Perlukah Penyintas COVID-19 Mendapatkan Vaksin?

Oleh Fitri Syarifah pada 30 Des 2020, 11:00 WIB
Diperbarui 30 Des 2020, 11:00 WIB
Melihat Negara-Negara Uni Eropa Mulai Suntikan Vaksinasi COVID-19
Perbesar
Seorang penghuni Senior Centre Riehl menerima suntikan dosis vaksin COVID-19 di Senior Centre Riehl di Cologne, Jerman (27/12/2020). Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, vaksin Pfizer-BioNTech telah dikirimkan ke semua 27 negara anggota. (Xinhua/Tang Ying)

Liputan6.com, Jakarta Mungkin Anda prnah mendengar atau membaca bahwa orang yang baru sembuh dari COVID-19 memiliki antibodi terhadap virus yang sama di tubuhnya. Sekarang, setelah vaksin diluncurkan, Anda mungkin bertanya-tanya apakah jika bersedia menerima vaksin, apakah orang yang pernah tertular COVID-19 memerlukannya?

Terlebih lagi, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) belum membuat rekomendasi bahwa setiap orang harus mennndapatkannya. Namun, pakar kesehatan menyarankan Anda melakukannya, baik untuk kesehatan Anda maupun keselamatan orang lain, karena beberapa alasan berikut ini, dilansir dari Livestrong.

1. Anda masih bisa tertular lagi tanpa vaksin

Pertama, meskipun Anda menyebut diri Anda sebagai penyintas COVID-19, Anda mungkin masih bisa sakit lagi. Seorang profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine, Chicago dan spesialis perawatan paru dan pengobatan kritis, Michelle Prickett, MD, mengatakan, "Pasien yang telah terinfeksi COVID-19 masih harus mendapatkan vaksin. Kami tidak yakin bahwa infeksi sebelumnya akan menyebabkan kekebalan seumur hidup. Data terkini menunjukkan infeksi sebelumnya bisa memberikan kekebalan selama sekitar enam bulan".

Meskipun tidak umum, ada kasus yang dikonfirmasi dari orang-orang yang terinfeksi kembali dengan COVID-19. Satu laporan seorang pemuda dari Nevada, dijelaskan dalam The Lancet Infectious Diseases, mencatat infeksi kedua biasanya lebih buruk daripada yang pertama, pasien dikirim ke rumah sakit karena harus mendapat tabung oksigen.

Jadi, meskipun Anda merasa nyaman untuk mengambil risiko karena saat pertama tertular COVID-19 tidak terlalu buruk, itu tidak berarti penyakit di masa depan akan lebih baik dari itu.

 

2 dari 4 halaman

2. Tidak ada ruginya mendapat vaksin

Vaksin Oxford / AstraZeneca saat ini sedang dalam tahap pengujian akhir.
Perbesar
Vaksin Oxford / AstraZeneca saat ini sedang dalam tahap pengujian akhir. (Universitas Oxford/ John Cairns)

Profesor penelitian di Departemen Ilmu Kesehatan populasi di Virginia Tech, Lisa Lee, PhD, merekomendasikan untuk mendapatkan vaksin bahkan jika Anda pernah menderita COVID-19 di masa lalu, dan menekankan bahwa aman untuk melakukannya, terutama karena ketidakpastian tentang berapa lama antibodi benar-benar bertahan.

Ada beberapa vaksin yang sedang dikembangkan. Lee menjelaskan bahwa sementara uji coba vaksin tidak secara aktif mencari dan mendaftarkan orang yang sebelumnya menderita COVID-19, beberapa peserta benar-benar terinfeksi sebelumnya. Lagipula, ada puluhan ribu orang yang mendaftar.

Karena itu, dalam hal keamanan, tidak menjadi masalah untuk divaksinasi setelah sembuh dari COVID-19, dan itu pasti akan membantu mencegah seseorang terinfeksi lagi. Vaksin Pfizer-BioNTech adalah 95 persen efektif.

Reaksi yang khas mirip dengan vaksin flu, misalnya lengan Anda sakit karena tusukan jarum. Anda mungkin juga mengalami demam atau merasa sakit selama satu atau dua hari setelahnya, karena sistem kekebalan Anda sedang mengantri dan merespons vaksin dengan benar.

Itu tidak berarti Anda sakit karena vaksin, tetapi sistem kekebalan Anda pada dasarnya mengatakan siap untuk melawan virus, jelas Lee.

3. Mendapatkan vaksin membantu menjaga orang lain tetap aman

Keuntungan dari vaksin yaitu Anda tidak hanya aman untuk diri sendiri, tetapi juga membantu menyelamatkan orang lain.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Oktober 2020, kurang dari 10 persen populasi dunia telah terinfeksi COVID-19. Dengan kata lain masih banyak orang yang bisa sakit parah dan kemungkinan meninggal karena penyakit itu.

"Salah satu tujuan utama vaksinasi adalah untuk melindungi orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin," kata Lee.

Jika cukup banyak orang yang divaksinasi, ini menciptakan kekebalan kawanan, yang merupakan perlindungan komunitas. Meskipun CDC belum memperkirakan berapa banyak populasi di suatu negara yang harus divaksinasi untuk mencapai kekebalan kawanan.

"Jika kawanan tidak dapat tertular infeksi, mereka tidak dapat menularkannya kepada orang-orang yang rentan. Pada dasarnya, kekebalan kelompok menciptakan semacam donat [pelindung] di sekitar yang rentan, yang infeksi tidak dapat menembus dan menjangkaunya," kata Lee.

3 dari 4 halaman

Deretan negara yang gratiskan vaksin Covid-19 ke warganya

INFOGRAFIS: Deretan negara yang gratiskan vaksin Covid-19 ke warganya (Liputan6.com / Triyasni)
Perbesar
INFOGRAFIS: Deretan negara yang gratiskan vaksin Covid-19 ke warganya (Liputan6.com / Triyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓