Memahami Dinamika Dampak Kekerasan Seksual dan Alasan Perempuan Tetap Bertahan

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 03 Des 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 03 Des 2020, 21:00 WIB
Gerakan Perempuan Anti Kekerasan seksual
Perbesar
Massa Gerakan Perempuan Anti Kekerasan (Gerak Perempuan) menggelar aksi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Senin (10/2/2020). Mereka menuntut Mendikbud Nadiem Makarim untuk membuat peraturan di kampus yang melindungi dari pelecehan seksual. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kekerasan seksual memiliki dampak yang beragam dan sangat bervariasi di setiap individu. Dampak-dampak tersebut memiliki dinamikanya tersendiri.

Menurut psikolog klinis dari Yayasan Pulih Noridha Weningsari, setiap orang perlu memahami dinamika dari dampak kekerasan seksual.

“Yang pertama, kekerasan seksual itu membuat seseorang merasa bahwa dunia ini tempat yang tidak aman dan orang lain tidak dapat dipercaya,” ujar Noridha dalam webinar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Jumat (20/11/2020).

Banyak korban yang merasa pesimis sehingga ia sulit keluar dari relasi berkekerasan. Korban cenderung menganggap dirinya lemah dan tidak berdaya sehingga dapat dikuasai oleh pelaku kekerasan seksual.

Hal lain yang juga banyak memengaruhi dinamika dampak kekerasan seksual adalah konsumsi sosial di masyarakat tentang perempuan.

“Karena konsep bahwa perempuan itu harus perawan misalnya, perempuan itu harus suci, perempuan yang mengalami robek selaput darah dianggap tidak suci lagi,” katanya.

2 dari 4 halaman

Kenapa Perempuan Bertahan?

Walau banyak korban menyadari bahwa relasinya penuh dengan kekerasan, namun korban sulit lepas dari relasi berkekerasan tersebut.

Kompleksitas kekerasan seperti bujuk rayu, serta pemanfaatan relasi kuasa dan kontrol oleh pelaku memengaruhi kondisi psikologis korban.

Salah satu alasan mengapa perempuan bertahan adalah gaslighting. Istilah ini merujuk pada suatu proses manipulasi yang terjadi dalam hubungan. Biasanya, pelaku menanamkan benih-benih keraguan dalam diri pasangannya yang menjadi korban.

Dengan demikian, korban akan mempertanyakan ingatannya, persepsinya, dan kemampuan berpikirnya.

“Ini dilakukan untuk menggoyahkan kondisi psikologis korban sehingga korbannya jadi ragu, takut, ketergantungan, dan tidak percaya diri.”

Beberapa kalimat yang mengandung unsur gaslighting antara lain 'Kan kamu duluan yang mau' dan 'Kan kamu waktu itu diam saja', seolah-olah korban yang salah.

“Korban yang mengalami gaslighting maka dia justru menyalahkan dirinya sendiri dan ini bikin dia tidak bisa lepas dari relasi berkekerasan tersebut.”

Selain itu, alasan lain perempuan bertahan adalah terbatasnya informasi sehingga tidak tahu bahwa yang terjadi padanya adalah kekerasan seksual, sulit lepas karena ancaman, bergantung secara ekonomi dan sosial pada pelaku, stigma, dan terbatasnya akses keamanan.

3 dari 4 halaman

Infografis Kekerasan dalam Pacaran

Infografis Kekerasan dalam Pacaran
Perbesar
Infografis Kekerasan dalam Pacaran (liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓