Salah Satu Kebijakan Pertama Joe Biden Usai Dilantik Jadi Presiden AS: 100 Hari Pakai Masker

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 21 Jan 2021, 09:28 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 09:28 WIB
Presiden AS Joe Biden menunggu untuk menandatangani tindakan eksekutif pertamanya di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C pada Rabu (20/1/2021). (Photo credit: AP/Evan Vucci)
Perbesar
Presiden AS Joe Biden menunggu untuk menandatangani tindakan eksekutif pertamanya di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C pada Rabu (20/1/2021). (Photo credit: AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden resmi dilantik pada hari Rabu waktu setempat. Salah satu prioritas pertamanya adalah menyetujui perintah eksekutif yang mewajibkan warga menggunakan masker selama 100 hari.

Dilaporkan Fox News, dikutip Kamis (21/1/2021), perintah eksekutif Presiden AS ke-46 yang dimaksud adalah "100 days masking challenge" atau "Tantangan 100 Hari Pakai Masker."

Di sana juga dinyatakan bahwa masker diperlukan di semua gedung dan tanah federal, oleh karyawan dan kontraktor federal, di penerbangan dan kereta, serta sistem perjalanan transit antar negara bagian.

Presiden memang tidak bisa memerintahkan negara bagian atau kota secara langsung tentang apa yang harus dilakukan. Namun mandat federal tersebut dapat mendesak kantor-kantor dan wilayah federal, serta negara bagian untuk melakukan hal yang sama.

"Presiden akan meminta gubernur, pejabat kesehatan masyarakat, walikota, pemimpin bisnis, dan lainnya, untuk menerapkan memakai masker, menjaga jarak fisik, dan tindakan publik lain untuk mengendalikan COVID-19," kata Jeff Zients, konselor Biden yang akan menjadi koordinator respon COVID-19.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

 

2 dari 4 halaman

Penanganan Pandemi Prioritas Pertama, Kedua, dan Ketiga

Joe Biden dan Kamala Harris Resmi Pimpin Amerika Serikat
Perbesar
Presiden AS terpilih Joe Biden didampingi istri Jill Biden saat dilantik oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts di US Capitol di Washington, Rabu (21/1/2021). Biden kini resmi menjabat sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat. (AP Photo/Andrew Harnik)

Zients menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak bersifat politik. "Ini tentang kesehatan keluarga kita dan pemulihan ekonomi negara kita," ujarnya seperti dikutip dari CNN.

Bulan lalu, Biden mengatakan bahwa pandemi COVID-19 akan menjadi prioritas pertama, kedua, dan ketiga. Pekan lalu, Presiden AS ke-46 itu mengumumkan rencana vaksinasi baru yang "berani" untuk memperbaiki kegagalan mantan Presiden Donald Trump.

"Capai lebih banyak orang untuk divaksinasi secara gratis. Buat lebih banyak tempat bagi mereka untuk divaksinasi. Kerahkan lebih banyak tim medis untuk menyuntik di lengan orang-orang. Tingkatkan pasokan dan keluarkan itu secepat mungkin," katanya.

"Kami akan segera bekerja dengan negara bagian untuk membuka vaksinasi bagi kelompok yang lebih diprioritaskan," kata Biden.

AS sendiri masih menjadi negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di dunia. Laman Worldometers mencatat bahwa hingga Kamis, 21 Januari 2021 pukul 08.30 WIB, total kasus di negara itu mencapai 24.997.255 dengan kasus aktif sebanyak 9.616.460.

Sebanyak 14.964.966 orang dinyatakan sembuh dari virus corona, namun 415.829 orang dilaporkan meninggal dunia akibat COVID-19.

Dalam pidato pengukuhannya, Biden memerpingatkan bahwa hari-hari pandemi virus corona "paling gelap dan paling mematikan" di negara itu mungkin akan segera terjadi.

3 dari 4 halaman

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker
Perbesar
Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓