Psikolog: Bila Tidak Diantisipasi, Anak Mendapatkan Efek Terburuk Pandemi COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 26 Feb 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 08:00 WIB
Direktur  Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Diana Setiyawati. (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)
Perbesar
Direktur Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Diana Setiyawati. (Foto: Tangkapan layar YouTube BNPB)

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog Diana Setyawati menyampaikan bahwa anak-anak diprediksi mendapatkan efek terburuk dan terpanjang dari pandemi COVID-19. Hal ini ia sampaikan dalam gelar wicara daring yang diadakan oleh BNPB pada Kamis (25/02/2021). 

“Satu tahun dua tahun di rumah saja bagi anak-anak itu berbeda maknanya dengan kita,” ujar Diana yang sekaligus menjabat Direktur Centre for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 

Diantara rentang usia anak, anak usia prasekolah jadi yang paling rentan. Anak-anak usia tersebut belum punya konsep tentang dunia. “Dalam satu tahun harusnya mereka sudah bisa baca, sudah bisa mengembangkan bahasa, sudah bisa bersosialisasi,” katanya.

“Kalau kita tidak bisa bergotong royong membuat pandemi ini segera berakhir, kita sebenarnya mengorbankan generasi masa depan,” tegas Diana.

Berkaca dari pandemi flu Spanyol, kata Diana, penelitian longitudinal mengungkapkan anak-anak yang dikandung pada masa pandemi itu ketika besar mereka secara sosial ekonomi lebih rendah, disabilitas lebih tinggi, dan lebih banyak masalah kesehatan. Hal tersebut terjadi karena mereka dikandung pada masa sistem kesehatan sedang sibuk. 

Di masa pandemi ini, anak-anak usia prasekolah sedang mengenal apa itu bersosialisasi. Kerja sama banyak pihak diperlukan untuk mendukung perkembangan anak-anak ini.

“Kita harus bekerja sama, kalau enggak kasihan sekali mereka kalau mereka tidak bisa belajar setia kawan, tidak bisa belajar sosialisasi,” ujarnya.

Namun, bukan hanya anak-anak, para remaja bahkan lansia pun mengalami kesulitannya sendiri.

“Remaja juga berat karena ini saatnya mereka mengeksplor identity, lansia juga berat. Artinya dari masing-masing itu ada tantangan masing-masing sehingga seluruh keluarga terdampak,” kata Diana.

"Semua rentan, tapi anak kecil yang paling rentan."

2 dari 4 halaman

Peran Penting Keluarga

Guna meminimalisasi agar perkembangan anak tetap optimal di masa pandemi, keluarga jadi tulang punggung akan hal itu.

Penting bagi orangtua untuk menerapkan tiga aspek parenting yakni, edukasi, stimulasi, dan supervisi. "Supervisi pada anak usia prasekolah itu jauh lebih mudah dari remaja. Misalnya anak usia prasekolah, orangtua harus tahu oh anak ingin mau, ajak ke ruang terbuka saat aman," kata Diana.

Lalu, orangtua juga menciptakan lingkungan bagi anak prasekolah yang tanpa gagdet. Caranya dengan mengajak anak membaca buku dan melakukan kegiatan yang merangsang kreativitas sehingga mereka tetap berkembang.

Tak cukup sampai di situ, Diana mengatakan, keluarga harus mampu mencapai komunikasi mendalam. 

“Kalau komunikasi itu bisa mendalam, semua perasaan bisa disampaikan di dalam rumah., Kemudian bisa saling support, kita bisa peka anak kita ngapain. Kita juga bisa membicarakan hal-hal pahit dan hal-hal besar,” ujarnya.

Kemampuan komunikasi di dalam keluarga bisa dilatih dengan mendekati anak yang tertutup dengan bercerita banyak. Orangtua juga bisa mencoba masuk ke dunia mereka.

“Ini saatnya kita kembali mengambil peran mengedukasi anak, menjaga lansia, saling menguatkan. Semuanya perlu belajar, tapi dengan begitu kita akan menyadari bahwa hidup itu indah bersama keluarga,” tandasnya.

 

Penulis: Abel Pramudya Nugrahadi

3 dari 4 halaman

Infografis

Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 9 Panduan Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
4 dari 4 halaman

Simak juga video ini

Lanjutkan Membaca ↓