Mewariskan Nilai Luhur Keluarga kepada Remaja, Butuh Cara Kekinian

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 24 Des 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 24 Des 2020, 06:00 WIB
Anak
Perbesar
Untuk mewariskan nilai luhur keluarga kepada 64 juta remaja butuh pola ala milenial. Ilustrasi Remaja dan Orangtua Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Jakarta Mewariskan nilai luhur keluarga kepada 64 juta remaja Indonesia rupanya butuh pola ala milenial. Pendekatan generasi muda sekarang membutuhkan pola yang strategis, berbeda dari generasi zaman dulu.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, pendekatan terhadap generasi anak muda sekarang termasuk tantangan yang dihadapi dalam mempersiapkan membangun keluarga.

"Mewujudkan keluarga yang berkualitas memang tantangan yang terbesarnya sekarang ini ada era disruption. Banyak sekali ekosistem yang sangat berbeda di mata anak muda, anak-anak, dan cucu," kata Hasto dalam dialog Membangun Keluarga Berkualitas, Senin (21/12/2020).

"Posisinya (generasi) berbeda dengan orangtua. Mereka ini populasinya jauh lebih besar daripada kita berada sekitar 64 juta usia remaja. Mereka yang akan membentuk keluarga. Sementara kita mengalami suatu gagap di dalam mentransformasikan atau mewariskan nilai-nilai luhur di dalam keluarga."

Artinya, orangtua harus mendidik anak sesuai dengan zaman. Walaupun orangtua tidak dilahirkan pada zaman kekinian, lanjut Hasto, pada prinsipnya tetap ingat nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh orangtua dan harus diwariskan kepada anak-cucu.

2 dari 4 halaman

Terhubung dengan Remaja, Hidup Berencana Itu Keren

teman
Perbesar
Terhubung dengan remaja. ilustrasi teman/Photo by José Luis Photographer from Pexels

Hasto menegaskan, butuh bentuk pendekatan untuk diwariskan kepada anak-cucunya. Terlebih lagi BKKBN punya peran menjalankan delapan fungsi keluarga.

"Salah satu strategi adalah mereka (anak muda sekarang) bisa mendengarkan nilai keluarga, bukan dari orang-orang tua seperti Saya. Tapi mereka bisa mendengarkan dari teman sebayanya. Sebagai orangtua tidak boleh merasa kita itu punya ilmunya," papar Hasto.

"Mereka justru lebih percaya kepada teman sebaya. Saya yang ahli kesehatan reproduksi, ilmu Saya cukup. Tapi apa yang Saya sampaikan, bisa saja tidak dipercaya sama remaja. Mereka lebih mendengar dari teman-teman sebayanya."

BKKBN juga telah membangun dan mengembangkan program agar lebih terhubung dengan remaja.

"Strateginya kita bikin Teman Sebaya. Contoh, meluncurkan tagline Hidup Berencana Itu Keren. Biar BKKBN terhubung dengan milenial," jelas Hasto.

3 dari 4 halaman

Infografis Ajang Lari Internasional untuk Milenial

Infografis Ajang Lari Internasional untuk Milenial
Perbesar
Infografis Ajang Lari Internasional untuk Milenial. (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓