RS BUMN Konversi Lebih dari 3.500 Tempat Tidur untuk Pasien COVID-19

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 29 Jan 2021, 12:30 WIB
Diperbarui 29 Jan 2021, 12:30 WIB
FOTO: Mengintip Penanganan Pasien COVID-19 di Bogor
Perbesar
Petugas medis memeriksa pasien COVID-19 di rumah sakit umum di Bogor, Jawa Barat, Senin (25/1/2021). Setidaknya dalam tiga hari terakhir, kasus baru COVID-19 di Bogor selalu di atas angka 100. (ADEK BERRY/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (PBM IHC) Fathema Djan Rachmat mengatakan, pihaknya telah meningkatkan kapasitas tempat tidur rumah sakit di bawah naungannya dalam menghadapi lonjakan pasien COVID-19.

Upaya itu merujuk pada kebijakan Kementerian Kesehatan untuk menambah rasio ketersediaan ruang khusus pasien COVID-19, dari 10 persen menjadi 30 sampai 40 persen.

Ini bertujuan demi menunjang kesiapan ruangan dan unit perawatan rumah sakit dalam menghadapi kondisi pandemi yang sangat dinamis.

“Total Rumah Sakit Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki lebih dari 7.000 tempat tidur dan telah dikonversi lebih dari 3.500 tempat tidur untuk isolasi atau perawatan COVID-19," kata Fathema dalam rilis yang diterima Health Liputan6.com, Jumat (29/1/2021).

"Sementara itu, ada 512 bed ICU COVID-19, sudah termasuk penambahan 50 bed ICU di RSPP Simprug. Ini adalah upaya IHC merespons permasalahan di lapangan. Kemudian kami telah melakukan hampir 1 juta tes COVID-19 sejak April 2020."

 

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Konversi Tempat Tidur COVID-19 sampai 50 Persen

RSUI
Perbesar
Direktur Utama RSUI Astuti Giantini menyampaikan, Rumah Sakit UI (RSUI) menambah kapasitas tempat tidur pasien COVID-19 menjadi 93 tempat tidur, sebelumnya 55 tempat tidur. (Humas Rumah Sakit UI)

Fathema menambahkan, saat ini ada ada 73 rumah sakit yang tergabung dalam IHC, yang tersebar dari Aceh sampai Papua, termasuk dua rumah sakit pendidikan, yaitu RS Universitas Indonesia (RSUI) dan RS Ukrida.

“Pada waktu itu, kami telah mengambil kebijakan tentang konversi tempat tidur sebesar 40-50 persen tidur untuk alokasi penanganan pasien COVID-19,” jelasnya.

Selanjutnya, konversi tempat tidur terbilang variatif antar satu rumah sakit dengan yang lainnya. Ini tergantung dengan jumlah yang terpapar/tingkat infeksi di daerah masing-masing.

”Ada yang zona merah dan hijau. Yang zona merah, rata-rata konversi (tempat tidur RS) 50 persen dengan jumlah penambahan ICU 25 persen dari ruang yang terkonversi menjadi perawatan COVID-19," lanjut Fathema.

"Untuk rumah sakit di zona hijau, konversi tempat tidur 25 persen dengan penambahan ICU 10-15 persen dari ruangan yang terkonversi."

Lebih lanjut, Fathema mengatakan, pihaknya memastikan aliran layanan lancar dari IGD, masuk rawat isolasi atau ICU hingga pulang.

"Kalaupun perlu perawatan lain, kami ada hotel atau penginapan yang bisa dipakai sebagai safe house. Jika ada yang penuh juga bisa kami carikan ke jaringan rumah sakit yang lainnya, sehingga aliran layanan terkontrol. Kami juga bekerja sama dengan RS swasta,” katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19

Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Orang Tak Divaksin 3 Kali Lebih Berisiko Terpapar Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓