OPINI: Mutasi Virus COVID-19 di Asia

Oleh Liputan6.com pada 27 Des 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 27 Des 2020, 21:00 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama
Perbesar
Prof Tjandra Yoga Aditama (Foto: Dok. Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta Hari-hari terakhir tahun 2020 dunia cukup dihebohkan dengan terjadinya mutasi virus COVID-19 yang pertama dilaporkan di Inggris dan lalu menyebar ke berbagai negara. Mutasi ini dikenal dengan nama mutasi  VUI-202012/01 dan B.1.1.7. Dalam tulisan saya tanggal 22 Desember 2020 di rubrik Opini Liputan 6 saya sampaikan bahwa belum ada laporan kasus di Asia, dan segera sesudah itu, mulai 23 Desember 2020, berbagai laporan datang dari beberapa negara Asia tidak terlalu jauh dari negara kita.

Laporan pertama datang dari Hongkong, yang pada 23 Desember melaporkan varian baru virus COVID-19 ini pada dua pelajar yang baru pulang dari Inggris. Pelajar pertama berumur 14 tahun dan kembali dari Inggris pada 7 Desember 2020 dan kemudian dirawat di rumah sakit. Pelajar ke dua berumur 17 tahun yang juga tadinya dirawat di rumah sakit. Hasil analisa genomik dari ke dua pelajar ini menunjukkan kesamaan dengan mutasi virus yang terjadi di Inggris, atau kalimat aslinya “apparently compatible with the new virus strain”  Pemeriksaan lanjutan lebih rinci kini sedang dilakukan.

Laporan berikut datang dari negara tetanggga dekat kita, Singapura. Begitu ada laporan mutasi di Inggris maka Kementerian Kesehatan Singapura melakukan pemeriksaan sekuensing genomik pada 31 kasus COVID-19 yang mendarat di Singapura dari Eropa pada antara 17 November sampai 17 Desember. Analisa dari 31 kasus ini menunjukkan bahwa 12 diantaranya negatif B.1.1.7, lima tidak bisa di sekuensing karena jumlah virus amat sedikit, 2 orang belum di test, 11 orang masih dalam evaluasi dan 1 kasus dinyatakan positif tertular virus varian mutan baru dari Inggris ini.  

Satu kasus pertamanya ini adalah seorang gadis Singapura berumur 17 tahun yang belajar di Inggris sejak Agustus 2020 dan kembali ke Singapura pada 6 Desember 2020. Pasien ini lalu ada keluhan demam sejak 7 Desember dan pada 8 Desember terkonfirmasi sebagai COVID-19. Setelah melakukan pemeriksaan genomik mendalam maka pada 23 Desember pemerintah Singapura mengkonfimasi bahwa kasus ini terinfeksi dengan varian mutan baru dari Inggris itu.

 

2 dari 4 halaman

Jepang

Kementerian Kesehatan Jepang juga mengkonfirmasi bahwa ada lima kasus tertular varian baru COVID-19 ini pada penumpang pesawat yang tiba dari Inggris. Mereka tiba di Jepang dengan penerbangan langsung dari Inggris pada 18 dan 21 Desember 2020. Mereka ditemukan melalui skrining di bandara Jepang dan tentunya dilanjutkan dengan pemeriksaan sekuensing genomik. Dari bandar mereka langsung dibawa ke akomodasi khusus hingga tidak ada kontak dengan masyarakat sekitar. Dari lima orang ini hanya ada 1 orang yang bergejala, kebetulan adalah pria 60 tahun dengan keluhan badan lemah/fatigue.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Malaysia pada Rabu 23 Desember 2020 melaporkan strain varian mutasi baru virus COVID-19 pula, yang mereka dapat dari kasus di Sabah. Ini bukanlah varian mutan B.1.1.7 yang bermula dari Inggris yang banyak dibicarakan sekarang ini. Mutasi baru bernama A701V ini pertama kami mereka temukan dari sekuensing klaster yang terdiri 22 kasus infeksi SARS-CoV-2. Disampaikan bahwa varian ini nampaknya sama dengan yang ditemukan di Afrika Selatan, Australia dan Belanda.

Sedikitnya ada tiga pelajaran penting yang dapat kita ambil dari pengalaman empat negara Asia diatas ini. Pertama, rupanya beberapa negara seperti Singapura dan Hongkong melakukan pemeriksaan sekuensing genomik mendalam pada mereka yang mendarat dari Inggris (atau mungkin Eropa) sejak awal Desember, bahkan sejak pertengahan November. Ke dua, rupanya juga ada pengetatan prosedur di bandara bagi mereka yang datang dari Inggris, seperti dilakukan di Jepang. Hal ke tiga, walaupun tidak berhubungan dengan varian mutasi dari Inggris, adalah kegiatan pemeriksaan sekuensing genomik pada klaster yang ditemukan di Sabah Malaysia. Sebagian dari kegiatan-kegiatan ini tentunya sudah juga dilakukan di Indonesia, dan nampaknya perlu dapat perhatian makin penting di hari-hari mendatang.

 

**Penulis adalah Prof Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Paru FKUI. Mantan Direktur WHO SEARO dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

3 dari 4 halaman

Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia?

Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia? (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Mutasi Virus Corona Lebih Jinak, Bisa Berubah Ganas di Indonesia? (Liputan6.com/Trieyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by