WHO Sayangkan Beberapa Negara Prioritaskan Vaksinasi COVID-19 ke Orang Sehat Berisiko Rendah

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 02 Mar 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 02 Mar 2021, 14:00 WIB
Thailand Mulai Vaksinasi Covid-19 Sinovac
Perbesar
Seorang petugas kesehatan disuntik vaksin COVID-19 CoronaVac dari Sinovac, di Institut Penyakit Menular Bamrasnaradura di Bangkok, Minggu (28/2/2021). Pekan ini, Thailand menerima 200.000 dosis pertama vaksin Sinovac dari China dan 117.00 dosis impor vaksin AstraZeneca. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - World Health Organization (WHO) menyayangkan adanya beberapa negara yang memberikan prioritas vaksinasi COVID-19 kepada kelompok usia yang lebih muda, dibanding tenaga kesehatan dan lansia.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi persnya pada Senin (1/3/2021) waktu Jenewa, Swiss. Saat itu, ia melaporkan perkembangan vaksin COVID-19 dari COVAX.

Tedros mengatakan, Ghana dan Pantai Gading telah mulai vaksinasi virus corona bagi tenaga kesehatan. Menjadikan mereka negara pertama yang memulai kampanye vaksinasi dengan dosis yang didapat melalui COVAX.

Mantan Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri Ethiopia itu mengatakan dirinya gembira melihat petugas kesehatan di negara berpenghasilan rendah mulai vaksinasi.

"Namun sayangnya hal ini terjadi hampir tiga bulan usai beberapa negara kaya memulai kampanye vaksinasi mereka," katanya.

"Sangat disayangkan beberapa negara terus memprioritaskan vaksinasi bagi yang lebih muda, orang dewasa yang lebih sehat dengan risiko penyakit lebih rendah di populasi mereka sendiri, ketimbang petugas kesehatan dan orang berusia lanjut di tempat lain."

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

 

 

 

2 dari 4 halaman

Bukan Perlombaan Antar Negara

Ilustrasi vaksinasi/ Pexels
Perbesar
Ilustrasi vaksinasi (Foto oleh Gustavo Fring dari Pexels).

Tedros mengingatkan bahwa ini bukanlah perlombaan antarnegara. "Negara-negara tidak berpacu satu sama lain, ini adalah perlombaan melawan virus."

Ia meminta agar negara-negara tidak mempertaruhkan rakyatnya sendiri, dan meminta semua negara menjadi bagian dari upaya global untuk menekan penyebaran virus di mana pun.

"WHO dan mitra kami di COVAX akan terus bekerja siang dan malam menuju visi kami untuk melihat vaksinasi dimulai di setiap negara dalam 100 hari pertama tahun ini. Sekarang ada 40 hari tersisa," ujar Tedros.

"Visi ini hanya bisa kami wujudkan dengan dukungan dan kerjasama semua mitra."

WHO juga menegaskan bahwa vaksinasi bukanlah cara yang berdiri sendiri dalam menangani pandemi COVID-19. "Jika negara hanya mengandalkan vaksin, mereka membuat kesalahan."

Dia mengingatkan bagi otoritas kesehatan, langkah-langkah tersebut berarti pengujian, penelusuran kontak, isolasi, serta karantina yang didukung dengan perawatan berkualitas.

Sementara bagi masyarakat dan individu, langkah pencegahan berarti menghindari keramaian, menjaga jarak secara fisik, menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker, serta menjaga ventilasi udara.

3 dari 4 halaman

INFOGRAFIS: Timeline Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

INFOGRAFIS: Timeline Vaksinasi COVID-19 di Indonesia (Liputan6.com / Triyasni)
Perbesar
INFOGRAFIS: Timeline Vaksinasi COVID-19 di Indonesia (Liputan6.com / Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓