BKKBN: Tak Bisa Memperbaiki Kualitas Sebuah Keluarga Tanpa Tahu Potretnya Seperti Apa

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 09 Mar 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 09 Mar 2021, 18:00 WIB
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo
Perbesar
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo berkomitmen tingkatkan akses dan kualitas Pelayanan dan Penggerakan Program Bangga Kencana selama COVID-19 di Kantor Pusat BKKBN, Jakarta, Rabu (27/1/2021). (Dok Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional/BKKBN)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakan, banyak permasalahan yang sesungguhnya dapat diselesaikan dengan merunut hingga ke tingkat keluarga.

"Kita kalau ingin mengurai suatu permasalahan, itu alangkah baiknya kalau permasalahan itu dirunut sampai ke tingkat keluarga atau analisis akar penyebab masalah di tingkat keluarga," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo.

Maka dari itu, menurut Hasto, penting untuk dilakukannya Pendataan Keluarga untuk memotret situasi sebuah keluarga. Dia menambahkan, BKKBN merupakan lembaga yang bertanggung jawab untuk membangun keluarga yang berkualitas.

"Memotret keluarga itu menjadi suatu keniscayaan bagi BKKBN. BKKBN tidak pernah bisa memperbaiki keluarga menjadi berkualitas, tanpa tahu potretnya keluarga seperti apa," kata Hasto dalam kegiatan Ngobrol Bareng Kepala BKKBN Bersama Jurnalis pada Selasa (9/3/2021).

Hasto mengatakan Pendataan Keluarga sesungguhnya akan dilakukan di 2020. Namun karena pandemi, pelaksanaannya harus diundur hingga tahun 2021.

Menurut Hasto, "mendiagnosa" suatu keluarga bukanlah hal yang mudah. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan ini mengatakan, setiap keluarga memiliki masalah dan solusi yang berbeda-beda.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Pentingnya Data Mikro

Ilustrasi liburan bersama keluarga.
Perbesar
Ilustrasi liburan bersama keluarga. (dok. JillWellington/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

"Misalkan ada keluarga miskin, ternyata karena suaminya atau kepala rumah tangganya gangguan jiwa berat. Solusinya sangat berbeda dengan keluarga miskin yang semuanya sehat, tetapi menganggur," kata Hasto.

"Ada lagi yang bekerja, punya penghasilan, tetapi ada yang sakit kronis yang harus berobat terus menerus, kemudian mengeluarkan banyak biaya meskipun sudah ditanggung BPJS, ini juga berbeda."

Mantan Bupati Kulon Progo ini mengatakan, Pendataan Keluarga yang dilakukan BKKBN berbeda dengan pendataan lainnya. Ia mengatakan, pendataan ini dilakukan dalam lingkup mikro.

"Mikro itu potret satu per satu. Jadi satu keluarga itu terpotret dengan baik, by name by address," ujarnya.

Dia mencontohkan, data yang ada selama ini masih bersifat makro. Contohnya terkait stunting di satu wilayah.

"Di satu wilayah desa atau kabupaten stuntingnya 20 persen, yang miskin 10 persen, tetapi kalau ditanya di mana yang stunting itu? Jawabannya tidak tahu. Di mana yang miskin itu? Jawabannya tidak tahu. Karena datanya data makro yang diperoleh dari sampling."

Hasto mengatakan, data mikro ini penting untuk memotret kondisi keluarga "by name by address, satu per satu, sesuai dengan kondisi masing-masing."

Pelaksanaan Pendataan Keluarga ini akan dilakukan pada 1 April hingga 31 Mei 2021, oleh kader-kader pendata serta penyuluh Keluarga Berencana di seluruh desa di Indonesia. Data yang akan dihimpun terkait kependudukan, keluarga berencana, serta pembangunan keluarga.

3 dari 4 halaman

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi

Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi
Perbesar
Infografis Stunting, Ancaman Hilangnya Satu Generasi. (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓