BKKBN: Keluarga Berperan Sebagai Kunci Pencegahan COVID-19

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 09 Okt 2020, 10:00 WIB
Diperbarui 09 Okt 2020, 10:00 WIB
Keluarga Tetap Menjadi Prioritas Utama
Perbesar
Ilustrasi Keluarga Bahagia Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo keluarga bisa berperan sebagai kunci dari pencegahan COVID-19.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam siaran dialog dari Graha BNPB, Jakarta pada Kamis (8/10/2020) kemarin.

"Yang perlu kita sadari bersama, di hari-hari ini, klaster satu dengan klaster yang lainnya sudah bertemu dan bertemunya di keluarga. Oleh karena itu klaster keluarga ini tidak bisa dihindari," ujarnya dikutip Jumat (9/10/2020).

Ia mengatakan, keluarga merupakan sentral dari pencegahan COVID-19 apabila ingin dilakukan di tingkat hulu.

"Bagaimana pun juga tempat berkumpulnya mereka yang dari kelompok di mana saja beraktivitas adalah keluarga. Inilah yang tidak bisa kita hindari, mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga memang menjadi klaster terakhir setelah klaster-klaster sudah dilewati."

"Kalau keluarga ini kita kuatkan, anak-anak dalam keluarga ini bisa menjaga orangtuanya atau neneknya yang punya komorbid atau risiko tinggi, maka insyaallah, sukseslah kita mencegah morbiditas dan mortalitas untuk orang-orang dengan komorbid," Hasto menambahkan.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

2 dari 4 halaman

Risiko dalam Keluarga Berbeda-Beda

Ilustrasi liburan bersama keluarga.
Perbesar
Ilustrasi liburan bersama keluarga. (dok. JillWellington/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Dwi Listyawardani, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 mengatakan bahwa setiap anggota keluarga harus mengambil peran untuk menjaga dirinya masing-masing.

Dani, yang juga Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, mengatakan bahwa keluarga memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja di luar rumah atau mereka yang memiliki tingkat risiko infeksi yang berbeda-beda.

"Masing-masing punya derajat risiko yang berbeda, di mana mungkin yang usianya lebih tua karena adanya komorbid, maka risikonya untuk menjadi positif, katakanlah demikian, menjadi lebih besar."

"Mau tidak mau di dalam keluarga diterapkan 3M," tambahnya.

Meski begitu, Dani juga mengakui adanya tantangan dalam penerapan jaga jarak dalam keluarga, khususnya di perkotaan. Hal ini mengingat seringkali keterbatasan ruang di rumah menjadi kendala untuk melakukan ini.

3 dari 4 halaman

Infografis Plus Minus Belajar dari Rumah Secara Online

Infografis Plus Minus Belajar dari Rumah Secara Online. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Plus Minus Belajar dari Rumah Secara Online. (Liputan6.com/Trieyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓