Wagub DKI Tes PCR Pertama Negatif tapi Besoknya Positif COVID-19, Mengapa Bisa Begitu?

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 30 Nov 2020, 12:32 WIB
Diperbarui 30 Nov 2020, 16:33 WIB
wagub
Perbesar
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria terkonfirmasi positif COVID-19 setelah menjalani pemeriksaan tes PCR pada Jumat, 27 November 2020 melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Pemeriksaan tersebut merupakan tes PCR kedua Riza.

Pada hari sebelumnya, Kamis, 26 November 2020, Riza menjalani tes PCR pertama. Hasil tes PCR tersebut  negatif. Lantas mengapa terjadi perbedaan hasil tes PCR dalam rentang waktu hanya 24 jam saja?

Dokter spesialis patologi klinik Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan, perbedaan hasil tes PCR dalam waktu 24 jammemang bisa terjadi.

"Hasil PCR bisa negatif, lalu berubah (menjadi positif COVID-19) dengan jarak 24 jam. Kita melihat dari bagaimana virus itu berkembang (di dalam tubuh)," jelas Tonang saat dihubungi Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Senin (30/11/2020).

"Bisa saja virus Corona muncul pada hari yang berbeda. Pada hari pertama (pemeriksaan tes PCR pertama), virusnya belum muncul, sehingga ya hasil PCR-nya negatif."

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Hasil Tes PCR Berbeda Seringkali Terjadi

Tes Swab Mandiri
Perbesar
Petugas dengan APD melakukan tes swab di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Jakarta, Rabu (7/10/2020). Pemerintah menetapkan harga batas tes usap atau swab melalui PCR untuk mendeteksi Covid-19 agar mendorong masyarakat melakukan tes secara mandiri. (merdeka.com/Imam Buhori)

Perbedaan hasil tes PCR bukan karena kesalahan alat melainkan melihat bagaimana perjalanan virus Sars-CoV-2 dapat terdeteksi.

"Dalam hal ini, bukan berarti pemeriksaannya salah. Ya, memang pada tes PCR pertama, boleh jadi virusnya juga berkembang belum cukup banyak, sehingga belum terdeteksi," terang Tonang yang juga sebagai Juru Bicara Satgas COVID-19 RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah.

"Dan pada pemeriksaan kedua, dengan jarak 24 jam tadi bisa terdeteksi (virus sudah berkembang)."

Kasus kejadian perbedaan tes PCR, menurut Tonang, seperti yang dialami Riza rupanya sering dijumpai di lapangan.

"Iya, ini biasa terjadi. Di rumah sakit, kami sering menjumpai kejadian, bahwa pasien saat pertama tes PCR negatif. Lalu besoknya, hari kedua dites, hasilnya positif. Ini sering terjadi," ucapnya.

3 dari 5 halaman

Virus Sars-CoV Terdeteksi

Pemerintah Batasi Harga Tertinggi Tes Usap Mandiri
Perbesar
Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) melakukan tes swab di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Jakarta, Sabtu (3/10/2020). Pemerintah telah menyepakati batas maksimal harga tes usap atau swab mandiri sebesar Rp900 ribu. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Tonang menggambarkan ilustrasi singkat, seseorang yang tertular virus Sars-CoV-2 dan kapan virus terdeteksi.

"Kalau ketularan virus pada hari Senin, misalnya. Kemudian dilakulan tes PCR keesokan harinya, Selasa. Maka, 100 persen hampir tidak mungkin terdeteksi (hasil tes negatif). Karena virusnya belum berkembang," ujarnya.

"Virus Sars-CoV-2 akan mulai terdeteksi pada hari Rabu atau hari kedua. Lalu akan meningkat peluang hasil deteksi pada hari ketiga, keempat, dan kelima."

Perjalanan virus Sars-CoV-2 pada hari keenam dan ketujuh termasuk puncak deteksi. Artinya, pada rentang hari tersebut, virus dapat terdeteksi oleh alat PCR. Untuk hasil tes PCR, dari negatif berubah positif dalam 24 jam menandakan virusnya sudah berkembang dan bisa terdeteksi.

4 dari 5 halaman

Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19

Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19
Perbesar
Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓