Toxic Relationship yang Berlanjut Sampai ke Pernikahan, Kehidupannya Rentan Bermasalah

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 24 Mar 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 24 Mar 2021, 09:00 WIB
Ilustrasi Remaja
Perbesar
Ilustrasi pasangan remaja. (Sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan remaja penting untuk mendapatkan edukasi mengenai cara memilih teman dan calon jodoh. Salah satunya agar tidak terjebak dalam "toxic relationship."

Menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, hubungan yang beracun pada pasangan yang sudah menikah dapat berdampak buruk pada keharmonisan di dalam keluarga.

"Ternyata mereka-mereka remaja, yang akan berjodoh itu pun banyak yang punya karakter tidak positif," kata Hasto dalam Seminar Nasional dan Deklarasi Gerakan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan untuk Peningkatan Kualitas SDM Indonesia .

"Ada istilahnya toxic people, yang kemudian akan menjadi toxic friendship, yang akan juga menjadi toxic relationship, di mana ini sangat mempengaruhi keharmonisan di dalam keluarga," kata Hasto.

Menanggapi fenomena-fenomena semacam ini, Hasto mengatakan bahwa remaja perlu mendapatkan pendampingan secara kerohanian, religiusitas, serta spiritualitas.

"Dasar keimanan dan juga pelajaran agama, itu sangat penting untuk mengikis dan mengurangi perilaku toxic," ujarnya seperti dikutip dari siaran di Youtube Kementerian PPPA pada Senin (22/3/2021).

2 dari 5 halaman

Dampak Toxic Relationship Saat Berkeluarga

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo
Perbesar
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo. (Dok Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN)

Hasto melanjutkan, pernikahan di usia yang terlalu dini pun harus dicegah agar tidak terjebak dalam hubungan pada pasangan yang bersifat negatif atau toxic relationship. Menurutnya, hubungan yang buruk pada pasangan juga dapat berdampak pada buah hati.

"Kalau kita lihat pasangan di usia yang terlalu muda, dia secara fisik, emosional, dan mental, juga belum mendukung," kata Hasto. "Kemudian juga kadang-kadang didasari oleh cinta yang buta. Ini cukup berbahaya pada keluarga dan juga anak."

Hasto mengungkapkan, angka perceraian di Indonesia saat ini termasuk memprihatinkan. Ia mengatakan hal ini mencerminkan kualitas keluarga di Tanah Air.

Kondisi tersebut tidak lepas dari semakin bertambahnya fenomena pernikahan di usia yang terlalu muda, serta banyaknya hubungan seks sebelum menikah.

"Kontak seks pertama itu setiap tahun semakin maju. Kemudian juga pernikahan, karena pendidikan diharapkan semakin mundur. Karena ini menyangkut kesehatan dari bayi yang dilahirkan," katanya.

 

3 dari 5 halaman

Risiko Menikah Muda

Cincin Pernikahan
Perbesar
Ilustrasi/copyright pixabay.com/StockSnap

Hasto menegaskan bahwa pernikahan di usia terlalu dini dapat mempengaruhi kualitas anak di masa mendatang. Dia menjelaskan, jika perempuan hamil di usia terlalu muda maka ibu berisiko tinggi mengalami kanker mulut rahim.

"Kemudian juga bayi yang dilahirkan kurang berkualitas, karena tentu diameter ukuran panggulnya saja masih sempit kalau usia ibu masih terlalu muda," ia menambahkan.

Kondisi itu dapat membuat bayi berisiko mengalami kematian atau cacat, akibat proses persalinan yang membuat mereka trauma.

Bahaya lain dari kehamilan di usia muda adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Selain itu pertumbuhan tulang perempuan menjadi tidak baik apabila harus hamil di usia terlalu muda.

4 dari 5 halaman

Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah

Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah
Perbesar
Infografis Bedanya Kartu Nikah dengan Buku Nikah. (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓