Menkes Gunadi: Beberapa Lab PCR Belum Konsisten Memasukkan Data COVID-19

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 18 Feb 2021, 06:00 WIB
Diperbarui 18 Feb 2021, 06:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam jumpa pers usai Apel Kesiapan Bhabinkabtimas dan tenaga kesehatan sebagai tracer dan vaksinator COVID-19 pada 11 Februari 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Jakarta Demi memastikan pelaporan data COVID-19 Yang lengkap, Kementerian Kesehatan akan meningkatkan komunikasi dengan laboratorium PCR pemeriksa spesimen di seluruh Indonesia. Upaya ini dilakukan karena masih ada laporan data COVID-19 dari lab yang belum sepenuhnya lengkap.

Adanya data COVID-19 yang belum lengkap, menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjadi salah satu faktor penyebab positivity rate Indonesia tinggi di atas 20 persen. Positivity rate adalah perbandingan jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 dengan jumlah tes yang dilakukan.

"Hipotesa kami soal positivity rate kenapa tinggi dipengaruhi dari pelaporan hasil lab yang masuk. Lab belum konsisten memasukkan data," ungkap Budi saat sesi 'Penjelasan Menteri Kesehatan mengenai Positivity Rate COVID-19' pada Rabu, 17 Februari 2021.

"Kami akan lebih meningkatkan komunikasi dengan lab PCR di seluruh Indonesia. Tujuannya, untuk memastikan agar mereka disiplin dan memasukkan data yang lengkap dan ontime (tepat waktu). Jangan ditunda (memasukkan data) terlampau lama."

Diharapkan komunikasi yang terjalin dengan lab PCR dapat mendorong tampilnya data COVID-19 dan positivity rate secara jelas.

"Sehingga kita bisa mengambil keputusan dan kebijakan yang tepat," pungkas Budi Gunadi.

 

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbaikan Sistem Aplikasi Pelaporan Data COVID-19

FOTO: 350 Penumpang KRL Jalani Tes Swab di Stasiun Bogor
Perbesar
Penumpang kereta rel listrik (KRL) menjalani tes swab di Stasiun Bogor, Bogor, Jawa Barat, Senin (27/4/2020). Pengetesan yang melibatkan 350 penumpang ini untuk memastikan ada atau tidaknya virus corona COVID-19 yang dibawa penumpang KRL. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sementara itu, pelaporan data COVID-19 di lapangan rupanya mengalami kendala. Informasi yang diterima Kemenkes, laboratorium pemeriksa spesimen kesulitan memasukkan data karena sistem sulit diakses.

Kondisi di atas membuat data COVID-19 yang masuk tidak menggambarkan sepenuhnya situasi di lapangan. Bahkan data yang masuk ke Kemenkes lebih banyak terdata konfirmasi positif COVID-19, sedangkan hasil negatif belum masuk semua.

"Kami memiliki hipotesa, banyak data dari lab yang kami terima lebih banyak hasil konfirmasi positif COVID-19. Ketika dicek, lebih banyak data masuk terkonfirmasi positif dibanding negatif," jelas Budi.

"Kami akan meningkatkan komunikasi dengan lab serta memperbaiki kualitas dan timing pelaporan data."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen

Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Infografis Tes Antobodi vs Tes Antigen (Liputan6.com / Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓