Tanda Keluarga Berkualitas, Orangtua Punya Waktu Bersama Anak

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 25 Des 2020, 13:08 WIB
Diperbarui 25 Des 2020, 13:08 WIB
Memberi Contoh dalam Lingkungan Keseharian
Perbesar
Yang disebut keluarga berkualitas, orangtua harus punya waktu bersama anak. Ilustrasi Orangtua dan Anak Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Jakarta Keluarga berkualitas adalah orangtua harus mempunyai waktu bersama anak. Menghabiskan waktu dengan anak, seperti menemani bermain, belajar, dan aktivitas lain juga sebagai upaya melihat tumbuh kembang anak.

Psikolog sekaligus pakar parenting Rose Mini menyampaikan, keluarga berkualitas bukan pula artinya menghabiskan waktu bersama anak selama 5 menit. Misal, orangtua baru pulang kerja malam hari, lalu bertemu anak hanya beberapa menit.

"Kalau bicara (keluarga) kualitas itu hanya 5 menit ketemunya, sebenarnya enggak benar itu. Tidak bisa mengajarkan moral kepada anak hanya 5 menit. Apalagi mengajarkan anak makan mungkin pakai sendok, garpu," tutur Rose melalui dialog virtual Membangun Keluarga Berkualitas, Senin (21/12/2020).

"Jadi, di dalam yang namanya keluarga berkualitas itu harus juga ada waktu yang dibutuhkan dan diberikan sama orangtua. Tidak bagus juga sudah ketemu anak di rumah, lalu Ibu Bapak ditanya malah marah-marah. Kadang-kadang orang juga emosinya sehingga menjadi orangtua yang tidak bisa mengayomi anak."

Keluarga berkualitas secara fisik ada kualitas dan hubungan antara orangtua dan anak. Dibantu juga dengan kedekatan kehangatan yang ada dalam keluarga. Hal ini membantu pemenuhan kebutuhan anak, tidak hanya sandang pangan, melainkan perhatian, cinta, dan kasih sayang.

2 dari 5 halaman

Anak Butuh Rangkulan Ayah dan Ibu

Ingatkan Pentingnya Kata Maaf dan Terima Kasih
Perbesar
Anak butuh rangkulan ayah ibu. Ilustrasi Orangtua dan Anak Credit: pexels.com/pixabay

Pekerjaan menghasilkan uang bagi orangtua memang penting, tapi perlu membangun pemahaman, perlu mengetahui tumbuh kembang anak. Walaupun ada asisten rumah tangga atau babysitter, orangtua tetap harus merangkul anak.

"Kalau nanya sama klien pasien Saya, gimana perkembangan anak, ibu-ibunya enggak bisa ngomong. Bingung jawabnya, kenapa dia enggak tahu perkembangan anak. Orangtua pergi pagi, pulang petang, butuh ada hari, ada waktu di mana kita memang menyiapkan untuk anak," terang Rose.

"Misal, hari ini mau anak mendapatkan stimulasi. Oke, delegasikan kepada si Mbak atau si Suster, harus bikin apa saja. Anak bisa belajar warna, macam-macam mainan dan lagu. Pada waktu orangtua pulang, jalin kedekatan dengan anak, tadi ngapain aja seharian."

Rose juga menyoroti peran Ayah. Dilihat secara budaya antropologi, biasanya di negara kita, sosok Ayah berarti cari nafkah, sehingga apapun yang terkait dengan domestik (rumah tangga) selalu diberikan atau diarahkan kepada Ibu.

"Sebetulnya enggak begitu. Harusnya saling mengisi aja. Harus membagi peran. Kalau pada satu titik hanya mengandalkan sosok Ibu, anak, misalnya, suatu saat minta diajarkan tentang main bola. Sementara itu, Ibu kan enggak tahu mungkin ya," lanjut Rose.

"Dalam posisi ini, Ibu menjadi penyemangatnya, sedangkan yang menjadi orang melatih ya sosok Ayah atau Omnya."

3 dari 5 halaman

Ajak Anak ke Tempat Kerja

Kegagalan Adalah Proses Hidup
Perbesar
Ajak anak ke tempat kerja. Ilustrasi Orangtua dan Anak Credit: pexels.com/pixabay

Salah satu cara menghabiskan waktu bersama anak, orangtua bisa mengajak anak ke tempat kerja. Apalagi di kantor, misalnya, disediakan semacam ruang bermain untuk anak.

"Pada waktu-waktu tertentu, Ibu bisa bawa anak ke kantor. Ini berarti bahwa ibu punya rasa tanggung jawab. Ibu akan tetap melakukan perannya sebagai Ibu, di mana dia berada," pungkas Rose.

"Bagaimana dengan peran Ayah? Seharusnya sama seperti itu ya. Ayah harus bantu juga meluangkan waktu untuk menceritakan dongeng. Soal peran Ayah, ternyata ada penelitian menunjukkan, kualitas dari anak untuk bertumbuh dan berkembang supaya luar biasa ada keseimbangan peran antara Ayah dan Ibu."

Adanya keseimbangan peran Ayah dan Ibu bisa mewujudkan keluarga berkualitas.

4 dari 5 halaman

Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19

Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis 7 Tips Cegah Klaster Keluarga Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)
5 dari 5 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓