Jabar Optimis Capai Target 454 Ribu Akseptor KB

Oleh Arie Nugraha pada 01 Jul 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 01 Jul 2020, 21:00 WIB
Alat kontrasepsi (iStock)
Perbesar
Berbagai metode kontrasepsi atau KB (iStockphoto)

Liputan6.com, Bandung Ketua TP PKK Jawa Barat (Jabar) Atalia Praratya mengapresiasi program Sejuta Akseptor yang dicanangkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Istri Gurbernur Jabar Ridwan Kamil ini optimis target 454.226 ribu akseptor di Jabar tercapai karena didukung tenaga kesehatan dan fasilitas yang memadai.

Atalia mengatakan, tingkat kehamilan di Jabar selama pandemi COVID-19 terjadi meningkat karena akses ke fasilitas kesehatan terbatas. Sehingga tidak bisa mendapatkan layanan KB

Namun, Atalia memperkirakan, kondisi tersebut akan kembali normal jika didukung dengan keaktifan jejaring di seluruh Jabar. Selain itu, Atalia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membatasi angka kelahiran agar Jabar memiliki keluarga dan generasi yang berkualitas.

"Yang paling penting adalah fungsi dari keluarga ini harus betul-betul terasa. Dan upaya dari pemerintah bagaimana untuk membatasi kelahiran itu adalah untuk kebaikan masyarakat juga agar menjadi keluarga yang berkualitas," ujar Atalia dalam rilis yang diterima Rabu (1/7/2020).

 

2 dari 2 halaman

Didukung 84 Ribu Tenaga Medis

Kepala BKKBN Jabar Kusmana mengatakan, pelayanan Sejuta Akseptor digelar untuk menekan jumlah angka kehamilan yang tidak direncanakan, terutama selama masa pandemi.

Salah satu program untuk mencapai target dengan pelayanan KB gratis. Layanan ini dimulai sejak akhir Juni 2020 di seluruh Jabar dengan dukungan 84 ribu tenaga medis.

"Di Jawa Barat ada 454 ribu targetnya. Satu minggu ini kita gerakkan karena kita untuk menghindari jangan sampai terjadi kerumunan sesuai dengan protokol kesehatan. Karena itu, ada ruang waktu dan hari ini dilaporkan secara plan dan online serentak dilaksanakan di seluruh Jawa Barat dengan 84 ribu tenaga medis," jelas Kusmana. 

Lewat penggunaan KB, masyarakat jadi bisa merencanakan keluarga. Sehingga, keluarga pun bahagia. 

"Masyarakat perlu menghindari kehamilan yang tidak direncakanakan. Sebab, kehamilan terencana penting dilakukan agar keluarga bahagia dan berkualitas. Karena kehamilan yang tidak direncanakan adalah suatu peristiwa yang tidak boleh terjadi," ucap Kusmana

Kehamilan harus direncanakan dengan baik agar ibu dan anaknya sehat. Selain itu, kata Kusmana, suami sebagai kepala rumah tangga harus bahagia dan keluarganya menjadi berkualitas.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait