COVID-19 Bikin Kerentanan Lebih Tinggi pada Populasi Terdampak Bencana

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 16 Okt 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 16 Okt 2020, 07:00 WIB
Banner Infografis Waspada Mutasi Virus Corona D614G dan Q677H. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Banner Infografis Waspada Mutasi Virus Corona D614G dan Q677H. (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta Diskusi internasional Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pada Senin, 12 Oktober 2020 membahas keberkaitan penyebaran COVID-19 dan populasi terdampak bencana. Penyebaran COVID-19 yang sangat mudah dapat menjadikan kerentanan lebih tinggi pada suatu populasi terdampak bencana. 

"Oleh karena itu, protokol untuk manajemen krisis COVID-19 dan bencana alam menjadi upaya yang harus dipastikan," papar Manajer Program WHO South East Asia Regional Office Nilesh Buddha saat sesi diskusi internasional secara virtual, ditulis Rabu (14/10/2020).

"Upaya seperti menjaga jarak, pemeriksaan suhu tubuh, pembuatan database pelacakan penyintas atau pengujian setelah evakuasi perlu dilakukan dengan maksimal. Kesiapsiagaan sangat penting untuk dimulai dari individu, keluarga, dan komunitas."

Mengenai pendekatan terhadap potensi multibahaya di tengah pandemi COVID-19 di atas, tidak hanya menyasar Indonesia saja, melainkan di negara-negara lain. Ini karena penyebaran virus SARS-CoV-2 masih terus menginfeksi sejumlah populasi di dunia.

"Di saat yang sama, potensi bahaya geologi dan hidrometeorologi dapat saja terjadi, sehingga masyarakat menjadi lebih rentan terhadap ancaman bahaya tersebut," lanjut Nilesh sebagaimana keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Peringatan Dini dan Evakuasi

Menengok Warga Terdampak Letusan Gunung Api Taal di Filipina
Perbesar
Warga terdampak letusan gunung berapi di sebuah pusat evakuasi di Tagaytay City, provinsi Cavite Filipina (17/1/2020). Ancaman gunung berapi Taal Filipina yang melepaskan potensi letusan bencana tetap tinggi. (AFP/Ted Aljibe)

Belajar dari pengalaman Filipina, peneliti Universitas De La Salle Marlon de Luna Era mengatakan, kurangnya tempat evakuasi akan berdampak pada kesiapsiagaandan dan respons di masa depan.

Di sisi lain, peringatan dini sangat dibutuhkan dalam menyikapi kondisi yang menuju kerentanan tinggi, khususnya adanya COVID-19. Peringatan dini dibutuhkan untuk masyarakat dalam mempersiapkan diri dalam melakukan evakuasi.

Perwakilan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengurangan Risiko Bencana wilayah Asia-Pasifik Animesh Kumar menyampaikan, risiko kerentanan tinggi bencana di tengah COVID-19 dapat terjadi secara simultan atau saling berkaitan.

Upaya tata kelola pengurangan risiko bencana dengan pelibatan berbagai pihak, misal berkoordinasi dan dukungan ilmu pengetahuan. Pelibatan pihak tersebut dilakukan di tingkat lokal, nasional, regional hingga internasional.

Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana selalu mendorong keterlibatan dan sinergi pentaheliks dalam menghadapi bencana. Pentaheliks ini merupakan kolaborasi penanganan yang terdiri atas pemerintah, akademisi atau pakar, lembaga usaha, masyarakat, dan media massa.

3 dari 4 halaman

Infografis Total Kasus Covid-19, Indonesia Salip China

Infografis Total Kasus Covid-19, Indonesia Salip China. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Total Kasus Covid-19, Indonesia Salip China. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓