Soal Disiplin Pakai Masker, Dokter: Memang Tak Nyaman, Tapi Semua Berkorban Supaya Ada Perbaikan

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 09 Okt 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 09 Okt 2020, 06:00 WIB
FOTO: Hari Batik Nasional di Tengah Pandemi COVID-19
Perbesar
Seorang wanita yang mengenakan masker batik (kiri) berjalan di kawasan Thamrin Sudirman, Jakarta, Jumat (2/10/2020). Pada Hari Batik Nasional yang berlangsung di tengah pandemi COVID-19, sebagian masyarakat terlihat mengenakan baju dan masker dengan motif batik. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta Pemakaian masker menjadi salah satu cara yang dianggap dapat mencegah penularan COVID-19 antar orang ke orang. Namun, penggunaannya seringkali dikeluhkan karena membuat jadi lebih sulit bernapas.

Dewiyana Andari Kusmana, dokter spesialis paru, konsultan intensivist, dan gawat nafas mengakui bahwa memang hidung manusia diciptakan untuk bernapas, sehingga jauh lebih nyaman jika tidak memakai masker.

"Tapi, Anda coba bayangkan kalau Anda di posisi pasien COVID-19 yang kritis," kata Dewiyana dalam siaran dialog dari Graha BNPB, Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2020). "Jangankan pakai masker, tidak pakai masker saja napas saja tidak bisa."

Dalam pengalamannya menangani pasien COVID-19, Dewiyana mengatakan bahwa pasien yang sulit bernapas harus mendapatkan bantuan oksigen atau bronkoskopi untuk mengeluarkan dahak yang kental dan lengket.

"Sejauh ini pasiennya perbaikan, tetapi beratnya, seperti yang dilihat, Anda bayangkan seperti itu," kata dokter berpraktik di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto itu.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Berkorban Sesaat

FOTO: Protokol Kesehatan Calon Penumpang KRL Commuterline
Perbesar
Calon penumpang KRL Commuterline mengenakan masker saat di area pedestrian Stasiun Terpadu Tanah Abang, Jakarta, Kamis (27/8/2020). Guna menekan penyebaran Covid-19, aparat terkait terus menghimbau pentingnya menaati protokol kesehatan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Dewiyana juga meminta masyarakat untuk membayangkan apabila yang mengalami kondisi parah akibat COVID-19 adalah keluarga.

"Kadang-kadang (kalau diri sendiri), 'gak apalah nanti juga mati' bayangkan bagaimana kalau keluarga yang tertimpa. Bayangkan kalau anak --nauzubillah jangan sampai-- sedihnya seperti apa, berat, napas itu berat," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya juga melihat adanya kasus pasien bayi yang terkena COVID-19. "Sedih kalau melihatnya, dia menangis dalam ruang ICU sendirian, paling kita cuma bisa gendong-gendong, ibunya tidak bisa menemani."

"Jadi jangan bayangkan hanya untuk 'saya tidak enak, saya gerah, saya tidak nyaman' iya semua (juga seperti itu), tetapi semua berkorban. Dengan semua berkorban, dengan semua berusaha memakai masker, mudah-mudahan nanti semuanya akan perbaikan."

"Tetapi kalau Anda tidak mau berkorban, bagaimana pertanggung jawaban Anda di akhirat nanti," pungkasnya.

Dewiyana mengatakan bahwa tak masalah untuk berkorban sebentar saja. Menurutnya, menggunakan masker juga tidak harus dilakukan secara terus menerus seperti hanya saat di luar rumah saja.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan orang-orang untuk menggunakan masker dengan benar, tidak hanya sekadar "lambang" dan tidak menutupi hidung serta mulut. Menurutnya, cara memakai masker seperti ini sia-sia saja.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker
Perbesar
Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya