Kecerdasan Buatan Bisa Digunakan untuk Deteksi Pneumonia Akibat COVID-19

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 18 Jul 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 18 Jul 2020, 13:00 WIB
Fungsi Paru-paru
Perbesar
Fungsi Paru-paru (Sumber: iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bisa digunakan untuk membantu mendeteksi pneumonia yang terkait dengan COVID-19.

Chief Investigator dalam tim penelitian bertajuk The FIGHT COVID-19 Study: A National Initiative to Fight COVID-19 Eric Daniel Tenda mengatakan, pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) memiliki keterbatasan dari sisi sensitivitas.

"Ini juga sangat dipengaruhi oleh jumlah viral load yang dimiliki oleh pasien, apabila viral load tidak begitu tinggi maka akan sulit mendeteksi adanya COVID-19 pada pasien terduga COVID-19," kata Eric dalam seminar daring yang diadakan secara virtual pada Jumat (17/7/2020).

"Modalitas tambahan seperti foto rontgen juga CT scan, yang memiliki sensitivitas lebih tinggi daripada foto rontgen, akan menjadi bantuan besar terutama bagi dokter, bagi rumah sakit, untuk membantu proses pelayanan, menegakkan diagnosis terutama bagi pasien dalam menerima terapi yang sesuai dengan indikasi perawatan," ujarnya.

Eric mengatakan, karena jumlah pasien yang meningkat dan terbatasnya sarana pemeriksaan membuat metode RT-PCR menjadi lebih lama.

"Maka tentu clinical, imaging, dan lab testing menjadi suatu jawaban dari permasalahan yang saat ini dialami oleh banyak rumah sakit, banyak petugas atau praktisi kesehatan dalam membantu menatalaksana pasien COVID-19," ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Kembangkan Program untuk Deteksi Pneumonia COVID-19

Penyebab Paru paru Basah
Perbesar
Ilustrasi paru-paru / Sumber: iStockphoto.com

Eric beserta timnya juga baru saja melakukan studi untuk mengembangkan program untuk mendeteksi COVID-19 dengan kecerdasan buatan melalui gambaran X-ray yang disebut The FIGHT COVID-19 Study.

Eric mengatakan, program ini dapat menurunkan beban kerja bagi para tenaga kesehatan dan petugas laboratorium dalam melakukan pemeriksaan RT-PCR, serta membantu proses pelayanan khususnya di RS rujukan, dan membantu layanan yang tidak memiliki banyak sumber daya karena software-nya yang bisa tersedia secara offline.

Eric menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan studi pertama di Indonesia terhadap penggunaan kecerdasan buatan yang berdasarkan machine learning. Ia menambahkan, studi ini bisa digunakan untuk assessment dalam triase pada proses pelayanan pasien saat dia pertama kali diterima di RS dan bisa digunakan untuk deteksi dini.

Dalam penjelasannya, program yang mereka kembangkan akan mendeteksi COVID-19 berdasarkan foto rontgen paru dengan melakukan analisis tekstur untuk melihat dan menentukan lesi

"Kita mesti melakukan image normalization berdasarkan foto rontgennya, di mana secara otomatis software ini akan melakukan segmentasi dari gambaran foto rontgen yang sudah ada kemudian akan dilakukan texture analysis melihat dengan lesi berdasarkan color heat map untuk menentukan dimana ada lesi tersebut."

Program nantinya akan melakukan kuantifikasi dalam bentuk presentasi di mana area yang sesuai dengan gambaran COVID-19 bisa terlihat.

Studi ini sendiri melibatkan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Universitas Indonesia, serta Delft Imaging Belanda.

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓