UNICEF: Informasi Dampak COVID-19 Pada Kesehatan Jiwa Perlu Disebarkan Secara Merata

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 07 Agu 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 21:00 WIB
Ilustrasi penggunaan internet
Perbesar
Kepraktisan internet membuat penggunanya jadi lebih mudah untuk mengakses segala informasi

Liputan6.com, Jakarta - Informasi terkait dampak COVID-19 terhadap kesehatan jiwa perlu disebarkan secara merata agar sampai kepada seluruh lapisan masyarakat. Menurut, Ali Aulia Ramly Spesialis Perlindungan Anak UNICEF, masih ada beberapa golongan masyarakat yang sulit mengakses informasi tersebut.

“Bantu masyarakat untuk memahami dampak COVID-19 terhadap kesehatan jiwa. Apa yang berubah pada diri mereka, bagaimana tekanan bisa muncul, dan memahami tindakan apa yang harus dilakukan untuk diri mereka, anak-anak mereka, dan anggota masyarakat lainnya,” kata Ali dalam webminar Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8/2020).

Ia menambahkan, telah banyak pesan tentang COVID-19 yang tersebar terutama di media sosial. Namun,  anggota masyarakat juga perlu memikirkan dan memberikan pesan untuk orang-orang yang tidak memiliki akses internet, tidak memiliki akun media sosial, tidak bisa membayar kuota, dan orang-orang yang tidak dapat membaca.

“Masih ada orang lanjut usia yang tidak bisa membaca dan pesan-pesan audio melalui radio juga akan penting.”

2 dari 3 halaman

Untuk Penyandang Disabilitas

Golongan lain yang rentan kesulitan mengakses informasi terkait COVID-19 adalah masyarakat penyandang disabilitas. Ali mengimbau agar pesan-pesan COVID-19 bisa sampai kepada orang-orang dengan beragam disabilitas.

“Pastikan bahwa pesan-pesan ini juga bisa sampai kepada orang-orang dengan disabilitas yang tidak bisa melihat atau memiliki persoalan dengan hambatan penglihatan, hambatan pendengaran. Kita kembangkan pesan-pesan yang bisa dijangkau oleh mereka misalnya melalui percetakan braille dan sebagainya.”

Hal yang tak kalah penting, tambahnya, adalah memastikan layanan dukungan kesehatan jiwa, layanan penanganan kekerasan dan eksploitasi tetap tersedia.

“Layanan di puskesmas juga harus bisa mengidentifikasi kalau ada gejala kekerasan. Di Indonesia sudah ada pusat kesejahteraan anak integratif dari Kemensos yang juga biasa menangani anak atau remaja yang mengalami kekerasan.”

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓