Duta Generasi Berencana, Kepala BKKBN: Jadilah Role Model Bangun Keluarga Terencana

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 25 Nov 2020, 14:00 WIB
Diperbarui 25 Nov 2020, 14:00 WIB
Ilustrasi Remaja
Perbesar
Pemberdayaan 24.000 remaja, Kepala BKKBN berpesan membangun keluarga dengan perencanaan matang. Ilustrasi Remaja. (Sumber: Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta Kepada Duta Generasi Berencana (GenRe), Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo berpesan, jadilah role model membangun keluarga yang terencana. Menikah dalam usia yang matang serta memiliki kesiapan intelektual menjalani kehidupan rumah tangga.

"Saya berharap GenRe tidak hanya menjadi duta, tapi harus menjadi contoh dalam kehidupan yang berencana," pesan Hasto saat membuka acara Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreatifitas GenRe Indonesia 2020 secara virtual, Senin (23/11/2020).

Hasto mencontohkan, upaya pencegahan kasus stunting, para GenRe diwanti-wanti agar jangan menikah di bawah usia 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Usia menikah sangat menentukan kualitas bayi yang dilahirkan.

Hal itu terkait kesiapan organ reproduksi perempuan saat melahirkan, selain  kesiapan fisik dan mental dalam berkeluarga. Bagi laki-laki, usia menikah harus sesuai agar semua prasyarat untuk menikah terpenuhi. Seperti kecukupan gizi, mental, moral dan emosi telah tertata baik.

Kemudian finansial mendukung, kemampuan interaksi sosial sudah terbangun dengan baik, termasuk memiliki keterampilan dan kesiapan intelektual.

"Ini jadi sumber stunting jika menikah terlalu muda. Para GenRe, jadilah role model, sebagai contoh dalam membangun keluarga yang penuh dengan perencanaan matang," ujar Hasto.

2 dari 4 halaman

Remaja Jadi Bagian Generasi Emas 2045

Anak remaja/Unsplash Patrick
Perbesar
Anak remaja/Unsplash Patrick

Hasto menambahkan, bila ada mantan Duta GenRe menikah, kemudian bercerai, maka sertifikat Duta GenRe-nya bisa dicabut. Ini karena GenRe adalah contoh (role model).

Oleh karena itu, diperlukan suatu gerakan revolusi mental melalui internalisasi nilai-nilai esensial yang dimulai dari individu, keluarga, masyarakat dan institusional.

"Ini penting dilakukan, mengingat pada tahun 2020, jumlah penduduk usia 10-24 tahun di Indonesia cukup besar,  mencapai sekitar 66,9 juta jiwa atau 25,6 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia. Berarti satu di antara empat penduduk adalah remaja," tambah Hasto dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com.

Remaja menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia pada 2045, tepat saat Indonesia memasuki usia 100 Tahun Merdeka. Mereka akan berusia antara 35-54 tahun. Generasi ini berada pada usia produktif, sehingga  menjadi nakhoda bangsa.

"Diharapkan mereka menjadi generasi yang cerdas dan komprehensif, yaitu produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosial, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alam, serta berperadaban unggul. Karena itu, membina remaja adalah investasi yang sangat penting," imbuh Hasto.

3 dari 4 halaman

Infografis 4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga

Infografis 4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 4 Poin Utama Cegah Klaster Keluarga. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓