Kepala BKKBN Hasto Beri Tips Ajarkan Kesehatan Reproduksi di Sekolah

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 30 Jun 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 30 Jun 2020, 21:00 WIB
Vagina - Alat Reproduksi wanita (iStockphoto)
Perbesar
Kepala BKKBN Hasto memberikan tips mengajarkan kesehatan reproduksi di sekolah. (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Guru olahraga dapat mengajarkan kesehatan reproduksi di sekolah. Sehingga, anak bisa mengenal kesehatan reproduksi seperti disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hasto Wardoyo.

"Contohnya begini, guru olahraga dan penjaskes itu bisa lho diajak mengenali ukuran testis yang normal seperti apa. Modelnya bisa menggunakan kerikil atau batu batu, tapi dibikin berbagai ukuran," jelas Hasto saat sesi webinar, ditulis Selasa (30/6/2020).

"Dokter ahli andrologi di ruang praktiknya punya semacam batu lempeng yang ukurannya kecil dan besar-besar."

Model pengenalan kesehatan reproduksi menggunakan batu dan kerikil juga bisa diraba-raba, sehingga bisa dimengerti, normal atau tidak sebagaimana kondisi yang dialami.

"Bisa diraba juga model bentuk batu dengan berbagai ukuran. Cara ini juga bisa digunakan bagi orangtua untuk mengecek tentang anak laki-lakinya punya alat kemaluan normal atau enggak," lanjut Hasto.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Penjelasan Lewat Animasi Dokumenter

Vagina Alat Kelamin Perempuan
Perbesar
Penjelasan lewat animasi soal kesehatan reproduksi. Ilustrasi Foto Vagina (iStockphoto)

Hasto menambahkan pengenalan kesehatan reproduksi bisa menggunakan film dokumenter.

"Sekarang sudah banyak model. Misalnya, kita ingin menjelaskan tentang, kenapa kalau anak perempuan umur 8 tahun sudah menstruasi itu berbahaya. Kan kita bisa dengan model animasi indung telur dan siklus menstruasi," tambahnya.

"Dijelaskan secara singkat tentang masalah, bukan menjelaskan dan menampakan alat kemaluan. Tidak begitu. Tapi ini membangun logika."

Bisa juga menjelaskan mengenai menstruasi pada anak perempuan. Ketika anak delapan tahun sudah menstruasi, tulangnya tidak tumbuh menjadi panjang. Saat sudah dewasa kelak, tulang menjadi kurang bagus karena tulang mudah keropos.

"Saya kira ini menjelaskan tulang keropos dengan kaitannya dengan kadar hormon juga. Banyak animasi-animasi yang bisa di disampaikan dan dibacakan dengan mudah," lanjut Hasto yang berlatarbelakang dokter obstetri dan ginekologi.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓