Sebut Musim Tak Berpengaruh, WHO: COVID-19 adalah Satu Gelombang Besar

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 30 Jul 2020, 10:00 WIB
Diperbarui 30 Jul 2020, 10:00 WIB
Covid-19 di Hong Kong Mulai Tak Terkendali
Perbesar
Seorang pria yang mengenakan masker duduk berjemur di sebuah taman di Hong Kong, Rabu (22/7/2020). Hong Kong menghadapi "tahap kritis" dalam perjuangannya melawan COVID-19, dan pemerintah sedang memperpanjang langkah-langkah baru untuk menjaga jarak sosial. (AP Photo/Kin Cheung)

Liputan6.com, Jakarta World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa penularan virus corona penyebab COVID-19 tampaknya tidak dipengaruhi oleh musim.

"Orang-orang berpikir ini soal musim. Yang perlu kita ketahui di luar pemikiran kita adalah virus ini baru dan bersifat berbeda," kata Juru bicara WHO Margaret Harris dalam sebuah konferensi pers virtual, dikutip dari Huffington Post.

Ia menambahkan, yang mempengaruhi transmisi COVID-19 adalah pertemuan orang-orang dan kerumunan.

"Orang-orang datang bersamaan, dan orang-orang tidak menjaga jarak sosial, tidak mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan mereka tidak berada dalam kontak dekat," kata Harris seperti dikutip dari laman UN News pada Kamis (30/7/2020).

Harris mengatakan memang ada pemikiran yang menyatakan kemungkinan virus ini bersifat musiman.

"Namun, ada wabah besar yang paling intens, jumlah tertinggi terjadi di Amerika Serikat yang tengah berada di musim panas dan juga Brasil, mereka adalah negara khatulistiwa," ujarnya seperti dikutip dari video yang diunggah di akun Twitter UN Geneva.

 

2 dari 3 halaman

COVID-19 Merupakan Satu Gelombang Besar

FOTO: Infeksi COVID-19 di India Tembus 1 Juta Kasus
Perbesar
Seorang pria dengan gejala COVID-19 melakukan perjalanan dengan ambulans menuju Rumah Sakit Pemerintah Gandhi di Hyderabad, India, Jumat (17/7/2020). India melewati 1 juta kasus virus corona COVID-19 atau tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. (AP Photo/Mahesh Kumar A.)

Sementara itu, di negara-negara belahan Bumi selatan, Harris mengatakan bahwa musim dingin sedang berlangsung dan tingkat infeksi COVID-19 terhitung tinggi meski jejak influenza rendah. Ia memperkirakan, musim flu akan tiba lebih lambat dari biasanya.

"Jika Anda memiliki peningkatan penyakit pernapasan saat Anda sudah memiliki beban penyakit pernapasan yang sangat tinggi, itu bahkan memberi beban yang lebih besar pada sistem kesehatan," ujarnya.

Harris juga menilai bahwa COVID-19 kemungkinan tidak menyerang dalam beberapa gelombang.

"Ini akan menjadi satu gelombang besar," ujarnya. "Ini akan naik dan turun sedikit, yang terbaik adalah meratakannya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyentuh kaki Anda."

"Namun pada saat ini, gelombang pertama, kedua, ketiga, hal-hal ini tidak masuk akal dan kami tidak benar-benar mendefinisikannya seperti itu."

WHO pun meminta agar semua negara meningkatkan pengujian dengan luas dan mudah diakses. Menurutnya, hal ini penting untuk mengetahui di mana wabah terjadi.

3 dari 3 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓