus dan mengurangi kemungkinan seseorang mengembangkan gejala parah, kata kepala penasihat medis White House, Dr.Anthony Fauci pada Senin (12 April) di briefing Satuan Tugas COVID-19.

Beberapa orang yang divaksinasi mungkin tidak meningkatkan respons imun yang cukup kuat setelah disuntik, yang harusnya dapat membuat mereka rentan terhadap infeksi terobosan. Mungkin juga vaksin melindungi dari varian virus tertentu, lebih baik daripada varian yang lain, oleh karena itu diperlukan suntikan booster.

Menurut laporan Scientific American, vaksin booster COVID-19 mirip dengan vaksinasi flu tahunan, namun dapat diperbarui untuk lebih melindungi terhadap varian baru, dan uji coba vaksin semacam itu sedang berlangsung.

3 dari 4 halaman

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19?

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓