Ahli Sebut Rapid Test dan PSBB Tak Efektif, Lalu Apa yang Bisa Dilakukan Kini?

Oleh Fitri Syarifah pada 02 Jul 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2020, 07:00 WIB
Mulai 1 Juli, Penggunaan Kantong Plastik  Dilarang di Jakarta
Perbesar
Warga membawa barang belanjaan dengan menggunakan kantong plastik di Kawasan Pasar Jatinegara, Jakarta, Selasa (30/6/2020). Mulai 1 Juli 2020 penggunaan kantong plastik sekali pakai dilarang di mal, toko swalayan, dan pasar tradisional di DKI Jakarta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Usaha pemerintah untuk mengantisipasi penularan COVID-19 hingga kini dinilai belum efektif walaupun rapid test terus dilakukan. Setiap hari, penambahan kasus positif masih terus terjadi. Begitu pun dengan semakin menyebarnya Orang dengan Pemantauan (ODP) dan Pasien dalam Pengawasan (PDP) yang terus diawasi.

Pemerintah juga telah mengizinkan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau disebut juga masa transisi. Namun nyatanya, mengubah perilaku masyarakat untuk tetap menjaga jarak (social distancing) ketika di luar rumah masih kerap dilanggar.

Ahli epidemiologi dan biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Pandu Riono mengatakan pengalaman di wuhan, bahwa 80 persen kasus COVID-19 itu memang tidak bergejala.

"Yang masuk ke perawatan rumah sakit itu tinggal 34 persen, yang 11 persen itu adalah yang mengalami kasus ringan dan tidak perlu perawatan. Ya, jadi sebenarnya fokus penanggulangan pandemi ini bukan di pengobatan. Pandemi ini public healthissue. Tetapi yang mendapat perawatan, kita harus usahakan supaya tidak terjadi kematian. Jadi kita punya dua tugas utama, menekan penularan dan menekan kematian," ujar Pandu dalam Diskusi Publik Polemik Beragamnya Klaim Temuan Obat dan Jamu Herbal Penangkal Covid19 yang ditengahi oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), ditulis Rabu (1 Juli 2020).

 

 

2 dari 2 halaman

PSBB tidak efektif

ilustrasi memakai masker medis
Perbesar
ilustrasi memakai masker medis (sumber: iStockphoto)

Menurut Pandu, respons pandemi yang dilakukan pemerintah yakni PSBB tidak efektif. "Ini kan pembatasan sosial berkala besar ini sebenarnya sama seperti lockdown, tapi bahasa Indonesianya adalah PSBB. Jadi pilihannya sekarang sudah dicabut, sudah dilonggarkan jadi kita harus memperkuat surveilans bersamaan sebenarnya yaitu melakukan tes, lacak dan isolasi."

Kenapa PSBB tidak efektif? "Karena melupakan unsur masyarakat. Masyarakat disuruh patuh tinggal di rumah, ternyata tidak bisa tinggal di rumah. Hanya 50 persen yang patuh tinggal di rumah, separuhnya tidak patuh sehingga terjadilah penularan yg terus menerus terjadi," katanya.

"Makanya sekarang, pilihannya penduduk kalau sudah dibiarkan keluar, dia harus mengurangi risiko. Caranya gimana? Saya membuat istilah namanya 3 M, Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan. nah,ini adalah satu vaksin yg kita punya," ujarnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Pandu, jangan terlalu berharap dengan vaksin karena menemukan vaksin itu sangat sulit dan butuh waktu lama.

Lanjutkan Membaca ↓