Pesan Doni Monardo kepada Anak Pahlawan Citarum Harum

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 04 Apr 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 04 Apr 2021, 08:00 WIB
Doni Monardo
Perbesar
Kepala BNPB sekaligus Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo. (Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Liputan6.com, Jakarta Pesan ‘menuntaskan kuliah’ disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo kepada keempat anak ‘Sang Pahlawan Citarum Harum.’ Sebutan ‘Pahlawan Citarum Harum’ tersemat dalam mendiang Kolonel CKM Is Priyadi, yang wafat pada Kamis, 3 Desember 2020.

Kolonel Is Priyadi merupakan salah satu sosok penting bagi Doni Monardo saat menjalankan program Citarum Harum. Kala itu, Doni masih menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi periode 2017-2018. 

Nama Kolonel Is disebut oleh Doni Monardo ketika menyampaikan orasi ilmiah usai dirinya menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari IPB University pada Sabtu, 27 Maret 2021 di Bogor, Jawa Barat.

Siapa sangka, dua hari berselang menerima gelar Honoris Causa, Doni Monardo kedatangan tamu istimewa pada Senin, 29 Maret 2021. Tamu yang dimaksud adalah istri almarhum Kolonel Is Priyadi, Rr Dyah Sulistyorini. Ia datang bersama putra kedua, Rohbi Visdya Adrian Hadinata, yang akrab disapa Rian. 

Berbincang hangat dengan Doni, Dyah mengisahkan sang suami tercinta begitu mengagumi Doni Monardo. Bahkan hingga akhir hayatnya, almarhum berharap bisa mendampingi mantan panglimanya (Doni) berperang melawan COVID-19. 

“Tapi takdir menentukan lain,” tutur Dyah sambil menahan isak tangis, ditulis Minggu, 4 April 2021. 

Ketika bertemu Doni Monardo, Dyah membawa poster empat lembar, berisi kliping pemberitaan wafatnya suami disertai foto-foto. Poster kliping pemberitaan dibuat sendiri oleh Dyah untuk ditandatangani Doni.

“Anak kami empat Bapak… Poster-poster dan buku-buku ini kami cetak empat, niatnya saya akan bagikan kepada anak-anak, sebagai kenang-kenangan. Mohon berkenan Bapak (Doni) menandatangani,” ujar Dyah.

2 dari 6 halaman

Pesan Doni Monardo untuk Anak Pahlawan Citarum

Doni Monardo
Perbesar
Pesan Kepala BNPB Doni Monardo kepada anak-anak “Pahlawan Citarum Harum” Kolonel Ckm dr. Is Priyadi saat dikunjungi almarhum istri Kolonel Is pada Senin, 29 Maret 2021. (Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Doni Monardo berkenan menandatangani poster yang dibawa Rr Dyah Sulistyorini,  istri almarhum Kolonel Is Priyadi. Bukan hanya poster, melainkan buku berisi hasil penelitian Kolonel Is Priyadi saat mendapat tugas melakukan penelitian air Sungai Citarum. 

“Tentu saya bersedia menandatanganinya. Masyarakat harus tahu, setelah ada hasil penelitian mengenai kadar pencemaran air Citarum yang dilakukan almarhum Kolonel Is Priyadi, barulah saya mengerjakan program Citarum Harum. Tanpa hasil penelitian almarhum, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” imbuhnya melalui keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com.

Doni juga sempat menanyakan kondisi keluarga. Dyah lantas menyebut satu persatu putra-putrinya. Yang sulung Rohbi Visdya Harris Chandra dan putra kedua Rohbi Visdya Adrian Hadinata (Rian) yang mendampingi ibunda. 

Anak ketiga Rohbi Visdya Novrian Ardiansyah masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya semester 6 serta si bungsu, Rohbita Visdya Hestika Anggraini kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya semester 2.

Penuh kebapakan, sambil memandang Rian, Doni berpesan, “Jangan patah semangat. Sampaikan ke kakak-kakak dan adikmu harus terus kuliah sampai selesai.”  

Rian langsung menjawab semangat, “Siap, Bapak!”

3 dari 6 halaman

Kenangan Doni Monardo terhadap Mendiang Kolonel Is Priyadi

Kolonel Ckm dr. Is Priyadi
Perbesar
Kolonel Ckm dr. Is Priyadi (Istimewa)

Sosok Kolonel Is Priyadi diceritakan Doni Monardo sebagaimana termaktub pada halaman 8 naskah orasi ilmiah setelah pelantikan dirinya menerima gelar Doktor Kehormatan dari IPB. (Selengkapnya: Dianugerahi Doktor Honoris Causa IPB, Doni Monardo Menangis Haru Saat Baca Orasi Ilmiah)

Proses penuntasan Citarum diawali dengan pemeriksaan sampel air yang dipimpin oleh Kakesdam III/Siliwangi, Kolonel dr. Is Priyadi, yang hasilnya air Citarum mengandung logam berat seperti Timbal, Cadmium, serta bakteri Salmonella, Ecoli, dan Pseudomonas Areogonosa.

Sayang, dr. Is Priyadi telah wafat tahun lalu, meninggalkan jasa abadi bagi pemulihan Sungai Citarum.

Doni pun mengilas balik. Sesaat setelah dilantik menjadi Pangdam III/Siliwangi, ia bertekad menuntaskan pencemaran Sungai Citarum, yang saat itu mendapat stigma salah satu sungai terkotor di dunia. 

“Tapi sebelumnya, saya tugaskan Kakesdam, yakni Kolonel Is Priyadi untuk mengambil sampel air Citarum dan memeriksakan ke laboratorium independen,”  cerita Doni mengenang almarhum Kolonel CKM Is Priyadi, yang dalam beberapa kesempatan disebutnya sebagai salah satu Pahlawan Citarum Harum. 

“Saya bilang, ‘Jangan sampai bocor, ini hanya antara kita yang tahu.’ Saya khawatir kalau di lab yang tidak independen, hasilnya bagus-bagus saja.”

Data akurat tentang kondisi air Sungai Citarum ternyata kondisinya sangat parah. Volume tinja manusia yang masuk ke Sungai Citarum 35,5 ton per hari. Sementara itu, kotoran ternak yang masuk ke Citarum 56 ton per hari.

Tak kurang dari 20,462 ton sampah per hari masuk ke sungai Citarum, yang di antaranya, 71 persen tidak terangkut. Tim Survey Kodam Siliwangi juga menemukan kantong darah HIV/AIDS, potongan organ bagian dalam tubuh manusia, alat medis bekas pakai, dan lain-lain.

Kondisi kian diperparah dengan adanya 1.900 industri penghasil limbah dan membuangnya ke Citarum, yang 90 persen di antaranya belum memenuhi standar IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Data valid bersumber dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat.

4 dari 6 halaman

Data Kandungan Air Citarum Dikumpulkan Kolonel Is Priyadi

Kolonel Ckm dr. Is Priyadi
Perbesar
Kenangan Kepala BNPB Doni Monardo kepada “Pahlawan Citarum Harum” Kolonel Ckm dr. Is Priyadi saat dikunjungi almarhum istri Kolonel Is pada Senin, 29 Maret 2021. (Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Sebagaimana tugas yang diberikan Doni Monardo,  Kolonel Is Priyadi-lah yang mengumpulkan data dan melakukan penelitian kandungan air Citarum. Uji lab atas air yang ada di Citarum dan sungai anakannya terkandung besi (fe), Mangan (Mn), Zat Organik, dan kekeruhan.

Logam berat berdampak, antara lain gangguan otak dan syaraf, kanker jantung, kanker pembuluh darah, dan kecacatan reproduksi. Itu pula yang mengakibatkan banyak anak autis serta bertambahnya penderita kanker.

Uji klinis pada ikan dan air yang ada di Citarum ikut mencengangkan dan membuat geram Panglima Doni Monardo. Kandungan merkuri ditemukan dari hasil uji terhadap ikan lele yang ada di Cilampeni dan Cimaranggi. 

Merkuri juga ditemukan pada hasil uji ikan emas yang ada di Cisanti. Hasil penelusuran lebih jauh, ternyata di salah satu zona, ada penambangan emas liar yang menggunakan merkuri secara serampangan dan ilegal.

Bahaya merkuri bisa mengakibatkan gangguan otak dan mental, tremor, radang dan pembengkakan gusi, gangguan perut dan ginjal, mengganggu perkembangan otak janin pada wanita hamil, bengkak, kebas, kesemutan pada tangan dan kaki, serta bisa mengakibatkan kulit tubuh terkelupas.

Ada juga kadar bakteri, sejenis e-coli dan lain-lain disebabkan besarnya volume tinja manusia yang masuk ke Sungai Citarum serta kotoran ternak. Kandungan lain di Sungai Citarum adalah bakteri pseudomonas aeruginosa yang bisa mengakibatkan meningitis/radang selaput otak, radang selaput mata, radang saluran kemih, dan luka membusuk. 

“Setelah data terkumpul, berkat kerja keras almarhum Kolonel Is, barulah saya merancang aksi satu kesatuan komando dari hulu ke hilir dengan semua komponen dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Alhasil, sungai sepanjang 269 km itu pun dibagi menjadi 22 sektor (untuk dibersihkan),” kata Doni pada Desember 2020.

5 dari 6 halaman

Infografis 10 Jurus Cegah Klaster Sekolah Tatap Muka

Infografis 10 Jurus Cegah Klaster Sekolah Tatap Muka
Perbesar
Infografis 10 Jurus Cegah Klaster Sekolah Tatap Muka (Liputan6.com/Triyasni)
6 dari 6 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓