RSPAD: Dua Bulan Pertama Kami Sering Dapat Pasien COVID-19 Komplikasi Berat

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 02 Jul 2020, 15:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2020, 15:00 WIB
Pedagang Pasar Jalani Tes Swab
Perbesar
Petugas Puskesmas Kecamatan Gambir mengambil sampel lendir saat tes usap (Swab Test) COVID 19 di kawasan jalan Juanda, Jakarta, Selasa (16/6/2020). Tes Swab untuk mencari warga positif Covid-19 tanpa gejala ini menyasar petugas PPSU dan para pedagang Pasar Ceylon. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Pihak Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto mengungkapkan bahwa di bulan-bulan awal kemunculan COVID-19, mereka sempat kewalahan menangani pasien.

Hal ini disampaikan oleh Dokter Soroy Lardo, Kepala Divisi Penyakit Tropik Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Soebroto dalam konferensi pers dari Graha BNPB, Jakarta pada Kamis (2/7/2020).

"Kalau kita lihat dari awal perjalanan penyakit ini kami melayani hingga sekarang ini 560 pasien di RSPAD Gatot Soebroto, dua bulan pertama itu kami kurang tidur karena mendapatkan pasien-pasien dengan komplikasi berat," kata Soroy.

Seiring berjalannya waktu, Soroy mengatakan bahwa pasien yang mereka terima saat ini lebih banyak mengalami gejala tidak berat namun memiliki komorbid atau kondisi kesehatan bawaan seperti ibu yang mau melahirkan namun positif COVID-19 atau orang dengan pasien cuci darah yang dinyatakan positif virus corona.

"Dari dua konteks ini kami melihat, kalau dulu pasien itu sembuh tentunya ada perjalanan penyembuhan dari kondisi berat kemudian kondisi dia bisa kita kelola dengan baik dan kondisi rawat jalan," kata Soroy.

2 dari 3 halaman

Durasi Perawatan

rspad thumbnail
Perbesar
rspad thumbnail

Soroy mengungkapkan, pasien COVID-19 bisa dinyatakan sembuh usai mendapatkan dua kali hasil negatif virus corona berdasarkan pemeriksaan swab.

"Perubahan klinis, dia bisa melakukan suatu adaptasi, nanti hasil swab-nya dua kali negatif dan dia sudah bisa mandiri, itu baru kita katakan sebagai pasien yang sembuh," ujarnya.

Dia menambahkan, durasi perawatan setiap pasien bisa berbeda-beda. "Kalau pasien itu dengan komorbid tentu akan lama. Bisa perawatan itu dua sampai tiga minggu. Tapi kalau tanpa komorbid itu biasanya kita evaluasi itu sampai dua minggu."

Soroy mengatakan, saat ini virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 masih diteliti. Sehingga, terkait apakah adanya infeksi ulang mungkin saja bisa terjadi.

"Yang penting sebenarnya dengan meningkatnya kasus-kasus OTG, atau tanpa gejala tapi positif COVID-19, konteks yang harus kita kembangkan adalah yang disebut dengan perilaku hidup bersih dan sehat, konsep kewaspadaan tinggi," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓